Awalbarri’s Blog

Desember 25, 2008

Penetapan Jumlah Asam Lemak Bebas dan Triasilgliserol Permukaan Kulit pada Akne Vulgaris

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 7:03 am

ABSTRAK

Akne vulgaris merupakan peradangan unit pilosebaseus. Etiologi maupun pato-

genesisnya belum diketahui secara menyeluruh, akan tetapi banyak faktor mempengaruhi

timbulnya penyakit ini. Terdapat 4 faktor utama yang saling berkaitan dalam pato-

genesis akne, yaitu : penyumbatan saluran pilosebaseus, peningkatan produksi sebum,

perubahan susunan lipid permukaan kulit dan kolonisasi bakteri dalam folikel sebaseus.

Asam lemak bebas diduga memegang peranan penting pada patogenesisnya. Kurang

lebih 95% asam lemak bebas permukaan kulit merupakan basil hidrolisis triasilgliserol

oleh lipase yang diproduksi mikroorganisme, khususnya Corynebacterium acnes.

Akhir-akhir ini dikembangkan pengobatan akne dengan antibiotika topikal.

Untuk melihat efek pengobatan klindamisin fosfat topikal terhadap susunan lipid

permukaan kulit pasien akne dilakukan pengukuran asam lemak bebas dan triasilgliserol

permukaan kulit sebelum dan sesudah pengobatan.

Sampel lipid diambil dari dahi pasien akne dengan kertas serap. Lipid diekstraksi

dengan eter. Asam lemak bebas dalam ekstrak diukur secara spektrofotometri dan jumlah

triasilgliserol ditetapkan dengan menggunakan kit dan Merck (MERCK 14341). Telah

diperiksa 40 orang pasien akne inflamasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pengobatan klindamisin fosfat 1% topikal selama

8 minggu menyebabkan penurunan bermakna jumlah asam lemak bebas permukaan

kulit, yang umumnya disertai dengan perbaikaq klinis. Jumlah triasil gliserol tidak me-

nunjukkan perubahan yang bermakna.

PENDAHULUAN

Akne vulgaris merupakan peradangan unit pilosebaseus, di-

tandai oleh komedo, papul, pustul, nodus dan kista yang ter-

utama didapatkan di daerah kulit yang kaya akan kelenjar

sebasea seperti muka, leher, dada dan punggung.’ Kelainan ini

sering ditemukan pada masa remaja.’ Walaupun jarang mem-

bahayakan kehidupan, efek kosmetiknya sering menimbulkan

masalah psikologis, bahkan pada kasus yang ekstrim menyebab-

kan keinginan untuk bunuh diri.

2

Etiologi maupun ,patogenesis akne belum seluruhnya di-

ketahui, tetapi banyak faktor diduga mempengaruhi timbulnya

kelainn ini, di antaranya ialah faktor hormonal, diit, iklim,

stress emosional, predisposisi genetik dan kosmetik.

1

Terdapat

empat faktor utama yang saling berkaitan dalam patogenesis

akne, yaitu : penyumbatan saluran pilosebaseus, peningkatan

produksi sebum, perubahan biokimia- susunan lipid permukaan

kulit dan kolonisasi bakteri dalam folikel sebaseus.

1

Asam lemak bebas diduga memegang peranan penting pada

patogenesis akne. Beberapa asam lemak bebas tidak hanya

komedogenik, tetapi dapat juga menimbulkan iritasi pada kulit.’

Strauss dan Pochi (1965) memperlihatkan bahwa suntikan intra-

kutan asam lemak bebas pada manusia dapat merangsang

reaksi peradangan hebat serupa akne.

3

Kurang lebih 95% asam

lemak bebas permukaan kulit merupakan basil hidrolisis triasil-

gliserol oleh lipase yang dihasilkan mikroorganisme, khususnya

Corynebacterium acnes.

4

Pengobatan akne dengan antibiotik tertentu secara sistemik

memberi hasil yang cukup baik. Antibiotik sistemik yang secara

 

Cermin Dunia Kedokteran No. 63, 1990 45

klinis efektif untuk akne temyata mengurangi jumlah asam

lemak bebas permukaan kulit.

5 6 7

Akhir-akhir ini dikembangkan

pengobatan akne dengan antibiotik topikal. Beberapa antibiotik

yang telah digunakan secara topikal untuk pengobatan akne

ialah tetrasiklin, eritromisin dan klindamisin.

5

Untuk melihat efek pengobatan klindamisin fosfat 1% topikal,

pada penelitian ini dilakukan penetapan jumlah asam lemak

bebas dan triasilgliserol permukaan kulit sebelum

.

dan sesudah

pengobatan, serta penilaian klinis pasien akne.

BAHAN DAN CARA

Subyek penelitian diambil secara acak dari pasien akne yang

mengunjungi Poliklinik Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin

FKUI/RSCM yang memenuhi kriteria tertentu. Penelitian di-

lakukan secara buta ganda. Pasien dibagi dalam kelompok studi

dan kelompok kelola. Pada kelompok studi diberikan peng-

obatan topikal larutan klindamisin fosfat 1% dalam vehikulum

yang merupakan campuran isopropil alkohol, propilen glikol dan

akuades, sedangkan pada kelompok kelola diberikan vehikulum

saja. Obat dioleskan pada seluruh kulit muka secara merata

dua kali sehari, pagi dan sore. Pengobatan diberikan selama

8 minggu.

Respons klinis dinilai berdasarkan sistim Witkowski &

Simons

8

sebagai berikut :

a.

Baik sekali : pengurangan lesi sebanyak 75 — 100%.

b.

B a i k

: pengurangan lesi sebanyak 50 — 74,9%.

c.

Sedang : pengurangan lesi sebanyak 25 — 49,9%.

d.

Kurang : pengurangan lesi sebanyak kurang dari 25%.

Jumlah asam lemak bebas dan triasilgliserol permukaan kulit

ditentukan sebelum dan sesudah pengobatan.

Prinsip :

Sampel lipid diambil dari dahi dengan kertas serap, kemudian

lipid diekstraksi dengan eter. Asam lemak bebas diukur secara

spektrofotometri sebagai sabun Cu.

9

Jumlah triasilgliserol di-

tetapkan dengan menggunakan kit dari Merck (MERCKO-

TEST 14341), yang merupakan suatu tes enzimatik kolorimetri.

Cara kerja :

Dahi dibersihkan dengan kapas yang dibasahi dengan larutan

heksan. Kertas serap yang bebas lipid berukuran 1 inci x 1 inci

ditempelkan pada dahi bagian tengah, difiksasi dengan plester

dan dibiarkan selama 1 jam.

5

Lipid diekstraksi dengan 7 ml.

eter. Ekstraksi dilakukan tiga kali. Ekstrak dikumpulkan dan di-

uapkan di atas penangas air 70

0

C sampai volume menjadi 10 ml.,

kemudian dilakukan pengukuran jumlah asam lemak bebas dan

triasilgliserol.

A. Penetapan jumlah asam lemak bebas

Seperlima bagian ekstrak divapkan sampai kering di atas

penangas air 70° C. Ke dalamnya ditambahkan 5 ml. campuran

kloroform-heptan (3 : 2 v/v) dan 3 ml. pereaksi Cu (Cu-nitrat

0,1 M, trietanolamin 0,57 M, asam asetat 0,05 M dan NaCl

4,3 M), lalu dikocok kuat. Asam lemak bebas akan bereaksi

dengan Cu membentuk sabun Cu yang larut dalam campuran

kloroform-heptan yang terdapat di lapisan atas. Tiga ml. campur-

an kloroform-heptan dipindahkan ke dalam sebuah tabung, ke-

mudian ditambahkan 0,5 ml. pereaksiwama dietilditiokarbamat.

Warna kuning yang terbentuk dibaca pada spektrofotometer

pada panjang gelombang 440 nm dan dibandingkan dengan

standar asam palmitat yang diperlakukan sama. Jumlah asam

lemak dinyatakan dalam nmol/inci2/jam.

B.

Penetapan jumlah triasilgliserol

Jumlah triasilgliserol diukur dengan menggunkan kit dari

Merck. Sepersepuluh bagian ekstrak divapkan sampai kering

di atas penangas air 70° C, kemudian ditambahkan 1 ml. Larut-

an pereaksi

kit

dan dibiarkan selama 20 menit pada suhu

kamar. Lipase khusus akan menghidrolisis triasilgliserol menjadi

gliserol dan asam lemak bebas, Gliserol selanjutnya akan me-

ngalami serangkaian reaksi sebagai berikut :

Pembacaan dilakukan pada spektrofotometer pada panjang

gelombang 500 nm, kemudian dibandingkan dengan standar

tripalmitin yang diperlakukan sama. Jumlah triasilgliserol di-

nyatakan dalam nmol/inci2/jam.

Untuk menghitung jumlah asam lemak bebas dan triasil-

gliserol permukaan kulit dalam sampel digunakan rumus :

Ru : Pembacaan sampel (unknown)

Rs :

Pembacaan standar

Rb : Pembacaan blanko

Y :

Jumlah asam lemak bebas/triasilgliserol dalam standar

X :

Jumlah asam lemak bebas/triasilgliserol dalam sampel.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Telah diperikaa 40 pasien akne papulopustular yang terdiri

dari 7 pria dan 33 wanita, berumur antara 20 — 29 tahun. Tiga

orang putus pengobatan sehingga yang dapat dilaporkan hanya

37 orang.

Pengukuran jumlah asam lemak bebas dan triasilgliserol se-

belum pengobatan menunjukkan basil yang sangat bervariasi,

baik pada kelompok studi maupun pada kelompok kelola. Pada

kelompok studi jumlah asam lemak bebas berkisar antara 5 — 531

nmol/inci2/jam dan pada kelompok kelola antara 0 — 215 nmol/

inci2/jam, sedangkan jumlah triasilgliserol bervariasi dari 142 —

4020 nmol/inci2/jam pada kelompok studi dan 46 — 3400

nmol/inci2/jam pada kelompok kelola.

Setelah pengobatan, jumlah pasien yang menunjukkan pe-

nurunan jumlah asam lemak bebas pada kelompok yang men-

dapat pengobatan klindamisin fosfat berbeda secara bennakna

dengan kelompok yang hanya mendapat vehikulum, yaitu

masing-masing 17 orang (89;4%) dan 7 orang (38,9%). (tabel 1).

Peranan klindamisin fosfat terhadap penurunan jumlah asam

lemak bebas permukaan kulit tampaknya secara tidak langsung

melalui penekanan pertumbuhan C. acnes, karena klindamisin

fosfat topikal dapat menekan pertumbuhan C. acnes dan sekitar

95% asam lemak bebas permukaan kulit merupakan hasil hidro-

lisis triasilgliserol oleh lipase yang dihasilkan C. acnes.

4 5

Pada penelitian ini penumnan jumlah asam lemak bebas per-

mukaan kulit pada umumnya disertai dengan perbaikan klinis

(tabel 2).

Dua orang menunjukkan peningkatan jumlah asam lemak

 

Parwati A Soekarno

Nur Asikin* dan Widowati Sukanto**.

*   Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

** Bagian I/mu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM, Jakarta

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: