Awalbarri’s Blog

Februari 26, 2009

PENGARUH JILBAB BAGI MASYARAKAT

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 6:52 am

Sebuah masyarakat tidak akan terwujud bila hanya terdiri dari kaum laki-laki tanpa kaum perempuan, atau sebaliknya, terdiri dari kaum perempuan tanpa kaum laki-laki. Tetapi masyarakat dapat terwujud malalui kaum laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. Ini sejalan dengan terus menguatnya ikatan persaudaraan antara keduanya. Namun seiring dengan mengeras dan membekunya struktur masyarakat, maka perempuan kemudian dikucilkan di dalam rumah. Hubungan mereka dengan laki-laki direkayasa sedemikian rupa, dimana kaum laki-laki dilarang berinteraksi dengan perempuan. Ini menyebabkan timbulnya dua masyarakat yang berbeda: Masyarakat feminim dam masyarakat maskulin, yang masing-masing memiliki beragam situasi dan problemnya sendiri. Dalam banyak hal kondisi seperti ini menimbulkan bentrokan kepentingan. Masyarakat yang terpilah-pilah seperti ini penuh konflik, satu kelompok menyerang kelompok lainnya. Ini berbeda dengan masyarakat tunggal, tidak terpilah-pilah yang dijalankan seorang pemimpin, tidak akan menimbulkan banyak pertentangan.
Ketika di suatu masyarakat, laki-laki dan perempuannya saling bekerja sama, maka sebagian dengan sebagian lainnya akan saling bahu membahu, saling mendidik dan menumbuhkembangkan dalam urusan-urusan publik. Secara otomatis ini akan mengambil bentuk ruang-ruang publik tertentu. Ini merupakan hasil dari interaksi laki-laki dan perempuan dengan berbagai kepentingannya, serta berbagai situasi yang meliputinya: situasi negeri–negeri mereka, situasi dunia yang berpengaruh terhadap negri-negri tersebut, dan juga tuntutan-tuntutan zaman dengan berbagai permaslahan yang baru sama sekali. Semua itu menjadikan masyarakat lebih banyak dipenuhi oleh perkumpulan laki-laki dan perempuan. Sungguh, ini menjadikan masyarakat sebagai tempat penggodogan terbentuknya nilai-nilai dan ketetapan-ketetapan, serta tempat mencairnya berbagai kepentingan.
Ketika jilbab menyebabkan keterasingan perempuan di wilayah publik, mengurangi perannya di wilayah domestik dan mencerabut kehendak, kebebasan dan kepribadian khas yang dimiliki perempuan, dalam bagian A bab I buku ini kami membicarakan pengaruh jilbab terhadap perempuan sebagai manusia dengan derajat yang utama. Sekarang, kami akan memaparkan secara reflektif tentang pengaruh jilbab terhadap masyarakat. Dan setelah itu berturut-turut kami paparkan pengaruh tersebut terhadap kaum laki-laki (sebagai komponen kedua dalam masyarakat), kemudian pengaruh terhadap perempuan bukan dalam pengertian sebagai wanita atau manusia, tetapi dalam pengertian bahwa ia adalah komponen kedua dalam masyarakat. Dan di akhir pembahasan, kami paparkan pengaruh jilbab terhadap karakter, ikat-ikatan, jejaraing atau lembaga-lembaga yang terdapat dalam suatu masyarakat.
Kami akan menjelaskan mengenai perempuan dengan fenomena keibuannya. Fenomena keibuan ini dapat membebaskan perempuan dari rutinitas kerja-kerja rumah dan membebaskannya dari hal-hal emosional. Keibuan memenuhi berbagai dimensi perempuan dengan perasaan yang menyenangkan, menyinari dan membentuk kehidupannya dengan kelezatan yang tak tergantikan. Tidak ada upah tinggi, tidak ada jabatan tinggi yang bisa menandingi panggilan anak kepada ibunya dengan sebutan “Mama”. Ini sesuai dengan tingginya kedudukan tugas-tugas keibuan dan pengaruhnya yang demikian besar dalam kehidupan serta masa depan masyarakat. Ini adalah peran heroik yang dijalankan seorang Ibu, yang harus dilakukan hanya oleh kaum perempuan. Rasul SAW menggambarkan dengan sangat indah ketika beliau menjadikan surga berada di telapak kaki para ibu.
Dapat dikatakan secara umum, bahwa perempuan muslimah menjalankan peran ini dengan kesadaran emisonalnya, tanpa belajar di bangku sekolah atau mengenyam pengetahuan. Ini barangkali bisa dilakukan, terutama oleh perempuan petani yang masih memiliki insting murni. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh-pengaruh jelek yang berada di sekeliling rumah seorang muslim, berbagai nasib buruk yang dialami perempuan serta pendiskriditan terhadapnya, merupakan faktor yang memperburuk pendidikan perempuan terhadap anak-anaknya. Dalam beberapa kesempatan pengaruh-pengaruh jelek itu mendorong perempuan untuk bersikap kejam terhadap anak-anaknya. Dalam kesempatan-kesempatan lain perempuan itu memanjakan mereka. Ini lebih merupakan cerminan dari pengalaman masa kecil perempuan tersebut. Bisa jadi bahkan perempuan menanamkan nilai-nilai kemanfikan pada diri anak, seraya mencegahnya bersikap penuh keterusterangan, jujur, konsisten dan penuh keberanian. Setiap orang yang berbicara dengan beberapa anak usia 5 s/d 10 tahun, akan merasakan adanya kedangkalan kepribadian, tidak memiliki kemauan yang jelas, penuh kebimbangan dan keraguan. Seakan dalam kedalaman jiwa anak-anak itu ada sesuatu yang membuatnya khawatir dan takut. Ini adalah situasi salah yang tidak sehat bagi rumah tangga seorang muslim, di mana hubungan suami istri tidak didasari sikap keterbukaan, persamaan, keseimbangan dan penghormatan antara satu dengan yang lain. Ini kebanyakan dikarenakan ketidaktahuan perempuan mengenai pokok-pokok pendidikan. Meski tetap saja ketidak tahuan itu juga lebih merupakan akibat dari pengaruh dan kondisi jelek tadi.
Beberapa studi menyatakan bahwa rahim perepmuan –tempat kokoh yang menjaga janin- merupakan madrasah atau sekolah pertama bagi manusia. Di madrasah ini, transfer pengetahuan dilakukan dari ibu ke janin dengan merefleksikan setial sesuatu yang mempengaruhi ibu di saat5 hamil, baik berupa rangsangan-rangsangan kejiwaan maupun efek gerak atau diamnya anggota badan. Diketahui, bahwa pada usia 6 bulan setelah dilahirkan, seorang anak belum bisa membedakan antara dirinya dengan ibunya. Perbedaannya, bahwa sebelum terlahir ia berada di dalam perut ibu, dan setelah terlahir ia berada di dada ibu. Seoarang anak yang terlahir akan mewarisi bentuk fisik, kondisi psikologis dan kepribadian yang khas dari bapak dan ibunya, seperti gerak dan diamnya tubuh dan juga cara berjalan. Ini sebagaimana juga pendidikan ibu pada 5 tahun pertama usia anaknya, akan berpenaruh menanamkan kebiasaan-kebiasaan, karakter-karakter dan elemen-elemen utama dalam jiwa anak. Itu semua sulit diubah dan akan menyertai sang anak sepanjang hidupnya.
Dari sini kita menemukan bagaimana pendiskriditan kepribadian perempuan, penyia-nyiaan kemerdekaan, kebebasan dan kehendak perempuan sejalan dengan citra buruknya sebagai satu elemen masyarakat. Juga sejalan dengan apa yang tercermin dari pendidikan yang dilakukan perempuan kepada anak-anaknya. Di mana perempuan tidak mampu menyiapkan generasi yang sehat baik fisik maupun mentalnya, yang memiliki kemauan keras dan penuh percaya diri. Ini sungguh merupakan cacat mamatikan yang terus menyertai anak-anak tersebut setelah tumbuh sebagai generasi muda dan menjadi laki-laki serta perempuan dewasa. Hal ini menjadi penyebab terbesar keterbelakangan suatu masyarakat.
Untuk mendidik perempuan masyarakat meuliakan jilbab. Padahal pandangan fiqh yang sebenarnya menyatakan bahwa perempuan wajib mempelajari surat a-Fatihah dan 5 atau 6 surat-surat pendek yang biasa dibaca di dalam sholat. Di luar itu perempuan tidak wajib mempelajarinya. Adapun pemahaman bahwa perempuan mesti belajar membaca, menulis dan menjalani fungsi melahirkan, menyusu, memasak dan memandikan, adalah pemahaman yang dilegitimasi oleh politik Thaliban di Afghanistan pada tahun 1996 M. Dan di era keterbelakangan yang menyeluruh–sebelum kebangkitan modern- dunia Islam belum terlepas dari kegelapan dan kelemahan, kecuali satu dua pembesar kalangan elitnya. Mereka mengajari putrid-putrinya membaca dan menulis di rumah-rumah mereka. Dan selama 1000 tahun tidak ada madrasah pun dibuka untuk tempat belajar anak-anak putrid. Karena itu perempuan belum bisa terlepas dari kebodohan, kecuali puluhan atau ratusan dari jutaan yang ada. Hingga permulaan era modern, di Mesir –sebagai negeri yang lebih maju disbanding negeri-negeri Arab lainnya- muncullah perempuan-perempuan muda yang cerdas, penuh semangat. Mereka belajar secara sembunyi-sembunyi dari rekan-rekan perempuannya, hingga mereka dapat “mendorong batas”. Saat itu mereka belajar membaca dan menulis secara diam-diam. Karena jika ayah mereka tahu, pasti menyelidik dan melarang putrinya untuk melanjutkan studi. Larangan ini tidak akan melunak keculai setelah dibujuk oleh bibi-bibi, paman-paman dan kenalan-kenalan. Ini dialami oleh tokoh-tokoh besar perempuan cendikia yang muncul di permulaan abad XX.

MEMAHAMI JILBAB DALAM ISLAM
Memahami agama dari perspektif yang luas akan menuntun seseorang menjadi lebih arif dan lebih bijaksana dalam merespon berbagai bentuk sikap dan perilaku keagamaan dari para pemeluk agama. Perlu dicatat bahwa agama bukanlah hanya terdiri dari setumpukan teks-teks suci, melainkan juga mengandung pesan-pesan moral yang dapat diketahui melalui perenungan dan pembahasan secara mendalam dari berbagai perspektif, tak terkecuali dari perspektif psikologis. Itulah salah satu alasan mengapa buku ini menjadi penting dibaca oleh siapapun yang ingin mendalami soal jilbab.
Jumlah perempuan berjilbab di Indonesia semakin meningkat akhir-akhir ini, apakah itu lalu berarti tingkat keagamaan masyarakat pun mengalami peningkatan?? Yang pasti ada banyak alasan mengapa perempuan berjilbab. Sebagian memutuskan berjilbab setelah melalui perjuangan panjang dan akhirnya meyakini bahwa itulah pakaian yang diwajibakan Islam. Jadi, alasannya sangat teologis. Sebagian memakai jilbab karena dipaksakan oleh aturan, terutama karena banyaknya Peraturan Daerah tentang keharusan berjilbab. Sebagian lagi karena alasan psikologis, tidak merasa nyaman karena semua orang di lingkungannya memakai jilbab. Ada lagi karena alasan modis, agar tampak lebih cantik dan trendi, sebagai respon terhadap tantangan dunia model yang sangat akrab dengan perempuan. Ini dibuktikan dengan semakin banyaknya toko-toko busana muslim dan butik yang memamerkan jilbab dengan model mutakhir dan tentu saja dengan harga mahal. Bahkan, ada juga berjilbab karena alasan politis, yaitu memenuhi tuntutan kelompok Islam tertentu yang cenderung mengedepankan simbol-simbol agama sebagai dagangan politik.
Berbicara soal busana perempuan dalam Islam, data-data historis sepanjang sejarah Islam mengungkapkan bahwa pandangan para ulama tidak tunggal, melainkan sangat beragam. Setidaknya, pandangan ulama dapat dikelompokkan ke dalam tiga pola. Pertama, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya, termasuk wajah dan tangan, bahkan juga bagian mata. Kedua, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian muka dan tangan. Ketiga, pandangan yang mewajibkan perempuan dewasa menutupi tubuhnya, selain muka dan tangan hanya ketika melaksanakan ibadah salat dan thawaf. Di luar itu, perempuan boleh memilih pakaian yang disukainya, sesuai adab kesopanan yang umum berlaku dalam masyarakat. Rambut kepala bagi kelompok ini bukanlah aurat sehingga tidak perlu ditutupi.
Menarik digarisbawahi bahwa ketiga pola pandangan yang berbeda itu sama-sama merujuk kepada teks-teks suci agama dan sama-sama mengklaim diri sebagai pandangan Islam yang benar. Perbedaan pandangan para ulama soal busana perempuan ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan pandangan tentang batas-batas aurat bagi perempuan. Yang pasti bahwa semua pandangan tadi merupakan hasil ijtihad para ulama. Sebagai hasil ijtihad, pandangan itu bisa salah, tetapi juga bisa benar.
1 – Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri., Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok. Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.Membina dan memupuku kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara guru dan orangtua siswa, yang bermanfaat dalam pendidikan siswa.Pembelajaran dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme. Pembelajaran dan kegiatan belajar menjadi hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika. (1995: 91).

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: