Awalbarri’s Blog

khawarij

KHAWARIJ

Khawarij adalah aliran ilmu kalam (teologi) yang pertama kali muncul dalam islam. Ia lahir pada awal-awal pemerintahan Ali bin Abi Thalib (656-661), khalifah keempat dari al-Khulafaurrasyidin, sebagai salah satu epilog dari perang Shiffin antara Ali dan Mua’wiyah. Perang Shiffin ini berakhir dengan suatu arbitrase (tahkim), sebagai jalan yang harus ditempuh untuk menyelesaikan sengketa khilafah antara dua belah pihak. Sebagai pengikut Ali mereka tidak setuju dengan arbitrase ini, mereka berprinsip bahwa persengketaan dalam islam hanya bisa diselesaikan dengan hukum Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah ayat 44 :

Artinya : “Siapa yang memutuskan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”
Inilah jalan fikiran mereka kemudian dicetuskan dalam bentuk semboyan “Tidak ada hukum kecuali dari Allah”. Semboyan ini sangat dapat menjalar di antara mereka yang menyetujui sikap ini dan diterima dengan penuh semangat oleh daerah-daerah dan akhirnya menjadi simbol bagi aliran ini.
Nama Khawarij berasal dari kata “Kharaja” yang berarti keluar, disebut demikian karena mereka kaluar dari barisan Ali. Menurut versi lain nama Khawarij adalah pemberian dari pihak luar yang berkonotasi negatif karena mereka meninggalkan pemimpin (Khalifah yang sah).
Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa nama Khawarij itu didasarkan atas ayat an-Nisa ayat 100 yang terdapat dalam kalimat :

Artinya : “barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya.”
Versi ini berkonotasi positif, karena mereka memandang diri mereka sebagai orang yang keluar meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
Nama lain dari Khawarij adalah Asy-surrah yang berasal dari kata “Yasr” yang berarti menjual seperti terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 207 :

Artinya : “Ada manusia yang menjual dirinya untuk memperoleh keridhoan Allah.”
Selain yang diatas ada nama lain yang diberikan kepada mereka ialah “Hurairah” dari kata Harura, suatu dosa yang terletak di dekat kota Khufah, Irak, yang mereka jadikan sebagai kamp konsentrasi untuk menyusun kekuatan yang ada padsa waktu itu berjumlaj dua belad ribu orang setelah memisahkan dari Ali. Disini mereka mamilih Abdullah ibn wanb al-Rasidi Imam mereka, sebagai ganti dari Ali bin abi thalib. Dalam pertempuran dengan kekuatan Ali mereka mengalami kekalahan, tetapi akhirnya seorang Khawarij bernama Abd al-Rahman ibn Muljam dapat membunuh Ali.
Sungguhpun telah mengalami kekalahan, kaum Khawarij menyusun barisan kembali dan meneruskan perlawanan terhadap kekuasaan Islam resmi baik di zaman Dinasti Bani Umayyah maupun Abbasiyah. Penguasa-Penguasa waktu itu untuk mereka anggap telah menyeleweng dari Islam dan harus dijatuhkan.
Seperti yang telah dikemukakan diatas, kekecewaan yang mendalam terhadap peristiwa arbitrase itu telah membentuk pola pikir mereka, tetapi peristiwa itu bukanlah salah satu penyebab mereka keluar mengingat telah terjadi beberapa peristiwa besar dengan terjadinya skisme dikalangan kaum muslimin ketika itu. Dilatarbelakangi lagi bahwa mereka keluar dari golongan Ali mayoritas suku-suku Badui dengan segala ciri khas pola hidup dan sikap pemikirinnya. Dilatarbelakangi mereka yang keras pada akhirnya telah membuat mereka menjadi kelompok yang radikal, keras dan tanpa kompromi.
1. Pemikiran Khawarij
a. Tentang Khilafah
Pembentukan lembagan Khilafah (pemerintahan) menurut Khawarij bukanlah merupakan suatu keharusan atau wajib. Hal ini tergantung kepada kehendak ummat apakah suatu pemerintahan perlu dibentuk atau tidak.
Semua sekte khawarij mempunyai persamaan pendapat tentang adanya keharusan membentuk pemerintahan. Bahkan salah seorang pemuka Khawarij dari sekte Al-Nadjat : Najdah bin Amr al-Hanafi berpendapat bahwa imam atau kepala negara itu tidak perlu sama sekali.
Semua orang harus mengerjakan perintah-perintah Allah tanpa adanya Imam.
Yang dituntut dari ummat untuk mengatur kehidupan mereka adalah adanya kesadaran individu terhadap hak dan kewajiban mereka masing-masing. Konsep ini terasa sangat idealis dan sangat sulit diaplikasikan dalam komunitas masyarakat itu sendiri.
Pemikiran Khawarij yang cemerlang yang bercorak demokratis adalah mengenai masalah siapa yang berhak menjadi Khalifah. Dorongan ini berpendapat bahwa Khalifah atau Imam tidak harus orang Quraisy atau keturunan Rasulullah. Siapapun apakah ia Quraisy atau bukan, orang arab atau bukan, boleh menjadi khalifah selama ia mempunyai kemampuan untuk memegangh jabatan itu. Bahkan pada perkembangan selanjutnya (telah banyak orang-orang non arab bergabung), seorang khalifah tidak selamnya orang arab yang merdeka. Seorang laki-laki muslim yang mampu berbuat adil dan terpilih serta memenuhi syarat menjadi imam adalah boleh menjadi khalifah, tidak perduli apah ia budak atau merdeka. Bahkan mereka mengutamakan orang non Quraisy agar kebih mudah menurunkannya dan membunuhnya bila ia menyimpang dri syari’at dan kebenaran, sebab tidak ada ashabiyat yang melindungi atau membelanya.
Mengenai kualifikasi bagi seseorang untuk menduduki jabatan khalifah selain syarat diatas, seorang calon harus punya kekuatan dan wara’. Sedangkan mekanisme pemilihannya diserahkan sepenuhnya kapada kaum muslimin. Yang penting ia dipilih secara bebas dan benar oleh seluruh kaum muslimin. Kedaulatan benar-benar ditangan rakyat. Rakyatlah yang menentukan apakah perlu dibentuk pemereintahan atau tidak, apakah seorang calon khalifah layak atau tidak untuk memerintah, semua tergantung suara rakyat. Meskipun demokrat tetapi dalam politik praktis paham ini sangat radikal.
Mereka menentukan masa jabatan khalifah. Selama ia tidak melanggar syari’at islam ia boleh memangku jabatnnya seumur hidup, tetapi bila ia menyimpang dan zalim maka ia wajib dimakzulkan atau dibunuh.
Asas demokrasi sangatlah dijunjung tinggi tanpa harus membedakan ras dan keturunan, tetapi harus memenuhi syarat yang sangat ketat yaitu seorang muslim (dari kalangan mereka sendiri) yang taat walaupun bekas seorang hamba, berkenaan dengan persoalan ini, kaum Khawarij menetapkan bahwa Abu Bakar dan Umar ibn al-Khattab adalag khalifah yang yang diakui keabsahannya kerana mereka sesuai dengan semangat ajaran Islam. Sedangkan Utsman bin affan dan Ali bin Abi Thalib dianggap telah menyeleweng dari ajaran Islam, oleh karena itu keduanya dikatakan telah kafir.
b. tentang kafir
Kontek pengkafiran seseorang atau golongan ummat oleh kalangan khawarij disebabkan oleh beberapa tindakan yaitu :
1. menetapkan hukum yang tidak sesuai dengan firman Allah, sebagaimana yang mereka pahami dalam semboyan mereka “la hukma illa lillah” seperti pada kasus artbitrase antara kelompok Ali dengan Muawiyah.
2. Orang atau golongan yang telah menyimpang dari ajaran Islam (versi khawarij). Oleh karena itu dalam beragama seseorang yang menyatakan muslim harusn konsisten salam melaksanakan ajaran islam yang sesungguhnya.
3. seorang muslim yang melakukan dosa besar, dosa dalam pandangan mereka sama dengan kekufuran. Tidak hanya itu mereke mengkafirkan umat Islam secara keseluruhan karena tidek suci dari dosa-dosa, bahkan tidahk hanya sahabat nabi saw, (yang dianggap kafir) sebagai orang-orang mukmin saja, tetapi sebagai imam-imam mereka, serta menetapkan hukum-hukum syari’at dengan hadits yang diriwayatkan dari orang-orang itu.
4. golongan yang tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, hanya golongan merekalah yang muslim (terutama golongan al-Azriqah).
Dalam masalah dosa besar ini tidak semua golongan khawarij sependapat, pengkafiran hanya terjadi pada perbuatan yang tidak disebut sanksinya secara khusus. Kalau hanya ada dalam nash maka pelakunya tidak disebut kafir.
Golongan al-Muhakkmah berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, sehingga orang yang berzinahpun bukan lagi orang islam tapi kafir. Menurut golongan Azariqah labih keras lagi, term kafir mereka robah dengan term musyrik. Dosa syirik lebih besar dari dosa kafir. Sedangkan menurut golongan Najdah sedikit lebih moderat, yaitu bukan musyrik matau kafir, tetapi hanya dosa kecil, dalam paham mereka apabila dikerjakan terusm menerus akan membuat pelakunya menjadi musyrik.
Golongan Sugriah membagi dosa menjadi dua bagian yaitu dosa yang ada hukumannya seperti zina, maka tidak mmenjadikan kafir demikian hal yang sebaliknya.
Golongan ibadah adalah golongan paling moderat. Mereka tidak memandang musyrik golongan lain, tetapi tidak juga mukmin. Mereka adalah kafir yang masih mengesakan Tuhan. Dosa besar tidak membuat orang menjai musyrik, ia hanya kafir. Mereka membagi golongan kafir kedalam dua bagian :
1. kafir al-Ni’mah yaitu orang yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Tuhan.
2. kafir al-Millah yaitu orang yang keluar dari agama.
c. Sikap terhadap orang kafir
Sebagaimana disebutkan diatas, faham khawarij berpendapat bahwa orang islam selain golongan mereka adalah kafir dan boleh dibunuh. Oleh karena itu sepanjang sejarah khawarij, telah terjadi beberapa pertempuran melawan kekuatan manapun. Bahkan golonganal-Azariqah berpendapat bahwa hanya orang yang tidak sepaham bahkan anak istrinya boleh ditawan atau dibunuh.
d. tentang konsep islam
Kaum khawarij berpendapat bahwa tindakan yang diperintahkan oleh agama seperti shalat, puasa, sedekah, jihat, berlaku adil adalah termasuk rukun iman.
Iman menurut mereka tidak hanya sekedar percaya saja, maka barang siapa yang berkeyakinan bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah tetapi tidak diikuti dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama dan ia mengerjakan dosa besar maka dia adalah kafir.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: