Awalbarri’s Blog

Januari 8, 2009

MODEL-MODEL PENELITIAN AGAMA

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 6:58 am

Agama Sebagai Doktrin, Agama Sebagai Produksi Budaya, Agama Sebagai Produk Interaksi Sosial

• Agama Sebagai Doktrin

Doktrin bahwa sebuah agama yang mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya, ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini ertanam kuat dalam psike dan mindset umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan sebuah keangkuhan sebuah agama. Kehadiran agama tidak terlalu dipandang penting negasi atas agama lain. Agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen belajar dari Islam, Islam belajar dari Yahudi, yahudi bias belajar dari Negara-negara timur.

Doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan islam atau agama yang bersangkuan adalah kafir. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam sebuah agama. Semua agama cendrung memandang bahwa mereka yang ada diluar lingkaran penyelamatan adalah domba-domba sesat.

• Agama Sebagai Produksi Budaya.

Budaya menuru koenjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan system gagasan tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Yojachem wach berkata tentang pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan.

Budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya.yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yan objektif. Factor kondisi objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengunkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat dan adapt istiadat.

• Agama Sebagai Produk Interaksi Sosial

Pada penelitian agama sebagai gejala sosial, masalahnya agak sedikit lebih komplek dan diperlukan sistemaika yang lebih tinggi ketimbang pada saat kita melihat agama sebagai gejala budaya. Sebab seperti diketahui, penelitian ilmu sosial pada dasarnya meskippun bukan penelitian kealaman. Desain penelitian aama sebagai gejala sosial akan menekankan pentingnya penemuan keterulangan gejala yang diamati sebelum sampai pada kesimpulan.

Untuk lebih jelasnya kita ambil sebuah contoh sebuah agama sebagai gejala sosial. Misalnya, sebuah hasil penelitian yang berjudul “Pandangan Ulama Tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi Sepiral (IUD) Dalam Program Keluarga Berencana.” Pertama-tama kita harus rumuskan persoalannya, kemudian persoalan itu akan dijabarkan apa yang disebut dengan pandanan. Misalnya dikatakan sebagai pandangan adalah sikap atau pendapat para ulama yang dikemukakan secara explicit dalam bentuk tulisan ataupun lisan. Sedangkan perbuatan dalam penelitian tidak bisa dijadikan dasar analisa.

ISLAM DAN KEBUDAYAAN

1. Apa Itu Kebudayaan

Dalam literature antropologi terdapat tiga istilah yang boleh jadi semakna dengan kebudayaan yaitu culture, civilizition, dan kebudayaan. Arti culture adalah memelihara, mengerjakan atau mengolah (S. Takdir alisyahbana, 1986:205). Istilah kedua yaitu sivilisasi (sivilization) berasal dari kata latin, yaitu civis. Arti kata civis adalah warga Negara (civitas = Negara kota, dan civilitas = kewarganegaraan)
Berikut beberapa pengertian kebudayaan menurut S. Takdir Alisyahbana (1986:207-8)

1. Kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsure-unsur yang berbeda-beda.
2. Kebudayaan adalah warisan sosial atau tradisi
3. Kebudayaan adalah cara, aturan dan jalan hidup manusia.
4. Kebudayaan adalah penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan.
5. Kebudayaan adalah hasil perbuatan atau kecerdasan manusia.
6. Kebudayaan adalah hasil pergaulan atau perkumpulan manusia.

Perasudi Suparlan (A. W. Widjaya (ed) 1986:65-6) menjelaskan bahwa kebudayaan adalah serangkaian auran-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dimiliki manusia dan yang digunakan secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah laku dan tindakan-tindakannya.

Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri atas unsure-unsur besar dan unsure-unsur kecil yang merupakan bagian dari satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Unsure-unsur kebudayaan dalam pandangan Malinowki adalah sebagai berikut:
1. Sistem norma yang memungkinkan terjadinya kerja sama antar para anggota masyarakat dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
2. Organisasi Ekonomi
3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan (keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama)
4. Organisasi kekuatan (Soerjono Soekanto, 1993:192)

Disamping itu terdapa kebudayaan yang bersifat universal (cultural universal) karena dapat dijumpai pada setiap kebudayaan yang ada di dunia ini. C. Kluckhohn, seorang antropolog, telah menguraikan alasan para sarjana mengenai hal itu yang disederhanakan menjadi tujuh. Tujuh unsur yang dianggapnya sebagai cultural universal adalah sebagai berikut:

1. Peralatan atau perlengkapan hidup manusia
2. Mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi.
3. Sistem kemasyarakatan.
4. Bahasa (lisan atau tulisan)
5. kesenian.
6. Sistem pengetahuan
7. Religi (sistem kepercayaan)

A. Posisi dan Fungsi Hadist
Umat islam sepakat bahwa hadist merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur’an, kesepakatan mereka didasarkan ada Nas, baik yang terdapat dalam Al-Qur’an maupun Hadist dalam Al-Qur’an maupun Hadist.
Keberadaan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, selain ketetapan Allah yang dipahami dalam ayatnya secara tersirat, juga merupakan Ijma’ (konsensus) seperti yang terlihat dalam perlakuan para sahabat. Misalnya: Penjelasan Usman bin Affan mengenai etika makan cara duduk dalam shalat, umar bin khatab mencium hajar aswad karena mengikuti jejak rasul

IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

A. Pengertian Ijtihad
Secara bahasa Ijtihad berasal dari kata jahada. Kata ini beserta variasinya menunjukkan pekerjaan yang dilakukan lebih dari biasa. Kata ini pun berarti kesanggupan (al-wus), kekuatan (al-thaqah), dan berat (al-masyaqqah). Dalam al-sumnah, kata ijtihad terdapat dalam sabda nabi yang artinya: pada waktu sujud, bersungguh-sungguhlah berdo’a (fatahidu fi al-du’a)

B. Dasar-Dasar Ijtihad
Adapun yang menjadi dasar hukum ijtihad ialah Al-Qur’am dam Al-sunnah, diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar ijtihad adalah sebagai berikut:
“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena membela oraqng Khianat….” (Q.S. ak-Rum [30]: 21).

DOKTRIN KEPERCAYAAN DALAM ISLAM

A. Iman Kepada Allah
“Musa berkata : wahai Tuhanku, ajarkanlah sesuatu kepadaku yang dapat kupergunakan untuk memuji dan menyambutmu” Allah menjawab, “Wahai Musa, ucapkanlah Ia Ilahi Illa Allah” Musa berkata “ semua hambamu telah mengucapkannya” Tuhan berkata, “ tidak apa-apa”. Sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta isinya, selain aku, diletakkan pada satu sisi timbangan lainnya di letakkan kalimat Ia Ilahi Illa Allah, niscaya timbangan yang berisi kalimay Ia Ilhi Illa Allah akan lebih berat dengan yang satunya lagi. (Moehammad Tharir Badrie, 1984:110) ia merupakan bagian dari lafad syahadatin yang harus diucapkan oleh seseorang yang akan masuk dan memeluk agama islam.

B. Kemustahilan Menemukan Zat Allah
Allah adalah maha esa, baik dalam zat sifat maupun perbuatan, Esa dalam zat artinya, Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian yang terpotong-potong dan dia pun tidak mempunyai sekutu. Esa dalam sifat berarti bahwa tak ada seorang pun yang mempunyai sifat dimiliki oleh Allah.
Allah dengan sifat rahman dan rahim-nya, telah membekali manusia dengan akal dan pikiran untuk dapat dingunakan untuk menjalankan kehidupannya. Akal pikiran itu merupakan ciri keistimewaan yang dimiliki oleh manusia, sebagai faktor pembeda antara manusia demgan mahluk lainya. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “ Allah tidak dapat dicapai dalam penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala penglihatan itu dan dialah yang maha halus lagi maha mengetahui.

C. Aggrumen Keberadaan Allah
Ada tiga yang menerangkan asal kejadia alam semesta yang mendukung keberadaan Tuhan, pertama, paham yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada dari yang tidak ada (creatio ex-nihilo) ia terjadi dengan sendirinya. Kedua, paham dengan mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sel (jauhar) yang merupakan inti. Ketiga, paham yang mengatakan bahwa alam semesta itu ada yang mencipatakan. (sayid syabiq, 1974:61)
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang menjelaskan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Sebagi contoh, berikut ini dikemukakan ayat-ayat yang mendukung peryataan tersebut.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memlihara segala sesuatu kepunyaan-Nya-lah (perbendaharaan) langit dan bumi dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah yang orang-orang yang merugi. (Q.S. al-Zumar [39]:62-63).
“Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang maha mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia-lah yang maha pemurah maha penyayang. (Q.S.al-Hayr [59]:22).”

D. Iman Kepada Pesuruh Allah Dan Ketentuan Allah
1. Iman Kepada Malaikat Allah
2. Iman Kepada Kitab-Kitab Allah
• Kitab Al-Qur’an Al-karim
• itab Injil
• Kitab Taurat
• Kitab Zabur
3. Iman Kepada Rasul-Rasul Allah
4. Iman Kepada Alam Gaib

BAB II
ISLAM PADA MASA SEKARANG

A. ISLAM DI EROPA
Perkembangan Islam di Eropa
Selama 20 tahun terakhir jumlah kaum muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terus menerus ini bukan hanya dikaenakan jumlah mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang terutama orang Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika Serikat) kepada Islam. Demikianlah perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”. Dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali pada nilai-nilai agama dan spritual, yang dialamai dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.

Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa
Penelitian juga mengungkap bahwa seiring dengan menigkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama dikalangan para mahasiswa.. Menurut survey yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslim terus melaksanakan sholat, pergi ke Mesjid dan berpuasa. Kesadaran ini mulai menonjol dikalangan mahasiswa universitas.
Dalam sebuah laporan yang didasarwkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Akuel menyatakan,para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun kedepan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa
Bersamaan dengan kajian dan demografis ini , kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.
Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, Negara Andalusia (756-1492) si Semenanjung Iberia dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291) serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renasisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika dan banyak bidang lainnya,kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

Bersatu pada Pijakan Bersama : “ Monoteisme”
Perkembangan Islam juga tercerminkan dalam perkembangan dialog antar agama baru-baru ini. Dialog-dialog ini berawal dengan pernyataan bahwa tiga agama monoteisme (Islam,Yahudi dan Nasrani) memiliki pijakan yang sama dan dapat bertemu pada satu titik yang sama. Dalam Al Qur’an Allah memberitahukan pada kita bahwa kaumMuslim mengajak kaum Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi ) untukbersatu pada satu pijakan yang disepakati bersama
Katakanlah : “ Hai Ahli Kitab marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “ Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Ali’Imran : 3-4).

Ketiga agama yang meyakini satu Tuhan tersebut memiliki keyakinan yang sama dan nilai-nilai moral yang sama.Percaya kepada keberadaan dan keesaan Tuhan,malaikat, Nabi, Hari Akhir, Surga dan Neraka adalah ajaran pokok keimanan mereka. Di samping itu,pengorbanan diri,kerendahan hati, cinta, berlapang dada, sikap menghormati, kasih saying, kejujuran, menghindar dari berbuat dzalim dan tidak adil, serta berperilaku mengikuti suara hati nurani semuanya adalah sifat-sifat akhlak terpuji yang disepakati bersama. Jadi, karena ketiga agama ini berada pada pijakan yang sama,mereka wajib bekerja sama untuk menghapuskan permusuhan, peperangan dan penderitaan yang diakibatkan oleh ideologi-ideologi antiagama. Ketika dilihat dari sudut pandang ini, dialog antar-agama memegang peran yang jauh lebih penting. Sejumlah seminar dan konferensi yang mempertemukan para wakil dari agama-agama ini, serta pesanperdamaian dan persaudaraan yang dihasilkannya, terus berlanjut secara berkala sejak pertengahan tahun 1990-an.

AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER ISLAM

A. Fungsi Al-Qur’an

Menurut pendapat yang paling kuat, seperti yang di kemukakan oleh Subhi Shahih Al-qur’¬an berarti bacaan. la, merupakan kata turunan (mashdar) dari kata qara’a (fi’l madli) dengan arti ism al-maf ul yaitu maqru’ yang artinya artinya di baca ( Al-Qur’an dan terjemahannya, 1990: 15). Pengertian ini merujuk pada sifat Al-Qur’an (Q.S Al-Qiyamah [75]: 17-18) dalam ayat¬ tersebut, Allah berfirman:
” Scsungguhnya atas tanggungan kamil,111 111elIgUnipulkannya (di dadainu) dan (niettibunt kamu pandai) membacanya. Apabila kami telah telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaan itu,” (Q.S Al-Qivamah [751:17-18).
Kata Al-Qur’an selanjutnya dipergunakan untuk menunjukkan kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW (kalam Allah AL-Munazzah ila Nabi Muhammad SAW). Kalam Allah yang di wahyukan kepada nabi-nabi selain Nabi Muhammad SAW tidak di namai Al-Qur’an seperti Taurat yang di turunkan kepada Nabi Musa a.s, Zabor kepada Nabi Dawud a.s, dan Injil kepada Nabi Isa a.s.
Demikian fungsi Al-Qur’an yang diambil dari nama-namanya yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an. Sedangkan fungsi Al-Qur’an dari pengalaman dan penghayatan terhadap isinya bergantung pada kualitas ketakwaan fungsi individu yang bersangkutan. Karena bersifat personal, maka pengalaman tersebut hamper dipastikan berbeda-beda, meskipun persamaan-persamaan.

IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM

A. Jihad Sebagai Sumber Ajaran Islam

1. Pengertian Ijtihad
Ijtihad adalah sendi Islam yang ketiga, sesudah AI-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut harfiah, ijtihad berasal dari kata ijtahada, artinya mencurahkan tenaga, memeras pikiran, berusaha sungguh-sungguh, bekerja semaksimal mungkin, Nicolas P. Aghides menyebut ijtihad itu sebagai ” The Exercise of Independent though ” ( penggunaan pendapat bebas ). Secara definisi umum adalah ” segala pekedaan yang mempergunakan segala kesanggupan daya rohaniyah untuk mengeluarkan hukum syara’, menyusun suatu pendapat dan suatu masalah hukum dasar Al-Qur’an dan Sunnah.”

2. Dasar-Dasar Ijtihad
Adapun yang menjadi dasar hukum ijtihad Al-Qur an dan Al-Sunnah. Diantara ayat AI-Qur’an yang menjadi dasar ijtihad adalah sebagai berikut.
” Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili anatara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang ( orang yang tidak bersalah ) karena ( membela ) orang-orang yang khianat. (Q.S AL-Nina 4 ; 105 )
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir ( Q.S Al-Rum: 21 )
Adapun unnah yang menjadi dasar ijtihad diantaranya oleh Imam Bukhari Muslim
dan Ahmad yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad bersabda :
Artinya : Apabila seorang hakim menetapkan hukum dengan berijtihad kemudian dia benar maka ia mendapatkan dua pahala. Akan tetapi jika la menetapkan hukum dalam ,ijtihad itu salah maka ia mendapatkan satu pahala. ( Muslim, H.tlh;62)

3. Syarat-syarat Mujtahid
Mujtahid adalah orang yang mampu melakukan ijtihad melalui cara istinbath mengeluarkankan hukum dari sumber hukum syariat dan tathoiq (penerapan hukum) Muhammad bin Ali Muhammad Al-Syaukani menyodorkan syarat-syarat mujtahid sebagai berikut:
1. Mengetahui Al-Qur’an dan Assunah yang tertalian dengan masalah, masalah hukum.
2. Mengetahui ijmah sehingga tidak berfatwa atau berpendapat yang menyalam ijmak utama.
3. Mengtahui bahasa arab karma Al-Quean dan As-Sunnah disusun dalam bahasa Arab
4. Mengetahui ilmu Ushul Fiqih
5. Wengetahui nasikh mansukh sehingga tidak berfatwa atau berpendapat berdasarkan dalil yang sudah mansukh.

B. ljtihad Sebagai Sumber Dinamika

Dengan ini umat islam dihadapkan kepada jumlah peristiwa kekinian yang menyangkut berbagai aspek kehidupan. Peristiwa-peristiwa itu memerlukan penyelesaian yang seksama. lebih-lebih untuk kasus yang tidak tegas di tunjuk oleh nas. Dibalik itu, kata Roter Garaudy yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat ( 1989:39 ).
Tantangan umat sekarang ada dua macam, taklid kepada barat dan taklid kepada masa lalu. Taklid pertama muncul karena ketidakmampuan dalam membedakan antara medernisasi dan cara hidup barat sedangkan taklid model kedua muncul karena ketidakmampuan dalam membedakan antara syariat yang merupakan wahyu dan pandangan fuqaha masa lalu tentang syariat itu.
Melalui persoalan-persoalan di atas. umat islam dituntut untuk keluar dari kemelut itu, ljtihad menjadi sangat penting meskipun tidak biasa dilakukan oleh setiap orang. Adapun kepentingannya itu disebabkan oleh hal-hal berikut :
 Jarak antara kita dengan masa tarsi’ semakin jauh
 Syariat disampaikan dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara konprehensip
ljtihad diperlukan untuk menumbuhkan kembali ruh ISlam yang dinamis menerobos kejemuhan dan kebekuan, memperoleh menfaat yang sebesar-besarnya dari ajaran islam, mencari pemecahan islami untuk masalah-masalah kehidupan kontemporer, ljtihad juga adalah saksi bagi keunggulan Islam atas agama-agama lainnya. ( Ya’lu wa la yula’alaih)

C. jtihad Sebagai Pembentuk Kebudayzan Islam
Tentang ljtihad, Dr. Muhainmad iqbal berkata ; “is the principle of momvement in the structure of islam” ( ljtihad itu merupakan prinsip gerakan di dalam stuktur Islam ). Ijtihad dalam rumusan lain ialah ” mengerahkan cipta, rasa dan karsa untuk menghasilkan suatu kreasi.

Ijtihad itulah yang menjadi kerakterisak manusia, merupakan keistimewaan yang membedakan dan manusia dari makhluk-makhluk lainnya di dunia ini. ljtihad yang merupaka, daya cipta manusia harta dimanfaatkan sebagai kekuatan dalam hidup dan kehidupan di humi. Maka dengan Ijtihadlah manusia dapat rnempelajari, Menganalisa dan mengeksploitis rahasia-rahasia alam.

Dimensi-Dimensi Dan Ritual Serta Insitusi
Dalam Islam

A. Dimensi-Dimensi Islam : Islam, Iman dan Ihsan
Dimensi Islam yang dimaksud disini adalah tentang sisi keislaman seseorang, yaitu iman, dan ihsan. Dimensi Islam berawal dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam masing-Masing kitab shahihnya. Nurkholish Majid menyebutnya sebagai trilogy ajaran Ilahi.
Artinya :
“Nabi Muhammad SAW keluar dan (berada di sekitar sahabat) seseorang, datang menghadap beliau dun bertanya : “Hai Rasul Allah. apakah yang dimaksud dengan Iman? Beliau menjawab : “Iman engkau, percayaa kepada Allah, Malaikai-Nya. Kitabnya, pertenman denga-Nya pura utusan-Nya dan percaya kepada kebangkitan. Laki-laki itu kemudian bertanya lagi “apakah yang dimaksud dengan islam? Beliau inenjawah : “Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak musryik kepada-Nya engkau tegakkan sholat yang wajib dan engkau berpuasa pada bulan ramadhan”. Laki-laki itu kemudian bertaya lagi “ apakah yang dimaksud dengan ihsan? ” Nabi Muhammad SAW menjawab “Engkau sembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya apabila engkau tidak melihat-Nya maka(engkau berkeyakinan) bahwa Dia melihatmu. ‘ (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas dapat diambil simpulan bahwa iman, islam, dan ihsan dapat di bedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Antar satu dengan lainnya memiliki keterikatan. Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak abash tanpa Iman dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa islam.
Ibnu Taimiah nenjelaskan bahwa din itu terdiri dari tiga unsur, yaitu islam, iman. dan ihsan. Dalam tiga unsur tersebut terselip makna tingkatan orang mulai dengan islam, kemudian berkembang kearah iman, dan memuncak dalam ihsan.
Imam Al-Syahrastani (t.th: 40-1) dalam kitabnya Al-Afinal wa At-Nihal Menjelaskan bahwa islam adalah menyerahkan diri secara lahir. Oleh karena itu, baik mukmin maupun munafik adalah muslim. Sedangkan iman adalah pembenaran terhadap Allah, para utusan-Nya. kitab-kitab-Nya, hari kiamat dan menerima Qadla dan qadar. Integrasi antara islam dan iman adalah kesempurnaan (aL-kamal). Atas dasar penjelasan tersebut Al-Syahrastani juga menunjukkan bahwa islam adalah mabda’ (pemula). Iman adalah wasath (menengah), dan ihsan adalah al-kamal (kesempurnaan).

11. Aliran-Aliran dalam Islam
 Syari’ah
Kata syariah adalah bahasa Arab yang diambil dari rumpun kata syara’ah. Dalam hahasa Indonesia artinya jalan raya. Kemudian bermakna jalannya hukum. Dengan kata lain jalannya perundang-undangan. Karena itu pula dalam istilah istilah Syariah Islam” adah memberi arti hidup yang harus dilalui atau undang-undang yanh harus dipatuhi oleh orang Islam
Seluruh hukum dan perundang-undangan yang terdapat dalam islam baik yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan maupun antara manusia itu sendiri adalah Syari’ah islam dan segala hukum yang diciptakan oleh manusia sendiri adalah syari’ah buatan manusia.
Berdasarkan doktrin Islam, syari’ah itu dari Allah. Oleh karena itu sumber syari’ah ialah datangnya dari Allah, yang disampaikan Allah kepada manusia dengan perantaraan Rasul-Nya yang termaktub dalam kitab Al-Qur’an. Arti syari’ah juga telah dijelaskan dalam Al-Qur’an sehingga dengan demikian kita dapat menentukan langsung makanya yang asli. Firman Allah :
Artinya :
“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) menjalan. syariah (hukum) dalam seliap urusan, maka turutilah ketentuan itu dan janganlah turuti keinginan orang-orang yang tidak tabu (Al-jatsiah : 18)

Oleh karena syaria’ah itu adalah hukum Allah dan perundang-undangan dari Tuhan yang Maha Sempuma maka pasti pula hukum dan perundang-undangan-Nya sempurna pula. Pencipta perundang-undangan tersebut berkehendak agar manusia teratur tertib dalam kehidupannya dan tidak lain semata-mata hanyalah untuk kebahagiaan lahir dan batin manusia.
Adapun asas-asas svari’ah sebagai berikut
1. Tidak memberatkan Sesuai dengan missi Islam sebagai rahmat bagi manusia, maka Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala hal yang memberatkan dan mengacaukan hidupnya. Manusia adalah makhluk dhai’if (lemah). memiliki kadar kemampuan yang terbatas. Sebab itu hukum Tuhan tidak akan memaksa manusia sampai melampaui batas kemempuannya
“Allah tidak membehani seseorang melainkan sesuai dengan kiemampuannya (AI-Baqarah: 286)

“Allah tidak menciptakan dalam islam itu suatu kesulitan ” (Al-Haj:78)

2. Sangat sedikit mengadakan kewajiban secara terperinci yaitu perintah dan larangan. Perintah-perintah dan larangan-larangan itu sangat sedikit sehubungan dengan perinsip pertama, karena banyak kewajiban berarti memberi beban dan memberatkan manusia. Maka hal-hal yang tidak disebut itulah menjadi mubah (boleh). Firman Allah SWT :

Artinya :”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu Tanya hal-hal yang jika diterangkan kepada kamu, menyusahkan kamu ” (At-Amaidah : 101)

3. Syari’ah datang dengan prinsip graduasi (berangsuran, secara sukaligus. Contohnya saja tentang masalah judi dan minum khamar, pekerjaan tersebut tidak dilarang sekaligus. Pertama kali Al-Qur’an menerangkan bahwa judi dan khamar itu mempunyai bahaya dan manfaat bagi manusia. hanya saja bahayanya lebih besar daripada manfaatnya (Al-¬Baqarah: 219). Kemudian dalam tahap kedua al-qur’an melarang orang melakukan shalat dalam keadaan mabuk (An-Nisa: 43) kemudian ,Al-Qur’an menetapkan voniss atas perbuatan itu. bahwa khamar dan Judi hukumnya haram. permainan syetan (Al-Maidah : 90)

 Tariqah
Thariqat menurut bahasa artinya jalan. cara. garis. kedudukan. keyakinan dan agama. Kamus “Modern Dictionary Arabic – English oleh El Elias Anthon dan Edward Elias, edisi IX. Kairo, tahun 1954 menyatakan bahwa thariqat ialah way (cara atau jalan). Method dan sistem of belief (methoda dan suatu sistem kepercayaan. Firman Allah SWT
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezdalimam Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkanjalan kepada mereka (An-Nisa: 168)

Artinya:
“Melainkan jalan ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (An-Nisa: 169)

Tharikat Nabi SAW yang diikuti oleh sahabat-sahabatnya dan diikuti pula oleh ulama-ulama syara’ dan tasawuf ialah mengamalkan hukum yang yang dibawa Rasul yang sekalian yang wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.
Maka kewajiban yang mula-mula ialah mengetahui I’tikad terhadap Tuhan dan Rasul yang diterangkan dalam ilmu Tauhid. Kemudian mengetahui peraturan amalan yang berhubungan dengan ibadat yang diterangkan dalam ilmu Fiqih. Dan seterusnya mempelajari ilmu untuk membersihkan hati yang diterangkan dalam ilmu tasawuf.
Orang-orang yang mengamalkan ilmu yang tiga itu. menurut Ahmad Khatib ialah yang dinamakan mengamalkan thariqat Nabi SAW. thariqat sahabat ulama dan wali-wali

 Sufisme
beberapa defenisi dari kata sufi diantaranya:
1) Sebagian berkata para Sufi diberi nama sufi karena kesucian (safa’) hati mereka dan kebersihan tindakan mereka (athar) Bishr bin Al-Harith berkata: “Sufi adalah orang yang hatinya tulus kepada Allah. Tapi bila istilah sufi berasal dari Sala’ bentuk yang tepat seharsnya adalah safawi dan bukan Sufi.
2) Yang, lain berkata:”disebt Sufi karena mereka berada di baris pertama (saff) di depan Allah. melalui pengagkatan keinginan mereka kepadanya dan tetapnya kerahasiaan mereka di hadapan-Nya. Tapi bila istilah sufi mengacu kepada saff (tingkatan) maka seharusnya saffi dan bukan sufi.
3) Yang lain berkata : “Mereka disebut kaum sufi karena sifat-sifat mereka menyerupai orang-orang yang hidup pada masa Rasul. Tapi apabila istilah sufi diartikan suffah bentuk yang benar adalah suffi bukan sufi.
4) Terakhir adalah anggapan bahwa mereka disebut sufi karena kebiasaan mereka memakai suf (wol), karena mereka tidak memakai pakaian yang halus disentuh dan indah dilihat, untuk menyenangkan jiwa. Mereka memakai pakaian hanya untuk menutupi ketelanjangan mereka dengan bahan yang terbuat dari kain bulu dan wol kasar.

Bila sepintas anda melihat defenisi dari sufisme yang dinyatakan oleh orang sufi sendiri anda akan banyak mendapat keterangan tentang mereka. Tapi intisari dari beberapa defenisi ini dapat ditampilkan dengan defenisi yang dirimiskan Syaikh Al-Islamzakariyah Ansari: “Tasawuf mengajarka cara untuk menyucikan diri, meningkatkan moral dan membangun kehidupan jasmani dan rohani guna mencapai kebahagiaan abadi. Unsur utama tasawuf adalah panyucian jiwa, dan tujuan akhirnya adalah tercapainya kebahagiaan dan keselamatan abadi.

C. Ritual dan Istitusi Dalam Islam
Pembahasan tentang tema ini dibagi menjadi dua. yaitu : ritual dan intitusi.

1. Ritual Dalam Pcr%pektif Sosioligi
Semua agama mengenai ritual karena setiap agama memiliki ajaran tentang, hal yang sacral. Salah satu tujuan pelaksanaan ritual adalah penieliaharazin dan Pelestarian kesakralan. Disamping itu, ritual meruapakan tindakan yang memperkokoh hubungan pelaku dengan objek yang suci dan memperkuat solidaritas kelompok yang menimbulkan rasa aman dan kuat mental. Dan kesemuanya itu dilakukan berdasarkan kepercayaan.
Dalam analisasi Djamari (1993:36) ritual ditinjau dari dua segi : tujuan (makna) dan cara. Dari segi tujuan, ada ritual yang tujuannya untuk bersyukur kepada Tuhan, ada ritual yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapat keselamatan dan rahmat dan ada juga tujuannya untuk meminta ampun atas kesalahan pang dilakukan.
Adapun dari segi Cara, ritual dapat dibedakan menjadi dua : individual dan kolektif. Sebagian ritual dilakukan secara perorangan, bahkan ada yang dilakukan dengan mengisolasi diri dari keramaian, seperti meditasi, betapa dan yoga. Ada pula ritual yang dilakukan secara kolektif (umum), seperti khotbah, shalat berjama’ah dan haji.
George Homans menyatakan ritual berawal dari kecemasan. Dan ia menjelaskan bahwa kecemasan primer dan kecemasan sekunder melahirkan ritual sekunder.

2. Ritual Islam
Ritual dalam islam dapat dibedakan menjadi 2: ritual yang berdalilkan melalui al¬qur’an dan hadits dan ritual yang tidak memiliki dalil dari al-qur’an dan hadits. Ritual ditinjau dari segi tingkatan : primer, sukunder dan tertier.
Dari sudut mukallaf, ritual Islam dapat dibedakan menjadi dua: ritual yang diwajibkan kepada setiap orang dan ritual yang diwajibkan pada setiap individu tetapi dapat diwakilkan. Sedangkan dilihat dari segi tujuan. ritual dapat dibedakan menjadi 2 pula: yaitu ritual yang bertujuan untuk mendapatkan ridha Allah yang bersifat ukhrowi jam ritual yang bertujuan mendapatkan balasan di dunia. seperti shalat istisqa yang dilaksanakan untuk meminta turunnya hujan.
Demikian ritual islam dikaji dari berbagai aspek dan segi. Kajian tersebut pada dasarnya dapat dilakukan secara bervariasi sehingga tidak mungkin untuk menutupi perbedaan antara satu dengan lainnya. Oleh karena itu, penempatan satu ritual pada posisi tertentu bias berbeda-beda, karena ajaran dasar agama kita tidak menyebutnya secara eksplisit.

3. Institusi
Dalam bahasa Inggris dijumpai dua istilah yang mengacu kepada pengertian institusi (lembaga), yaitu institute dan institution. Istilah pertama menekankan istilah institusi sebagai sarana atau organisasi untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan istilah kedua menekankan istilah institusi sebagai suatu system norma untuk memenuhi kebutuhan (Muhammad Daud Ali dan Habibah Daud, 1995:1).
Pengertian-pengertian sosial institution yang lain dikutip oleh Soerjono Soekanto, (1987:179) adalah sebagai berikut :
• Menurut Robert Mac Ivey Charles H. Page, so:aal institution ialah tata Cara atau prosedur yang telah diciptakan, untuk mengatur manusia yang berkelompok dalam satu kelompok kemasyarakatan.
• I loward Becker mengartikan sosial institution dari sudut fungsinya. Menurutnya ia merupakan jaringan dari proses hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia yang berfungsi meraih dan memelihara kebutuhan hidup mereka.
• Sumner melihat sosial institution dari segi kebudayaan. Menurutnya sosial institution adalah perbuatan, cita-cita, sikap dan perlengkapan kebudayaan yang mempunyai sifat kekal yang bertujuan memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Ada beberapa fungsi dari unsur-unsur institusi, diantaranya :
• Memberikan pedoman pada masyarakat dalam upaya melakukan pengendalian sosial berdasarkan system tertentu,yaitu system pengawasan tingkah laku
• Menjaga stabilitas dan keamanan masyarakat
• Memberikan pedoman kepada masyarakat tentang norma tingkah laku yang seharusnya dilakukan dalam memenuhi kebutuhan mereka.
Berdasarkan fungsi-fungsi institusi yang di ungkapkan di atas,seorang peneliti yang bermaksud mengadakan penelitian tingkah laku masyarakat selayaknya memperhatikan secara cermat institusi-institusi yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.
ISLAM DAN KEMANUSIAAN

1. Pengertian Agama Islam
Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama Islam, yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang Islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut.
Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian.\
Senada, dengan pendapat di atas, cumber lain mengatakan bahwa Islam berasal dari bahasa Arab, terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa. Dari asal kata itu terbentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri, tunduk, patuh dan taat. Kata aslama itulah yang menjaclikan kata Islam yang mengandung patuh, dan taat. Kate aslama itulah yang menjadikan kata Islam yang mengandung arti segala arti yang terkandung dalam arti pokoknya. Oleh sebab itu, orang yang berserah diri, patuh, dan taat disebut sebagai orang Muslim. Orang yang demikian berarti telah menyatakan dirinya taat, menyerhkan diri, dan patuh kepada Allah Swt. Orang tersebut selanjutnya akan dijamin keselamatannya di clunia, dan di akhirat.
Dari pengertian kebahasaan ini, kata Islam dekat dengan arti kata agama yang berarti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, dan kebiasaan. Senada dengan itu.Nurcholis Madjid berpendapat bahwa sikap pasrah kepada Tuhan merupakan hakikat dari pengertian Islam. Sikap ini tidak saja merupakan ajaran Tuhan kepada hamba-Nya. Tetapi ia diajarkan oleh-Nya dengan disangkutkan kepada alam, manusia itu sendiri. Dengan kata lain ia diajarkan sebagai pemenuhan alam manusia, sehingga pertumbuhan perwujudannya pads manusia selalu bersifat dari dalam, tidak tumbuh, spa lagi dipaksakan dari luar, karena cars yang demikian menyebabkan Islam tidak otentik, karena kehilangan dimensinya yang paling mendasar dan mendalam, yaitu kemurniaan dan keikhlasan.
Dengan pendapatnya yang demikian itu, Nurcholis Madjid kelihatannya ingin mengajak pembaca untuk memahami Islam dari sisi manusia sebagia makhluk yang sejak dalam kandungannya sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, sebagaimana yang demikian itu telah diisyaratkan dalam Surat Al-A’raf ayat 172 tentang kebutuhan rnanusia pads agama.
Pengertian Islam demikian itu, menurut Maulana Muhammad Ali dapat dipahami dari firman Allah yang terdapat pads ayat 2002 surat Al¬Baclarah yang artinya, hai orang-orang yang beriman, masuki.lah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah¬langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Dan juga dapat dipahami dari ayat 61 surat Al-Anfal yang artinya: dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dari uraian di atas, kita sampai pads suatu kesimpulan bahwa kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Tuhan dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Hal demikian dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura, melainkan sebagia panggilan dari fitrah dirinya sebagai makhluk yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan patuh dan tunduk kepada Tuhan.
Dengan demikian, secara antropologi perkataan Islam sudah menggambarkan kodrat manusia sebagai makhluk yang tunduk dan patuh kepada Tuhan. Keadaan ini membawa pads timbulnya pemahaman terhadap orang yang tidak patuh dan tunduk sebagai wujud dari penolakan terhadap fitrah dirinya sendiri. Demikianlah pengertian Islam dari segi kebahasaan sepanjang yang dapat kita pahami dari berbagai cumber yang dikemukakan pars ahli.
Adapun pengertian Islam dari segi istilah akan kita dapati rumusan yang berbeda-beda. Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa Islam menurut istilah (Islam sebagai agama), adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia. melalui Nabi Muhammad saw. Sebagai Rasul. Islam pads hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenal satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.
Sementara itu Maulana Muhammad Ali, mengatakan bahwa Islam adalah agama perdamaian, dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat manusia menjadi bukti nyata, bahwa agama¬agama seluruh nabi Allah, sebagaimana tersebut pads beberapa ayat kitab suci Al-Qur’an, melainkan pula pads segala sesuatu yang secara tak sadar tunduk sepenuhnya kepada undang-undang Allah, yang kita saksikan pads alam semesta.

2. Peranan Manusia Sebagai Khalifah
Ajaran Islam tentang manusia samasekali berbeda dengan agama¬agama lainnya. Manusia diperkenalkannya dengan men.ielaskan fungsinya di dunia ini. Manusia itu adalah khalifah Allah di bumi. Makhluk yang bertuga mengurus bumi dengan seluruh isinya, dan berkewajiban memakmurkannya sebagai amanah dari Allah Swt.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: