Awalbarri’s Blog

Februari 26, 2009

Memilih Sudut Pandang

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 6:49 am

Ditulis Oleh Didik Wijaya
Rabu, 31 Oktober 2007

Sudut pandang atau point of view di dalam cerita fiksi pada prinsipnya adalah siapa yang menceritakan cerita tersebut. Sudut pandang itu seperti kita melihat sesuatu peristiwa melalui mata ‘seseorang’. Kejadian yang sama di mata anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda, sehingga sudut pandang sangat berpengaruh pada bagaimana cerita itu akan diceritakan. Bagaimana nuansa, gayanya, dan bahkan makna cerita itu bisa berbeda tergantung sudut pandang mana yang dipakai.

Misalkan saja kita memiliki sebuah cerita tentang pembunuhan serial. Kita memiliki beberapa tokoh, yaitu detektif yang bertugas menangani kasus itu, si pembunuh yang mengincar korbannya, dan seseorang yang mungkin menjadi korban berikutnya. Minimal, dari cerita itu kita memiliki ada 3 sudut pandang penceritaan yang berbeda. Apakah kita akan mengikuti gaya cerita cerdas si detektif, atau menyelami psikologi temperamental si pembunuh, atau bersama-sama korban harap-harap cemas menanti kejutan dari si pembunuh. Atau bisa juga Anda melihat dari sudut pandang seorang reporter yang melaporkan kejadian pembunuhan itu. Setidaknya dari cerita ini saja ada 4 variasi sudut pandang yang bisa Anda pakai.

Kalau mau lebih nyentrik lagi, bisa saja Anda menggunakan sudut pandang dari cermin yang ada di rumah korban, atau lebih ekstrim lagi sudut pandang lalat yang kebetulan menclok di tubuh korban. Banyak sekali kemungkinan sudut pandang yang dapat digunakan.

Ada dua sudut pandang yang biasa dipakai di dalam penulisan fiksi, antara lain:
1. First Person Point of View (Sudut Pandang Orang Pertama)
Di sini, narator berperan sebagai salah satu karakter. Karakter dipakai biasanya adalah karakter utama di cerita. Biasanya sudut pandang ini mudah dikenali, dengan ‘aku’ atau ‘saya’ sebagai karakter utama.

2. Third Person Point of View (Sudut Pandang Orang Ketiga)
Sudut pandang orang ketiga dipakai bila kita menggunakan narator yang tidak ikut menjadi salah satu karakter fiksi tersebut. Namun, narator tersebut mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh karakter-karakter tersebut. Mungkin bisa Anda analogikan sebagai reporter di cerita pembunuhan di atas.

Sudut pandang orang ketiga bisa dibedakan lagi menjadi Omniscient atau Limited. Kalau di Omniscient Point of View, orang ketiga tersebut mengetahui semuanya tentang seluruh karakter cerita, baik perasaannya atau pikirannya. Sedangkan yang Limited, orang ketiga itu hanya mengetahui tentang beberapa karakter saja.

Jadi manakah yang harus dipilih? Tidak ada jawaban untuk pertanyaan ini. Semua sudut pandang bisa menghasilkan cerita yang hebat, tergantung Anda sebagai penulis untuk mengolahnya.

Jadi, Anda dapat bermain-main dengan gaya cerita, nuansa cerita hanya dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda. Cobalah mengeksplorasi cerita Anda dengan mencoba sudut pandang yang lain, mungkin akan menghasilkan cerita yang lebih baik lagi.
Menentukan Sudut Pandang
Seorang penulis yang baik, pastinya mengetahui bagaimana cara menentukan tulisannya agar dapat dibaca dengan baik oleh pembacanya. Dalam artian seperti ini, penulis dapat menempatkan dirinya melalui tulisannya, dalam menyapa pembaca tulisannya. Masih bingung? Berikut penjelasannya.

Penempatan diri seorang penulis melalui tulisannya, dapat menentukan reaksi ataupun respon pembaca nantinya. Sehingga, pembaca tulisan dapat dengan mudahnya mengerti tulisannya. Atau mungkin, serasa menjadi pelaku utama dalam tulisan tersebut, dan berteman dengan penulisnya. Sehingga, hubungan penulis dan pembaca tertata dengan baik.

Hal tersebut dikategorikan sebagai hal yang penting untuk penulis, karena tanpa pembaca, maka apa artinya tulisannya. Sehingga, jika hanya menulis saja tapi kemudian tidak dapat diapresiasi oleh pembaca, maka tulisannya kurang berarti. Karena sinergi pembaca dan penulis diperlukan agar tulisan penulis dapat terus membaik, dan pembaca sendiri akan loyal kepada penulis yang bersangkutan.

Jadi, menempatkan diri adalah cara terbaik dari seorang penulis dalam ‘menyapa’ pembacanya. Lantas, memangnya, ada berapa macam cara penempatan diri seorang penulis dalam karya tulisnya? Lazimnya, cara-cara penempatan diri seorang penulis atau yang biasa dikenal sebagai sudut pandang, adalah sebagai berikut,

1. Sudut pandang orang pertama.
2. Sudut pandang orang ketiga.

Dan, berikut penjelasannya.
1. Sudut pandang orang pertama.
Dengan menggunakan sudut pandang ini, penulis berlaku sebagai pelaku utama dalam cerita. Ciri-ciri yang biasa dipakai adalah, dengan menggunakan kata-kata, saya, aku, beta, hamba. Bahasa yang dipakai dalam tulisan, bisa merupakan perpaduan antara pendapat, maupun kata-kata hati.

Jika di kemudian hari menggunakan sudut pandang ini sebagai cara menulis, maka akan terdapat dua macam. Yaitu,
a. Sudut pandang orang pertama pelaku utama,
b. Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan.

Penjelasan mengenai ini, akan diperjelas di postingan lainnya.

2. Sudut pandang orang ketiga.
Jika menggunakan sudut pandang ini, maka penulis berlaku sebagai orang di luar cerita ataupun tulisan. Penulis lebih sebagai pengamat, yang dapat keluar masuk setiap saat, menceritakan apa pun yang diperlukan. Bahasa yang dipakai pun, lebih sering menggunakan petunjuk bahwa sesuatu dikerjakan oleh orang lain.

Nah, demikian uraian singkatnya. Jadi, cara tulis ditentukan oleh sudut pandang yang akan dipakai dalam tulisan. Hal ini seringkali diabaikan karena terdapat lisensia puitika, akan tetapi akan lebih bagus lagi jika kemudian tulisan menggunakan sudut pandang tertentu, agar pembaca tidak bingung dan merasa dekat dengan penulisnya

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: