Awalbarri’s Blog

Februari 26, 2009

pengembangan-potensi-agribisnis-dalam-upaya-pemberdayaan-ekonomi-pondok-pesantren

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 6:43 am

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang agribisnis pesantren di Kabupaten Bangkalan, yang terdiri dari persepsi masyarakat terhadap pengembangan agribisnis pesantren, model pengembangan agribisnis pesantren dan kelayakan usaha agribisnis pesantren. Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren An-Nafi’iyah yang berada di Desa Kampak Kecamatan geger Kabupaten Bangkalan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan pondok pesantren yang telah merintis usaha produktif di bidang agribisnis sejak lama. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode snow ball sampling. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini terdiri dari tiga alur, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan pengambilan kesimpulan atau verifikasi. Untuk menjelaskan kelayakan usaha secara ekonomi digunakan analisis usahatani yang terdiri dari analisis NP, BEP, ROI dan B/C rasio.
Peran pondok pesantren yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial di pedesaan menjadikan pondok pesantren memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan ekonomi umat Islam di daerah pedesaan. Kepemimpinan kiai yang masih menjadi teladan dan panutan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu faktor pendorong masyarakat untuk mengikuti usaha agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren. Selain sebagai unit produktif yang menghasilkan pemasukan bagi pondok pesantren, agribisnis pesantren dapat menjadi sarana pendidikan bagi santri. Tingginya persaingan di pasar tenaga kerja telah menyebabkan semakin meningkatnya angka pengangguran. Salah satu usaha untuk mengurangi angka pengangguran adalah dengan mengembangkan budaya kewirausahaan di kalangan santri. Agribisnis pesantren akan dapat memberikan pendidikan dan pelatihan baik dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan maupun dalam bidang teknis produksi.
Usaha agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren An-Nafi’iyah telah layak untuk diusahakan baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Usaha pembibitan kambing memberikan angka B/C rasio sebesar 1,37 sedangkan untuk usaha penggemukan kambing memiliki B/C rasio sebesar 1,53. selain usaha peternakan tersebut, ponsok pesantren An-Nafi’iyah mempunyai usaha pembuatan tahu. Usaha ini juga telah memenuhi kelayakan ekonomi dengan B/C rasio sebesar 1,11.
Kata kunci : agribisnis, pondok pesantren, kelayakan usaha

Pendahuluan
Pesantren merupakan lembaga keagamaan yang sangat mengakar di masyarakat. Sebagai lembaga yang telah mengakar dan telah menjadi bagian sosiokultural masyarakat, pesantren memiliki peluang sebagai salah satu penggerak ekonomi. Sebagian besar pesantren berada di daerah pedesaan sehingga potensi pertanian menjadi salah satu alternatif kegiatan pemberdayaan ekonomi pesantren. Konsep pengembangan pertanian yang dilakukan di pesantren sudah seharusnya menggunakan pendekatan agribisnis. Sebagai suatu sistem, agribisnis akan memberikan nilai tambah melalui kegiatan-kegiatan subsistem yang ada di dalamnya.
Madura memiliki pondok pesantren dengan jumlah yang besar dan tersebar hingga pelosok pedesaan. Jumlah yang cukup banyak tersebut memberikan suatu potensi yang sangat menjanjikan apabila dikembangkan nantinya. Pengembangan agribisnis pesantren haruslah sesuai dengan sosiokultural masyarakat setempat.
Agribisnis pesantren telah banyak dikembangkan oleh beberapa pondok pesantren modern. Bahkan, Departemen Pertanian telah memiliki program pengembangan agribisnis pada kelembagaan yang mengakar pada masyarakat, salah satunya adalah lembaga agama. Lembaga tradisional yang telah lama ada dapat dijadikan sebagai motor penggerak dalam upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat utamanya masyarakat pedesaan.
Banyak pendapat tentang batasan dan ruang lingkup agribisnis, tergantung pada unit dan tujuan analisis. Secara tradisional, oleh Biere (1988) agribisnis diartikan sebagai aktivitas-aktivitas di luar pintu gerbang usahatani (beyond the farm gate, off-farm) yang meliputi kegiatan industri dan perdagangan sarana produksi usahatani, kegiatan industri yang mengolah produk pertanian primer menjadi produk olahan beserta perdagangannya, dan kegiatan yang menyediakan jasa yang dibutuhkan seperti misalnya perbankan, angkutan, asuransi atau penyimpanan.
Adanya perubahan-perubahan dalam struktur produksi pertanian dan semakin meningkatnya kebutuhan koordinasi baik secara horizontal maupun vertikal dalam sektor agribisnis dipandang perlu untuk memperluas definisi tradisional di atas. Definis yang lebih lengkap mengenai agribisnis diberikan oleh pencetus awal istilah agribisnis yaitu Davis dan Goldberg (1957) sebagai berikut: “Agribusiness is the sum total of all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies; production activities on the farm; and storage, processing and distribution of commodities and items made from them“. Definisi inilah yang sekarang sering digunakan dalam literatur manajemen agribisnis (Sonka dan Hudson 1989).
Agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem hulu, usahatani, hilir, dan penunjang. Menurut Saragih dalam Pasaribu (1999), batasan agribisnis adalah sistem yang utuh dan saling terkait di antara seluruh kegiatan ekonomi (yaitu subsistem agribisnis hulu, subsistem agribisnis budidaya, subsistem agribisnis hilir, susbistem jasa penunjang agribisnis) yang terkait langsung dengan pertanian.
Agribisnis diartikan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari unsur-unsur kegiatan : (1) pra-panen, (2) panen, (3) pasca-panen dan (4) pemasaran. Sebagai sebuah sistem, kegiatan agribisnis tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Terputusnya salah satu bagian akan menyebabkan timpangnya sistem tersebut. Sedangkan kegiatan agribisnis melingkupi sektor pertanian, termasuk perikanan dan kehutanan, serta bagian dari sektor industri. Sektor pertanian dan perpaduan antara kedua sektor inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional (Sumodiningrat, 2000).
Lembaga-lembaga keagamaan sebagaimana halnya lembaga kemasyarakatan lainnya merupakan lembaga potensial yang selama ini belum banyak terkait langsung dengan kegiatan pengembangan pertanian atau agribisnis di pedesaan. Pada kenyataannya lembaga keagamaan tersebut justru merupakan aset bangsa yang berharga dan strategis untuk menampilkan peran sebagai agen pembangunan yang potensial, khususnya pembangunan di bidang pertanian. Sebagai contoh, lembaga-lembaga Islam seperti pesantren dan masjid telah cukup banyak melakukan kegiatan bisnis, usaha koperasi dan pengembangan sosial ekonomi. Begitu pula di lingkungan lembaga Kristen dan Katolik telah berkembang kegiatan-kegiatan sosial ekonomi, pendidikan keterampilan bisnis dan sebagainya. Sedangkan di lingkungan agama Hindu dan Budha telah lama dikenal lembaga-lembaga ekonomi seperti subak, lembaga perkreditan desa, widya saba (pendidikan pertanian) dan sebagainya (Anonymous, 2001).
Hanani (2005), menyatakan bahwa lembaga keagamaan pedesaan memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan agribisnis pedesaaan, karena memiliki keunggulan-keunggulan seperti :
1. Potensi sumberdaya manusia dengan tokoh agama yang kharismatik dan merupakan panutan serta kepercayaan masyarakat setempat.
2. Potensi sumberdaya alam, terutama bagi lembaga-lembaga keagamaan yang memiliki lahan luas.
3. Potensi kelembagaan, terutama lembaga-lembaga keagamaan yang telah berdiri lama dan memiliki jumlah anggota yang besar dan tersebar dimana-mana.
4. Potensi pasar, mengingat adanya hubungan sosial dan kekerabatan antara lembaga keagamaan dengan masyarakat sekitarnya.
5. Potensi teknologi sebagai sarana dimana lembaga keagamaan merupakan lembaga strategis untuk mengembangkan teknologi.
Secara garis besar permasalahan yang coba diangkat dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah persepsi masyarakat terhadap pengembangan agribisnis pesantren di Bangkalan ?
2. Bagaimanakah model pengembangan agribisnis pesanten di Bangkalan ?
3. Bagaimanakah kelayakan ekonomi usaha agribisnis pesantren Bangkalan ?

Metode Penelitian
Untuk mengetahui gambaran model pengembangan agribisnis serta kelayakan usaha lokasi penelitian ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu di Pondok Pesantren An-Nafi’iyah Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan. Penentuan daerah penelitian ini didasarkan pada pertimbangan bahwa Pondok Pesantren An-Nafi’iyah merupakan salah satu pesantren yang merintis usaha agribisnis dan telah berjalan cukup lama.
Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan atau menggambarkan dengan kata-kata yang sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antara fenomena yang dihadapi. Peneliti dalam menganalisis data berpedoman pada pandangan Milles dan Huberman (1992), bahwa analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata yang biasanya disusun dalam teks yang diperluas. Analisis kualitatif terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan antara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Sedangkan untuk mengetahui kelayakan usaha agribisnis secara ekonomi dilakukan analisis usahatani. Menurut Soekartawi (1993), alat analisis usahatani yang digunakan untuk mengestimasi keberhasilan usahatani adalah sebagai berikut :
1. Analisis Keuntungan Bersih Usahatani (NP atau Net Profit), yaitu :
NP = Total Penerimaan (TR) – Total Biaya (TC)
= (Q . Pq) – (TFC+TVC)
di mana :
Q : Total produksi
Pq : Harga per satuan produk
TFC : Total Biaya Tetap
TVC : Total Biaya Variabel
2. Titik impas pulang modal (BEP atau break event point). BEP merupakan titik impas, yaitu kondisi usaha saat itu tidak mendapat keuntungan maupun kerugian:
BEP Volume Produksi = Total Biaya (TC) / Pq
BEP Harga Produksi = Total Biaya (TC) / Q
di mana :
Pq : Harga per satuan produk (Rp/kg)
Q : Total produksi (kg)
TC : Total Biaya (Rp)
2. Nilai efisiensi penggunaan modal (ROI atau return on investment). ROI dihitung untuk mengetahui keuntungan dari modal yang telah digunakan, yaitu:
ROI = Keuntungan (NP) / Modal (TC ) x 100%
2. Nilai kelayakan usahatani (B/C ratio atau benefit/cost ratio). B/C ratio merupakan angka perbandingan hasil penjualan dengan total biaya produksi, sekaligus menunjukkan tingkat efisiensi pendapatan suatu usahatani. Semakin besar B/C ratio (>1) maka semakin menguntungkan usahatani tersebut.
B/C ratio = Total Penerimaan (TR)/Total Biaya (TC)
= (Q.Pq) / (TFC+TVC)

Hasil dan Pembahasan
Pondok Pesantren An-Nafi’iyah berada di Desa Kampak Kecamatan Geger Kabupaten Bangkalan. Jarak dari ibu kota Kabupaten Bangkalan sekitar 22 kilometer. Pondok pesantren ini memiliki luas areal lahan 4 hektar yang berada pada ketinggian 200 meter diatas permukaan laut, suatu topografi yang cukup tinggi untuk ukuran Pulau Madura. Lokasi yang mendukung tersebut menjadikan Pondok Pesantren An-Nafi’iyah memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan usaha produktif terutama di bidang agribisnis.
Pondok pesantren An-Nafi’iyah mempunyai beberapa bidang usaha agribisnis, yaitu peternakan dan industri pengolahan hasil pertanian. Semua bidang usaha tersebut diusahakan dalam satu lokasi di areal pondok pesantren. Pertimbangan pemilihan lokasi lebih diutamakan pada ketersediaan lahan yang tidak produktif, sehingga perlu diambil langkah-langkah untuk memanfaatkan lahan tersebut. Selain itu pemilihan lokasi usaha di dalam areal pondok pesantren memberi keuntungan berupa kemudahan dalam pengelolaan serta membuka peluang bagi santri untuk terlibat langsung dalam hal teknis maupun manajemen usaha. Apabila ditinjau dari aspek biologis, pemilihan lokasi usaha yang berdekatan sangat menguntungkan. Limbah yang dihasilkan oleh masing-masing usaha dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai input produksi usaha lainnya.
Apabila ditinjau lebih jauh, pemilihan lokasi usaha yang relatif berdekatan dalam satu lokasi memberikan manfaat berupa pemanfaatan limbah produksi. Limbah produksi pada satu bidang usaha akan dapat dimanfaatkan sebagai input untuk produksi usaha lainnya. Sebagai contoh, limbah yang dihasilkan oleh produksi tahu merupakan salah satu input yang sangat penting dalam usaha ternak kambing. Ampas tahu memiliki kandungan protein yang tinggi. Pemberian ampas tahu merupakan salah satu strategi dalam menghadapi musim kemarau panjang yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan hijauan pakan ternak. Penggunaan ampas tahu juga dapat mengurangi biaya produksi terutama untuk pembelian pakan konsentrat.

Gambar 1. Hubungan antar usaha agribisnis di Ponpes An-Nafi’iyah

Lokasi yang berdekatan dengan pondok pesantren memberikan kemudahan bagi pengelola pondok pesantren untuk mengelola usaha yang dikembangkan. Tujuan pengembangan usaha agribisnis oleh pondok pesantren selain untuk menambah pemasukan finansial bagi pengembangan pondok pesantren juga sebagai sarana pendidikan dan pelatihan bagi santri yang ada. Pendidikan yang ditujukan pada santri tidak saja terbatas pada pendidikan agama serta pendidikan formal, namun juga pada pengembangan jiwa kewirausahaan. Pemberian bekal keterampilan dalam bidang agribisnis pada santri diharapkan mampu membentuk santri yang tangguh dalam menghadapi persaingan setelah lepas dari pondok pesantren. Terlebih saat ini persaingan kerja yang sangat ketat menuntut alumni pondok pesantren untuk dapat mandiri dan berwirausaha, terutama dalam bidang agribisnis. Dalam pelaksanaan usaha agribisnis, pihak pondok pesantren melibatkan santri terutama sebagai sarana pelatihan teknis bagi santri. Selain itu, bagi santri yang kurang mampu dapat bekerja paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan berupa beasiswa.
Persepsi masyarakat terhadap pengembangan agribisnis pesantren cenderung positif. Masyarakat sekitar pondok menyatakan bahwa usaha produktif terutama di bidang agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren tidak bertentangan dengan nilai budaya Islam. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan agama yang sebagian besar berada di daerah pedesaan seharusnya mampu menjadi penggerak ekonomi pedesaan.
Usaha produktif yang dikembangkan oleh pondok pesantren memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar pondok berupa peningkatan kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh pondok pesantren. Pondok pesantren An-Nafi’iyah mempunyai lembaga pendidikan mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini hingga tingkat lanjutan atas. Selama ini pendidikan formal yang diselenggarakan oleh pondok pesantren telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya. Biaya yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan utama untuk memilih sekolah bagi anak-anak mereka. Pertimbangan lain adalah lokasi yang dekat sehingga dapat mengurangi biaya transportasi. Masyarakat sekitar pondok memahami bahwa dengan adanya usaha produktif yang dikembangkan oleh pondok pesantren akan mampu menghasilkan pendapatan bagi pondok untuk mengelola berbagai kegiatan yang dijalankan. Peningkatan kualitas pendidikan juga sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar, mulai dari penambahan jumlah guru hingga pembangunan berbagai fasilitas pendidikan.
Keuntungan lain yang diperoleh oleh masyarakat adalah terbukanya akses informasi dan teknologi dalam melaksanakan usahatani. Pengelolaan usaha agribisnis yang terbuka menjadikan masyarakat dapat mengakses segala informasi tentang usaha agribisnis yang dikembangkan. Terlebih kerjasama yang dijalin oleh pondok pesantren dan instansi terkait menjadikan pondok pesantren sebagai sumber informasi bagi petani dan peternak di sekitar pondok.
Persepsi positif juga diberikan oleh pihak pemerintah daerah. Usaha produktif terutama di bidang agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren An-Nafi’iyah merupakan salah satu upaya meningkatkan kemandirian pondok pesantren. Selain itu, pondok pesantren diharapkan akan mampu menjadi sarana diseminasi teknologi bagi petani di daerah pedesaan.
Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa usaha penggemukan kambing dengan periode 6 bulan memberikan keuntungan yang lebih besar ibandingkan dengan usaha pembibitan. B/C rasio usaha penggemukan lebih tinggi dibandingkan dengan usaha pembibitan, masing-masing sebesar 1,53 dan 1,37. tingkat pengembalian atas modal (ROI) usaha penggemukan kambing mencapai 52,70 % sedangkan untuk usaha pembibitan sebesar 36,75 %. Berdasarkan indikator-indikator tersebut dapat diperoleh hasil bahwa kedua model usaha peternakan ini telah layak untuk dikembangkan.

Tabel. 1. Analisis kelayakan usaha ternak kambing dalam setiap periode
No Uraian Pembibitan Penggemukan
Sumber; Data primer diolah.
Keterangan : Periode usaha pembibitan selama 8 bulan, sedangkan usaha penggemukan selama 6 bulan.

Usaha penggemukan kambing memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan usaha pembibitan. Periode usaha juga lebih cepat, usaha pembibitan membutuhkan waktu minimal 8 bulan, sedangkan usaha penggemukan hanya membutuhkan waktu 6 bulan. Resiko kegagalan lebih besar pada usaha pembibitan. Resiko terbesar adalah tingkat keberhasilan hidup anak dari lahir, sapih hingga menjadi bakalan sangat bervariasi dan tergantung dengan lingkungan. Selain itu persentase bunting dan jumlah rata-rata anak per kelahiran turut menentukan keberhasilan usaha ini. Pemilihan induk dan pejantan yang unggul menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha pembibitan.
Pada usaha penggemukan, resiko kegagalan usaha terbesar adalah pada fluktuasi harga pasar. Namun dengan perencanaan yang matang, musim panen dapat tepat dengan musim permintaan kambing yang tinggi. Selain itu, pemasaran dapat dilakukan langsung ke rumah pemotongan hewan atau pedagang daging kambing sehingga dapat memangkas rantai pemasaran. Usaha ini dapat lebih memberikan keuntungan dengan melakukan penjualan langsung berupa karkas.
Untuk menekan biaya, usaha penggemukan memanfaatkan bibit hasil usaha pembibitan sebagai bakalan. Langkah ini dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan apabila mendatangkan bakalan dari luar. Selain itu seleksi atas bakalan dapat dilakukan dengan lebih baik. Usaha menekan biaya produksi dilakukan pula dengan menggunakan limbah industri tahu sebagai bahan pakan tambahan, sehingga mengurangi penggunaan pakan konsentrat.
Ditinjau dari titik impas pengembalian modal (BEP), usaha pembibitan baru dapat mencapai titik impas apabila harga yang berlaku di pasar mencapai Rp.195.000,00 dan volume produksi mencapai 47 ekor. Tingkat BEP tersebut dapat dikatakan mudah untuk dicapai, harga normal bakalan kambing di pasaran berkisar antara Rp.200.000,00 hingga Rp.300.000,00. Rata-rata jumlah anak setiap kelahiran (liter size) mencapai 1,6 hingga 1,8 sehingga untuk mencapai jumlah anak sebanyak 47 ekor hanya membutuhkan angka liter size sebesar 1,34 saja.
Usaha penggemukan mencapai BEP pada tingkat harga sebesar Rp.370.000,00 dan volume produksi mencapai 37 ekor. Harga normal yang berlaku di pasar untuk kambing dewasa berkisar antara Rp.450.000,00 hingga Rp.750.000,00. Tingkat mortalitas untuk kambing bakalan hingga mencapai dewasa sangat rendah, sehingga pencapaian dapat dipastikan usaha penggemukan kambing dapat melampau BEP.
Usaha pembuatan tahu juga telah layak secara ekonomi untuk dikembangkan. Untuk setiap proses produksi, usaha ini mampu memberikan keuntungan sebesar Rp.255.810,00 dengan biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp.2.230.690,00 atau dengan kata lain tingkat pengembalian atas modal (ROI) sebesar 11,47 %. Usaha ini mempunyai B/C rasio sebesar 1,11 sehingga layak untuk diusahakan. Selain dari hasil produksi tahu, usaha ini mendapatkan hasil sampingan berupa ampas tahu. Ampas tahu merupakan salah satu bahan pakan bagi hewan ternak yang mempunyai nilai gizi tinggi.

Tabel 2. Analisis kelayakan usaha industri tahu dalam setiap proses produksi
No Uraian Jumlah
Sumber ; Data primer diolah.

Simpulan
Agribisnis pesantren merupakan salah satu usaha yang perlu dikembangkan untuk mendukung perekonomian pondok pesantren dan masyarakat di sekitarnya. Peran pondok pesantren yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial di pedesaan menjadikan pondok pesantren memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan ekonomi umat Islam di daerah pedesaan. Kepemimpinan kiai yang masih menjadi teladan dan panutan masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu faktor pendorong masyarakat untuk mengikuti usaha agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren.
Selain sebagai unit produktif yang menghasilkan pemasukan bagi pondok pesantren, agribisnis pesantren dapat menjadi sarana pendidikan bagi santri. Tingginya persaingan di pasar tenaga kerja telah menyebabkan semakin meningkatnya angka pengangguran. Salah satu usaha untuk mengurangi angka pengangguran adalah dengan mengembangkan budaya kewirausahaan di kalangan santri. Agribisnis pesantren akan dapat memberikan pendidikan dan pelatihan baik dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan maupun dalam bidang teknis produksi.
Usaha agribisnis yang dikembangkan oleh pondok pesantren An-Nafi’iyah telah layak untuk diusahakan baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Usaha pembibitan kambing memberikan angka B/C rasio sebesar 1,37 sedangkan untuk usaha penggemukan kambing memiliki B/C rasio sebesar 1,53. selain usaha peternakan tersebut, ponsok pesantren An-Nafi’iyah mempunyai usaha pembuatan tahu. Usaha ini juga telah memenuhi kelayakan ekonomi dengan B/C rasio sebesar 1,11.

Saran
Untuk dapat mengembangkan usaha, hendaknya pihak pemerintah daerah dapat memberikan dukungan baik dari sisi teknis maupun permodalan. Introduksi bibit unggul sangat diperlukan untuk dapat menghasilkan produk ternak dengan peningkatan karkas tinggi. Kendala utama di bidang modal dapat diatasi dengan menjalin kerjasama dengan koperasi maupun perbankan, terlebih saat ini telah banyak tumbuh perbankan syariah. Jaringan kerjasama antar pondok pesantren juga perlu ditingkatkan sehingga arus tukar menukar informasi dan teknologi dapat berjalan dengan baik.

Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional atas pembiayaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan mampu memberikan kontribusi terhadap permasalahan pembangunan nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2001. Profil Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat Agribisnis. Departemen Pertanian. Jakarta.

Biere, A.W., 1988. ‘Involvement of agricultural economics in graduate agribusiness programs: an uncomfortable linkage’. Western Journal of Agricultural Economics 13, 128-133.

Davis, J.H. and Goldberg, R., 1957, A Concept of Agribusiness. Graduate School of Business Administration. Harvard University. Cambridge.

Hanani, Nuhfil. 2005. Peranan Kelembagaan dalam Pengembangan Agribisnis. Pamator Volume 2 Nomor 1. LPPM Universitas Trunojoyo. Bangkalan

Milles dan Huberman. 1992. Analisa Data Kualitatif. UI Press. Jakarta.

Pasaribu, M., 1999. Kebijakan dan Dukungan PSD-PU dalam Pengembangan Agropolitan. Makalah pada Seminar Sehari Pengembangan Agropolitan dan Agribisnis serta Dukungan Prasarana dan Sarana. Jakarta, 3 Agustus 1999.

Soekartawi. 1993. Analisis Usahatani. Rajawali Press. Jakarta

Sonka, S.T. and Hudson, M.A., 1989, Why Agribusiness Anyway?. Agribusiness: An International Journal 5, 305-14.

Sumodiningrat, Gunawan, 2000. Pembangunan Ekonomi Melalui Pengembangan Pertanian. PT.Bina Rena Pariwisata. Jakarta.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: