Awalbarri’s Blog

Februari 26, 2009

Dampak HIV/AIDS

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 7:05 am

Kasus HIV/ Aids di Indonesia semakin meningkat dengan cepat. Sampai dengan bulan Juni 2008 dilaporkan ada 12.686 orang yang terinfeksi HIV/Aids dengan 52% kenaikan dipicu oleh penggunaan narkoba suntik. Bagaimana hal ini bisa terjadi? dan bagaimana mengatasinya, itu yang terpenting.
Siaran IPTEK VOICE hari Selasa, 25 November mengangkat topik :Penanggulangan Dampak Buruk HIV/AIDS dengan narasumber Inang Winarso, Asisten Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.”

Perbedaan HIV dengan Aids adalah HIV tidak menimbulkan gejala yang terlihat atau dirasakan oleh penderita. Sementara Aids, penderita sudah merasakan infeksi-infeksi yang muncul sehingga orang tersebut perlu mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Inang menjelaskan, kasus HIV atau Aids di Indonesia semakin meningkat dengan cepat. Sampai dengan bulan Juni 2008 dilaporkan ada 12.686 orang yang terinfeksi HIV/Aids dengan 52% kenaikan dipicu oleh penggunaan narkoba suntik.

Penularan HIV di Indonesia dapat dibagi menjadi dua periode, yakni periode pertama atau 10 tahun pertama terhitung dari tahun 1987-1997, pola epidemik HIV itu didominasi penularannya melalui prilaku seksual atau seksual transmission. Pada periode kedua atau 10 tahun berikutnya penularan HIV di dominasi oleh prilaku atau akibat dari penggunaan narkoba suntik jenis heroin yang dipakai bersama-sama jarum suntiknya sehingga banyak pengguna narkoba suntik terinfeksi HIV.

Pada periode pertama sebenarnya sudah ada para pecandu narkoba suntik, tetapi mereka masih dapat mengakses jarum steril dengan mudah di apotik atau toko obat sehingga mereka tidak beresiko tertular HIV karena selalu menggunakan jarum yang steril.

Menurut Inang, faktor yang cukup mempengaruhi perkembangan periode kedua dimana penularan HIV didominasi oleh para pecandu narkoba suntik adalah UU Narkotika No.22 tahun 1997 dan UU Psikotropika No.5 tahun 1997 yang mengatur secara khusus tentang pengendalian peredaran narkotika. Didalam Undang Undang tersebut juga disebutkan bahwa segala macam peralatan yang mendukung penggunaan narkoba dan barang siapa yang menyediakan peralatan dapat dikenakan sangsi. Oleh karena itu maka akses terhadap jarum suntik steril menjadi ketat dan akhirnya mereka menggunakan jarum suntik bersama. Faktor kedua adalah terjadinya peralihan keamanan dari Angkatan Darat atau TNI kepada Kepolisian di tahun 1997, yang menimbulkan celah kelemahan bagi masuknya para Bandar narkoba dari luar negeri yang menyelundupkan jenis-jenis heroin semakin banyak. Kemudian krisis ekonomi yang mengakibatkan banyaknya pengangguran dimanfaatkan oleh para bandar narkoba untuk mengedarkan narkoba kepada para pengangguran yang kebanyakan anak muda.

Mengenai pengurangan dampak buruk HIV/Aids pada pengguna narkoba suntik, Inang mengatakan bahwa solusi bagi para pengguna narkoba suntik yang sudah kecandungan heroin adalah, pertama harus dilakukan upaya pencegahan agar tidak bertambah penyakitnya dan mendidik mereka agar tidak lagi berbagi jarum suntik bekas dengan teman-temannya.

Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti oral seks atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK).
Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur atau nyundal sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa kemasa. Sundal selain meresahkan juga mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku sex bebas tanpa pengaman bernama kondom
Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya.
Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat.
Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik.
Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.”
Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian.
[sunting] Pelacuran dalam sastra
Penyair W.S. Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang lebih netral dalam “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!” Bahkan lebih dari itu, dalam puisinya “Nyanyian Angsa”, Rendra melukiskan Maria Zaitun, seorang pelacur, yang justru menjadi kekasih Tuhan, yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya.
[sunting] Istilah lain untuk pelacur
Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tuna susila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial.
Khusus laki-laki, digunakan istilah gigolo.
Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat.
Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik.
Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.”
Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian.
[sunting] Pelacuran dalam sastra
Penyair W.S. Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang lebih netral dalam “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!” Bahkan lebih dari itu, dalam puisinya “Nyanyian Angsa”, Rendra melukiskan Maria Zaitun, seorang pelacur, yang justru menjadi kekasih Tuhan, yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya.
[sunting] Istilah lain untuk pelacur
Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tuna susila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial.
Khusus laki-laki, digunakan istilah gigolo.
Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat.
Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun toh dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa kaum perempuan baik-baik.
Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat “selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya.”
Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian. Penyair W.S. Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang lebih netral dalam “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!” Bahkan lebih dari itu, dalam puisinya “Nyanyian Angsa”, Rendra melukiskan Maria Zaitun, seorang pelacur, yang justru menjadi kekasih Tuhan, yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya. Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tuna susila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial. Khusus laki-laki, digunakan istilah gigolo.
Ditinjau dari usia
Direktur Yayasan Santo Anthonius (Yasanto) Merauke, Ir. Leo Maturbongs mengakui, sejak 1992 hingga Maret 2006 di kabupaten Merauke terjadi kasus penyebaran HIV/AIDS sebanyak 827 kasus.
Kepada wartawan di Merauke belum lama ini di Merauke, Maturbong, mengakui dari 827 kasus itu 384 berupa kasus HIV, 419 kasus AIDS, dan 197 orang di antaranya sudah meninggal dunia.
Penderita HIV/AIDS jika ditinjau dari asal sukunya adalah 357 kasus terjadi pada orang Papua, 307 kasus menimpa warga non Papua, 67 kasus menyerang warga asing dan 96 kasus lainnya tidak diketahui asal sukunya.
Apabila dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 422 kasus (51,0 persen)menimpa laki-laki dan 359 kasus (43,4 persen) adalah perempuan, dan 46 kasus (5,6 persen) tidak diketauhi.
Penderita HIV/AIDS yang terbanyak memang perempuan yang menjadi pekerja seks komersial yaitu 132 kasus (15,96 persen), menyusul kemudian petani 118 kasus (14,26 persen), nelayan tenaga kerja asing (TKA) 59 kasus (7,13 persen), buruh 63 kasus (7,61 persen), ibu rumah tangga 69 kasus (8,34 persen) siswa/mahasiswa 28 kasus (3,39 persen), lain-lain 231 kasus (27,93 persen).
Menyusul kemudian pekerja swasta 45 kasus (5,44 persen), PNS 28 kasus (3,39 persen), sopir 12 kasus (1,45 persen), nelayan/ABK 19 kasus (2,29 persen), TNI/Polri 15 kasus (1,81 persen), PSK (jalanan) 7 kasus (0,85 persen) dan mucikari 1 kasus (0,12 persen).
Menurut kelompok umur, ada yang masih di bawah 1 tahun dan 1-4 yaitu tercatat masing-masing 12 kasus, 5-9 tahun 6 kasus, 10-19 tahun 73 kasus, 20-29 tahun 296 kasus, 30-39 tahun 215 kasus, 40-49 tahun 78 kasus, 50-60 tahun terdapat 31 kasus, usia 60 tahun ke atas tercatat 5 kasus dan tidak diketahui 99 kasus.
“Merauke tercatat menduduki ranking pertama kasus HIV/AIDS di Indonesia,” kata Maturbongs.
Maturbong mengaku mengalami kesulitan biaya untuk menangani pemberantasan virus yang menurunkan kekebalan tubuh manusia itu, namun terus berupaya dengan melakukan pendekatan kepada pemerintah dan penyandang dana luar negeri guna menangani penderita HIV/AIDS di Merauke.
Ibu negara Ani Yudhoyono ketika mengadakan pertemuan dengan Pemkab, Yasanto dan korban di Merauke, Rabu (5/4) menyerahkan bantuan dana sebesar Rp100 juta ditambah sejumlah mesin jahit dan mesin bordir kepada pengelola Yasanto Merauke.
Pada kesempatan itu, Ibu Negara mengatakan telah instruksikan kepala pemerintah daerah di perbatasan untuk mewaspadai penyebaran berbagai penyakit terutama Narkoba dan HIV/AIDS, seperti Merauke yang berbatasan dengan PNG, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, NTT, Sumatera Utara dan Maluku Tenggara.
Pengertian Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Branca (1965) mengemukakan: Perceptions are orientative reactions to stimuli. They have in past been determined by the past history and the present attitude of the perceiver. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula (Polak, 1976). Dalam hal ini Crow (1972) menyatakan persepsi sebagai berikut:
A percept is an organized totality rather than the sum total of individual sensory experinces. In perception, an individual first gains a general impression of the outline of on ogject or situation, (which is) the percepts quality of organized totality.
Sementara itu Branca (1965) mengemukakan persepsi sebagai berikut:
Perceptions are sensations with the adition of same sort of interpretation or indication of the sensation or the stimulus source of the sensation. The interpretation of the identification is the product past learning.
Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972).
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Pengertian Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Branca (1965) mengemukakan: Perceptions are orientative reactions to stimuli. They have in past been determined by the past history and the present attitude of the perceiver. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula (Polak, 1976). Dalam hal ini Crow (1972) menyatakan persepsi sebagai berikut:
A percept is an organized totality rather than the sum total of individual sensory experinces. In perception, an individual first gains a general impression of the outline of on ogject or situation, (which is) the percepts quality of organized totality.
Sementara itu Branca (1965) mengemukakan persepsi sebagai berikut:
Perceptions are sensations with the adition of same sort of interpretation or indication of the sensation or the stimulus source of the sensation. The interpretation of the identification is the product past learning.
Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972).
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Pengertian Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Branca (1965) mengemukakan: Perceptions are orientative reactions to stimuli. They have in past been determined by the past history and the present attitude of the perceiver. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula (Polak, 1976). Dalam hal ini Crow (1972) menyatakan persepsi sebagai berikut:
A percept is an organized totality rather than the sum total of individual sensory experinces. In perception, an individual first gains a general impression of the outline of on ogject or situation, (which is) the percepts quality of organized totality.
Sementara itu Branca (1965) mengemukakan persepsi sebagai berikut:
Perceptions are sensations with the adition of same sort of interpretation or indication of the sensation or the stimulus source of the sensation. The interpretation of the identification is the product past learning.
Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972).
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Pengertian Persepsi
Manusia sebagai makhluk sosial yang sekaligus juga makhluk individual, maka terdapat perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya (Wolberg, 1967). Adanya perbedaan inilah yang antara lain menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang bahkan membenci obyek tersebut. Hal ini sangat tergantung bagaimana individu menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya.
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sensasi-sensasi dari lingkungan akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan,nilai-nilai, sikap, ingatan dan lain-lain. Branca (1965) mengemukakan: Perceptions are orientative reactions to stimuli. They have in past been determined by the past history and the present attitude of the perceiver. Sedangkan menurut Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir.
Di dalam proses persepsi individu dituntut untuk memberikan penilaian terhadap suatu obyek yang dapat bersifat positif/negatif, senang atau tidak senang dan sebagainya. Dengan adanya persepsi maka akan terbentuk sikap, yaitu suatu kecenderungan yang stabil untuk berlaku atau bertindak secara tertentu di dalam situasi yang tertentu pula (Polak, 1976). Dalam hal ini Crow (1972) menyatakan persepsi sebagai berikut:
A percept is an organized totality rather than the sum total of individual sensory experinces. In perception, an individual first gains a general impression of the outline of on ogject or situation, (which is) the percepts quality of organized totality.
Sementara itu Branca (1965) mengemukakan persepsi sebagai berikut:
Perceptions are sensations with the adition of same sort of interpretation or indication of the sensation or the stimulus source of the sensation. The interpretation of the identification is the product past learning.
Dengan demikian persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972).
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya. (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antar manusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antar komponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas. Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menyadap informasi dari lingkungan (Fleming & Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain).
Teori: Cara Pengukuran Persepsi Mahasiswa Terhadap Profesi Pendidik

Ciri-ciri profesi menurut Arikunto (1996) meliputi: 1) sebuah profesi dilandasi pengetahuan yang kuat dan menjurus pada bidang spesialisasi tertentu, 2) sebagai konsekuensi dari ciri pertama sebuah profesi harus didukung oleh kompetensi individual, 3) sebuah profesi menuntut dilakukannya suatu seleksi dan sertifikasi, 4) untuk menjaga dan mengembangkan kompetensi, diantara sesama profesi biasa terjadi kerjasama sekaligus kompetisi yang sehat, 5) dalam setiap profesi para anggota memiliki kesadaran profesional dan bertanggung jawab penuh dalam melaksanakan tugas profesionalnya, 6) terdapat kode etik profesi berupa nilai-nilai moral yang selalu dijunjung tinggi dan menjadi landasan bagi pemiliknya dalam bertindak, 7) adanya sangsi untuk menjamin berlakunya kode etik yang sudah ditetapkan, 8) setiap anggota profesi gigih dalam memperjuangkan diri dan meningkatkan kemampuan profesionalnya, dan 9) terdapat lebih dari satu organisasi profesi serupa sebagai wahana untuk bekerjasama dalam upaya mengembangkan diri.
Menurut Muhyadi (1989) persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi, 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu, dan 3) stimulasi dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu maupun suasana. Sedangkan Siagian (1995) mengemukakan bahwa komponen-komponen yang mempengaruhi persepsi ada tiga faktor, yaitu: pertama, pelaku persepsi. apabila seorang individu memandang suatu obyek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu itu, seperti sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan harapan. Kedua, sasaran/obyek. Karakteristik dari target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan, sasaran itu mungkin berupa orang, benda atau peristiwa. Dan ketiga, situasi. Unsur lingkungan sekitarnya bisa mempengaruhi persepsi kita. Jadi persepsi harus dilihat secara kontekstual, artinya dalam situasi mana persepsi itu timbul perlu mendapat perhatian.
Feldman (1990) mengemukakan bahwa komponen persepsi terdiri atas tiga indikator, yaitu: 1) pelaku persepsi, 2) sasaran persepsi, 3) situasi dimana dilakukan persepsi. Hampir sama dengan apa yang dikemukakan Feldman, Robbins (1998) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi ada tiga, yaitu: 1) pelaku persepsi, karena dipengaruhi oleh karakteristik individu yang turut berpengaruh seperti sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan harapan, 2) obyek/ target yang dipersepsikan, misalnya penampilan yang mencolok lebih menarik perhatian, dan 3) situasi dimana persepsi itu dilakukan.
Dengan demikian, persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik adalah suatu aktivitas mental mahasiswa dalam proses pengorganisasian dan penerjemahan kesan-kesan, penilaian, dan pendapat dalam merasakan serta menginterpretasikan profesi pendidik berdasarkan informasi yang ditampilkan orang yang berprofesi sebagai pendidik. Persepsi mahasiswa terhadap profesi pendidik itu berbeda untuk masing-masing mahasiswa sesuai dengan hasil pengalaman mahasiswa tersebut, latar pendidikan, dan karakter psikologi. Adapun komponen-komponennya adalah sebagai berikut: 1) sikap positif terhadap profesi pendidik, 2) persepsi terhadap kepentingan profesi pendidik,
3) persepsi terhadap pengharapan, 4) latar belakang profesi pendidik ,
5) landasan profesi pendidik , 6) tanggung jawab terhadap profesi pendidik,
7) profesi pendidik berorientasi pada pelayanan, 8) profesi pendidik selalu dibutuhkan, dan 9) profesi pendidik memerlukan kedisiplinan.
Feldman (1990).

Surabaya, eHealth. Epidemi HIV di Indonesia telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun dan tepat tanggal 1 Desember kemarin diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Jumlah penderita yang terus bertambah, menimbulkan banyak persepsi di masyarakat tentang penyakit yang belum ditemukan penawarnya ini, baik persepsi masyarakat mulai dari cara penularannya dan juga persepsi mengenai orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Untuk meluruskan berbagai dugaan dan informasi yang belum jelas mengenai HIV/AIDS, berikut artikel terkait penyakit yang menyerang kekebalan tubuh ini.
Sebelum kita mengetahui apa itu HIV/AIDS, perlu ditekankan mengapa informasi HIV/AIDS ini sangat penting untuk diketahui dan disebarluaskan sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Berikut alasan-alasan yang dapat membuat Anda bertahan membaca artikel ini, dan menyebarkan informasi HIV/AIDS kepada rekan yang Anda sayangi:
1. HIV/AIDS belum ada obat penawarnya dan belum ada vaksin yang dapat mencegah HIV
2. Pengidap virus menjadi pembawa dan dapat menularkan penyakit seumur hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat
3. Biaya pengobatan mahal
4. Menurunkan mutu sumber daya manusia dan produktifitas kerja, sehingga dapat mengganggu perekonomian Negara.
5. Penyakit ini telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, sebagian besar ditularkan melalui hubungan seks.
Namun alasan-alasan tersebut bukan untuk membuat kepanikan dan bertindak di luar batas. Dengan mengetahui alasan tersebut maka diharapkan seseorang menghindari sebab musabab adanya virus HIV/AIDS dalam tubuh, serta mendukung pengobatan kepada ODHA, bukan memojokkan serta mengusir ODHA dari lingkungannya dan membiarkannya mengidap HIV/AIDS tanpa ada pendampingan dari pihak medis juga dukungan dari masyarakat. Untuk itu setiap orang perlu mengetahui lebih dalam, seperti apa dan bagaimanakah HIV/AIDS ini.
Apa sih HIV/AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus), jika kita lihat dari kepanjangan nama HIV kita akan segera tahu bahwa HIV merupakan virus, dalam hal ini virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan merupakan penyebab AIDS. Kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sebuah sistem tubuh yang menjaga tubuh dari infeksi bakteri, virus dan jasad renik lain yang dapat menyebabkan penyakit.
Sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama CD4 positif T-sel dan macrophages, yang merupakan komponen-komponen utama kekebalan sel, akan hancur dan terganggu fungsinya. Sehingga infeksi virus ini akan terus-menerus menurunkan kekebalan tubuh sehingga dapat mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh (Immunodeficient). Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat lagi menjalankan fungsinya untuk memerangi infeksi dan penyakit-penyakit.
Sehingga dengan sendirinya, orang yang telah terkena HIV dan sistem kekebalan tubuhnya defisien, maka akan sangat rentan terhadap berbagai macam infeksi yang sebagian besar jarang menjangkiti orang-orang yang tidak mengalami defisiensi kekebalan tubuh. Infeksi-infeksi yang menyertai ODHA biasa disebut dengan infeksi oportunistik.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya, hingga bulan Desember 2007 terdapat 10 infeksi oportunistik tertinggi, yakni Tuberculosis (TB), Diare Kronis, Kandidiasis, Dermatitis, Limfadenopati Generalisata, Pneumonia, Ensefalopati, Herpes Zooster, Herpes Simplex, dan Sarkoma Karposi.
Perkembangan dari HIV dapat dibagi dalam empat fase, yaitu :
1. Infeksi utama (Seroconversion), ketika kebanyakan pengidap HIV tidak menyadari dengan segera bahwa mereka telah terinfeksi.
2. Fase asymptomatic, dimana tidak ada gejala yang nampak, tetapi virus tersebut tetap aktif.
3. Fase symptomatic, dimana seseorang mulai merasa kurang sehat dan mengalami infeksi-infeksi oportunistik yang bukan HIV tertentu, melainkan disebabkan oleh bakteri dan virus-virus yang berada di sekitar kita dalam keseharian kita.
4. AIDS, yang berarti kumpulan penyakit yang disebabkan oleh HIV, dan merupakan fase terakhir. Seseorang dikatakan menderita AIDS bila secara uji hitung CD4 < 200μl tanpa menghiraukan keluhan atau gejala yang menyertai.
Sehingga apabila seseorang telah mengidap HIV dapat dipastikan akan mengidap AIDS.
Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat HIV yang telah menurunkan sistem kekebalan tubuh. Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS. Pada tahap ini, maka penderita telah mengalami defisien kekebalan tubuh, seperti contohnya apabila penderita AIDS terserang flu maka akan lebih sulit sembuh dari pada orang pada umumnya. Serta dapat meningkatkan kemungkinan terserang kanker langka. Berikut gambar ilustrasi fase penyakit HIV berkembang menjadi AIDS.
Penularan HIV/AIDS

Seperti yang telah diungkapkan diatas bahwa masih banyak persepsi yang keliru mengenai HIV/AIDS, salah satu informasi yang masih terkadang keliru adalah mengenai cara HIV/AIDS menyebar. Perlu diketahui bahwa HIV terdapat pada cairan tubuh seperti darah, cairan sperma, cairan vagina, dan air susu ibu.
HIV/AIDS menular melalui:
1. Hubungan seks, HIV dapat ditularkan melalui seks penetratif (penis masuk ke dalam vagina/anus, Red) tanpa penggunaan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dan cairan vagina atau tercampurnya cairan sperma dengan darah. Resiko infeksi melalui seks vaginal umumnya tinggi sedangkan penularan melalui seks anal memiliki resiko 10 kali lebih tinggi dari seks vaginal.
Seseorang dengan Infeksi Menular Seks (IMS) yang tidak diobati, khususnya yang berkaitan dengan tukak/luka dan duh (cairan yang keluar dari tubuh) memiliki rata-rata 6-10 kali lebih tinggi kemungkinan untuk menularkan dan terjangkit HIV selama hubungan seksual.
Seperti data yang diungkapkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur bahwa kelompok resiko tinggi terhadap HIV yang menempati urutan pertama adalah Wanita Penjaja Seks (WPS), dari jumlah sebanyak 1 687 orang sebanyak 141 orang mengidap HIV.
2. Penggunaan NAPZA Suntik (Penasun), menggunakan jarum suntik berulang kali secara bergantian dari satu orang ke orang lain ini merupakan resiko terbesar kedua setelah hubungan seks berganti-ganti pasangan. Jarum yang dipakai secara bergantian ini memiliki nilai steril yang rendah, atau dengan kata lain tidak steril. Sehingga apabila seseorang mengidap HIV dan menggunakan jarum suntik tersebut lalu tanpa ada sterilisasi jarum atau tanpa ada pergantian jarum, maka secara otomatis HIV akan dengan mudah tertular pada pengguna jarum selanjutnya.

Perlu diwaspadai juga, penggunaan jarum suntik ini tidak sebatas hanya untuk menggunakan NAPZA, tetapi karena kita tidak dapat mengenali penderita HIV secara langsung, maka perlu diwaspadai ketika menggunakan jarum suntik pada penyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah. Sterilisasi yang benar dan tepat dapat meminimalisir penyebaran lewat jarum suntik atau mintalah jarum khusus untuk Anda atau pun pergantian jarum suntik baru demi keselamatan diri.
Perlu diketahui juga bahwa penggunaan alat cukur yang tidak steril secara bergantian pun dapat menjadi salah satu resiko penularan HIV.
3. Penularan dari ibu ke anak, HIV dapat ditularkan ke anak selama masa kehamilan, pada proses persalinan, dan saat menyusui. Pada umumnya, terdapat 15-30% risiko penularan dari ibu ke anak sebelum dan sesudah melahirkan. Semakin tinggi jumlah virus (viral load) yang dimiliki oleh sang ibu maka semakin tinggi juga resiko penularan kepada janin atau anak.

Virus HIV/AIDS tidak menular melalui:
1. Gigitan nyamuk, atau pun gigitan serangga lainnya. Sehingga apabila seekor nyamuk atau pun serangga itu menggigit ODHA, virus tersebut tidak dapat memproduksi dirinya dalam tubuh serangga, karena nyamuk atau serangga lain tidak dapat terinfeksi HIV. Sehingga apabila nyamuk/serangga tersebut setelah menggigit ODHA dan menggigit orang lain tanpa HIV maka orang tersebut tidak akan tertular HIV.
2. Kontak sosial, bercengkrama seperti jabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet yang sama, minum dari gelas yang sama dari orang yang terinfeksi HIV, terpapar batuk atau bersin, berenang dalam satu kolam renang dengan ODHA tidak dapat menularkan virus. Karena seperti yang telah tertulis di atas, bahwa HIV hanya menular melalui media cairan tubuh tertentu dan tidak dapat hidup diluar tubuh manusia dalam jangka waktu yang lama.

Pencegahan HIV/AIDS
1. Seks Aman, tak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman adalah menyangkut kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena IMS, termasuk HIV saat melakukan hubungan seks. Penularan HIV ini hanya terjadi apabila salah satu dari pasangan mengidap HIV. Resiko penularan HIV akan semakin tinggi apabila dilakukan dengan berganti-ganti pasangan.
Penggunaan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks dianggap sebagai seks yang lebih aman. Kondom yang kualitasnya terjamin menjadi satu-satunya produk yang saat ini tersedia untuk melindungi pemakai dari infeksi seksual yang disebabkan oleh HIV. Ketika digunakan secara tepat kondom dapat menjadi alat yang efektif untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan dan laki-laki.
Diharapkan ketika melakukan hubungan seks, pasangan:
1. tidak berganti-ganti pasangan
2. memiliki hubungan monogamy dengan pasangan yang tidak terinfeksi HIV
3. seks non-penetratif jika pasangan terinfeksi HIV
4. penggunaan kondom pria atau wanita
2. Penularan dari ibu ke anak, Penularan HIV ke anak dapat terjadi ketika masa kehamilan, persalinan atau masa menyusui. Disarankan bagi wanita yang telah terbukti mengidap HIV untuk tidak hamil, namun penularan dari ibu ke anak dapat dikurangi dengan cara berikut:

Pengobatan: jelas bahwa pengobatan preventif antiretroviral jangka pendek merupakan metode efektif dan layak untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Terlebih lagi apabila dikombinasikan dengan dukungan dan konseling makanan bayi, dan penggunaan metode pemberian makanan yang lebih aman.

Operasi Caesar: Proses persalinan melalui vagina dianggap lebih meningkatkan resiko penularan dari ibu ke anak, sementara operasi caesar dapat menurunkan resiko tersebut. Namun, perlu dipertimbangkan pula keselamatan yang dihadapi ibu saat menjalankan operasi caesar.

Menghindari pemberian ASI: Walaupun ASI dianggap sebagai nutrisi yang terbaik bagi anak, bagi ibu penyandang HIV-positif sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula guna mengurangi resiko terhadap anak. Namun demikian ini hanya dianjurkan bila susu formula tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi anak.
Badan Kesehatan Dunia, WHO merekomendasikan apabila makanan pengganti dapat diterima, layak, harga terjangkau berkesinambungan, dan aman sangat dianjurkan bagi ibu penderita HIV-positif untuk tidak menyusui bayinya. Namun, apabila keadaan sebaliknya maka pemberian ASI eksklusif direkomendasikan pada bulan pertama kehidupan bayi, dan diputus sesegera mungkin.
3. Cara tambahan, pastikan apabila anda ingin menggunakan produk dengan jarum maka jarum tersebut bukan jarum bekas. Pastikan jarum tersebut baru atau telah disterilkan dengan baik dan benar sesuai prosedur.

Jika akan transfuse darah maka pastikan bahwa darah dan produk darah telah melalui tes HIV dan standar keamanan darah pun telah dilaksanakan.
Tidak berbagi alat cukur karena resiko penularan luka akibat alat cukur pun dapat menularkan HIV.
Singkat kata bagi Anda yang perduli terhadap kehidupan pribadi, dan kualitas hidup berkepanjangan, terlebih lagi bagi keluarga dan orang yang Anda sayangi maka lakukanlah ABCDE dibawah ini:
A : Anda jauhi hubungan seks

B : Bersikap saling setia pada 1 (satu) pasangan

C : Cegah dengan menggunakan kondom setiap melakukan hubungan seks

D : Dihindari pemakaian jarum suntik bekas!

E : Edukasi dan pelatihan (HIV/AIDS, napza & dampaknya, life skill education, dll)

Bagaimana Cara Mengetahui Status HIV?

Tes HIV merupakan cara untuk mendapatkan kepastian tertular HIV atau tidak. Karena orang HIV+ sering masih terlihat sehat atau merasa sehat tetapi bisa menularkan virus yang dibawanya kepada orang lain.
Cara untuk mengetahui status HIV pada seseorang adalah melalui VCT (Voluntary, Conseling Test) yakni merupakan konseling dan tes HIV secara sukarela.
Kegiatan konseling bersifat sukarela dan rahasia dilakukan sebelum dan sesudah tes darah untuk HIV di laboratorium. Tes HIV dilakukan setelah klien terlebih dahulu memahami dan menandatangani informed consent (surat persetujuan setelah mendapatkan penjelasan lengkap dan benar)
Tujuan Konseling
1. Menyediakan dukungan psikologik
2. Mencegah penularan HIV melalui pemnyebaran informasi perilaku yang berisiko menularkan kepada pasien dan mendukung perilaku hidup bersih dan sehat
3. Memastikan pengobatan yang efektif sedini mungkin
Konseling merupakan proses interaksi antara konselor & klien dengan memberikan dukungan mental – emosional kepada klien serta memandu klien menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi pengidap HIV/AIDS. Konseling dilakukan oleh konselor terlatih yang memiliki ketrampilan konseling dan pemahaman HIV dan AIDS
Berikut daftar klinik VCT, CST ataupun PMTCT yang ada di Kota Surabaya:
Sumber : Dinkes Kota Surabaya
Walaupun HIV/AIDS telah merajalela, jangan pernah menyerah dan membiarkan diri menghabiskan waktu dan biaya untuk tertular. Masih banyak jalan dan cara untuk menghindari dan mencegah penularan. Sadarlah bahwa kesehatan ada di tangan kita layaknya kehidupan yang kita jalani dan kita raih. ODHA bukanlah musuh, dukunglah dan rangkulah ODHA yang ada di sekitar Anda untuk terus melakukan konseling, pengobatan, dan pengawasan. Karena yang Ia hadapi tidak jauh dengan apa yang dihadapi orang normal, yakni pengendalian diri untuk menjadi lebih baik sebelum akhirnya ajal menjemput.(fie)
Kasus AIDS pada Kelompok Usia Muda Memprihatinkan.

Perkembangan penyakit AIDS yang sampai dengan saat ini belum diketemukan obat penyembuhnya.Pada kenyataannya jumlah penderita AIDS semakin berkembang pesat, sehingga penyakit tersebut menjadi masalah yang ditakuti masyarakat karena dampak yang ditimbulkan meliputi berbagai aspek Tidak hanya pada aspek kesehatan saja, namun juga menimbulkan dampak pada aspek agama, ekonomi, sosiial budaya, dan dapat meluas pada masalah yang makin kompleks. Ditinjau dari aspek kesehatan, masalah yang timbul pada penderita HIV/ AIDS adalah orang tersebut seumur hidup akan mengalami infeksi virus HIV yang dapat mengakibatkan melemahnya daya tahan tubuh sehingga sangat rentan tertular penyakit lain..Sedangkan ditinjau dari aspek ekonomi karena memerlukan biaya yang besar untuk memperkuat daya tahan tubuh penderita tentu akan mempengaruhi ekonomi keluarganya. . Visi Indonesia Sehat Tahun 2010 dan Penduduk Berkualitas Tahun 2015. Pada Era Globalisasi, pengaruh eksternal dari berbagai bidang makin mudah masuk ke dalam wilayah negara kita yang berpenduduk lebih dari 200 juta dengan letak geografinya yang sangat strategis antara benua Asia dan Australia. Termasuk pula mudah menjalarnya penyakit HIV/AIDS.Dengan memperhatikan Visi negara yang ingin mewujudkan penduduk sehat di tahun 2010 dan penduduk berkualitas di tahun 2015, diperlukan berbagai upaya yang serius diberbagai bidang termasuk upaya menanggulangi penyebaran HIV/AIDS Sasaran utama untuk dapat mewujudkan visi tersebut adalah para generasi muda yang diharapkan dapat menjadi generasi sehat dan berkualitas dalam meneruskan estafet kepemimpinan negara ini.Upaya tersebut tertuang dalam GBHN yang dijabarkan dalam Propenas.Bagaimana kenyataan yang kita hadapi saat ini ? Kenyataannya yang terjadi belum sesuai dengan yang diharapkan . Dari berbagai media masa, kita mengetahui keadaan yang sangat memprihatinkan, antara lain meningkatnya perkelahian antar anak-anak sekolah, makin banyak anak muda yang terlibat tindakan, pelecehan sexual makin marak, serta makin besar jumlah pengguna obat terlarang dan pengidap AIDS . Perkembangan Kasus AIDS pada Kelompok Generasi Muda. Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan mengenai Jumlah Pengidap Infeksi HIV dan Kasus AIDS , ternyata kelompok generasi muda yaitu kelompok usia 20-29 tahun dan kelompok usia 30-39 tahun menunjukkan jumlah lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia lainnya . Data Pengidap HIV dan Kasus AIDS. Sampai dengan 31 Desember 2000. Jumlah pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang dilaporkan sejak 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2000: 403 terinfeksi HIV dan 178 kasus AIDS.Dari 452 kasus yang dilaporkan , terbanyak ditemukan pada golongan usia 20 – 29 tahun 36,06 % dan kelompok usia 30 – 39 tahun 34,95 %. Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok usia 40-49 tahun sebanyak 14,82 %, kelompok usia 15-19 tahun 5,7 % dan kelompok usia 50-59 tahun 3,53 %. Sampai dengan 31 Mei 2001. Jumlah yang dilaporkan sampai dengan 31 Mei 2001 adalah 1454 pengidap infeksi HIV dan 502 kasus AIDS. Dari 502 kasus yang dilaporkan, terbanyak ditemukan pada kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 187 kasus (37,25 %), kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 170 kasus (33,86 %),kelompok usia 40-49 tahun sebanyak 70 kasus (13,9 %), kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 30 kasus (5,98 %), dan kelompok usia 50-59 tahun sebanyak 18 kasus (3,59 %) . Sampai dengan 31 Desember 2001. Jumlah pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang dilaporkan sampai dengan 31 Desember 2001 adalah 1904 pengidap infeksi HIV dan 671 kasus AIDS . Dari 671 kasus AIDS yang dilaporkan , terbanyak ditemukan pada kelompok umur 20 – 29 tahun ssebanyak 265 kasus (34,9%), urutan kedua yaitu kelompok usia 30-39 tahun sebanyak 227 kasus (33,83 %).Urutan berikutnya : kelompok usia 40 – 49 tahun sebanyak 78 kasus (11,62 %),kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 42 kasus (6,2 % ),kelompok usia 50 – 59 tahun sebanyak 23 kasus (3,42 %). Dari kasus AIDS tersebut, perlu diwaspadai karena jumlah kasus AIDS dari pengguna Narkotik suntik meningkat tajam. Kasus pengguna narkotik pertama diketemukan tahun 1993 hanya 1 kasus, tahun 1995 s.d 1998 tetap 1 kasus, tahun 1999 meningkat menjadi 10 kasus, tahun 2000 terdapat 65 kasus, dan tahun 2001 ( sampai 31 Desember 2001 ) 62 kasus . Perlu diketahui pula bahwa ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan yaitu 3,79 : 1.Sedangkan cara penularan kasus AIDS yang dilaporkan melalui heteroseksual sebanyak 53,65 %, homo seksual 13,71 %, serta IDU 20,86 %.Urutan kasus AIDS terbanyak DKI-Jakarta,,Irian Jaya ,Jawa Barat, Bali, Jawa Timur , Riau, dan Sulawesi Utara . Kesimpulan. Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa: * Kasus AIDS yang dilaporkan semakin lama semakin meningkat * Dari ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan ternyata cara hidup (utamanya dalam kegiatan seksual) laki-laki lebih tidak sehat daripada wanita.Sebetulnya posisi kaum wanita lebih rentan untuk terinfeksi HIV bila melakukan cara hidup yang kurang sehat . * Proporsi kasus AIDS tertinggi terdapat pada kelompok usia generasi muda yaitu urutan pertama kelompok usia 20-29 tahun dan urutan kedua pada kelompok usia 30-39 tahun . * Memperhatikan proporsi kelompok usia generasi muda yang rawan terinfeksi HIV dan cara penularan terbanyak melalui heteroseksual maka dipandang perlu dilakukan KIE melalui berbagai cara oleh semua sektor terkait dan perhatian dari para ibu untuk lebih memperhatikan pendidikan putra-putrinya . S a r a n. Dalam rangka ikut berpartisipasi dalam penanggulangan bahaya HIV/AIDS terhadap generasi muda perlu diupayakan: * Pendidikan budi pekerti diberikan sejak dini di sekalah dan di rumah. * Pendidikan seks secara sederhana mulai diberikan sejak dini di sekolah maupun diberikan oleh orang tuanya di rumah. * Perhatian orang tua terhadap pendidikan dan hubungan antara orang tua dan anak lebih ditingkatkan. * Penyuluhan tentang hidup sehat, keluarga yang berkualitas, dan ketahanan keluarga ditingkatkan melalui berbagai media komunikasi dan buku pendidikan ,serta oleh tokoh atau kader. . * Perlu diterbitkan peraturan pemerintah yang memberi sanksi berat pada pengedar / penjual narkotik ataupun media-media porno

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: