Awalbarri’s Blog

Desember 4, 2008

TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG SUKMARAGA

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 8:31 am

TEKNIK BUDIDAYA JAGUNG SUKMARAGA
Produksi jagung dewasa ini tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga diperlukan impor. Keadaan ini tidak dapat dibiarkan karena akan merugikan para peternak yang membutuhkan pakan, dimana jagung memegang peran 51 % sebagai bahan pokok pembuatan pakan. Untuk mengatasi hal ini maka dicarilah varietas jagung yang dapat berproduksi sampai 8,5 ton/ha. Oleh karena itu perlu suatu acuan teknologi budidaya jagung sukmaraga, sehingga petani yang mencoba dan mengembangkan jagung sukmaraga dapat berhasil sesuai potensial hasil dari jagung tersebut. Diharapkan dengan berhasilnya petani menerapkan jagung sukmaraga, peningkatan produksi jagung di Lampung meningkat. Mengingat jagung sukmaraga adalah jagung komposit dapat ditanam ulang sampai 3 (tiga) kali tanam tidak seperti jagung Hibrida hanya 1 (satu) kali tanam sehingga harus beli lagi, jadi cukup menghemat input sarana produksi.
PENYIAPAN LAHAN
• Tanah dibajak 15-20 cm, gemburkan dan ratakan, atau tanpa olah tanah bagi tanah gembur/ringan.
• Bersih dari sisa-sia tanaman dan tumbuhan pengganggu.
PENANAMAN
• Buat lubang tanam dengan tugal sedalam 5 cm.
• Jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 tanaman /rumpun), atau 75 cm x 20 cm (1tanaman /rumpun)
• Masukkan benih dalam lubang tanam dan tutup dengan tanah atau pupuk kandang.
PEMUPUKAN
• Takaran pupuk: untuk yang telah dika\ji di Lampung 350 kg urea/ha + 150 kg SP 36/ha + 100 kg KCL/ha.
• Pupuk diberikan 2 kali, pertama 7-10 hst (200 kg urea/ha + 150 kg SP 36/ha +100 kg KCL/ha) kedua:30-35 hst(250 kg urea/ha).
• Pupuk diberikan dalam lubang/ larikan + 10 cm
• Disamping tanaman ditutup dengan tanah .
PENYIANGAN
• Penyiangan pertama pada umur 15 hst.
• Penyiangan kedua pada umur 28-30 hst, dilakukan sebelum pemupukan kedua.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
• Pengendalian penyakit bulai dapat dilakukan dengan: Benih jagung 1 kg dicampur 2 gr Ridomil atau Saromil yang dilarutkan dalam 7,5 – 10 ml air. Sedangkan untuk pengendalian hama penggerek diberi insektisida Furadan 3 G melalui pucuk tanaman (? 3-4 butir/
tanaman)
PEMBERIAN AIR
(khususnya musim kemarau)
• Pada saat sebelum tanam 15 hari setelah tanam 30 hst , 45 hst, dan 75 hst (6 kali pemberian).
• Sumber air dapat dari irigasi permukaan atau tanah dangkal (sumur) pompa

PANEN
Jagung siap dipanen jika klobot sudah mengering dan berwarna coklat muda, biji mengkilap, dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas.
Deskripsi Jagung Varietas Sukmaraga
Asal :Bahan Introduksi AMATI (Asian Mildew Acid Tolerance Late), asal CIMMYT Thailand dengan Introgressi bahan lokal yang diperbaiki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai. Populasi awalnya diseleksi pada tanah kering masam Sitiung Sumbar, dan tanah sulfat masam di Barambai (Kalsel). Hasil Rekombinasi diuji pada berbagai lingkungan asam dan normal.
Golongan : Bersari bebas komposit
Umur : – 50 % keluar rambut : 55 – 58 hari – Masak fisiologis:105 – 110 hari
Batang : Tegap, warna hijau
Tinggi tanaman : 195 cm (180 – 220) cm
Tipe biji : Semi mutiara (semi flint)
Baris biji : Lurus, rapat, jumlah 12 – 16
Warna biji : Kuning Tua
Bobot 1000 biji : 270 gram (240 – 280 gr)
Perakaran : Dalam, kuat dan baik
Kerebahan : Agak tahan

Rata-rata hasil : 6,0 ton/ha (pipilan kering, K.A. 15 %. Potensi hasil dapat dicapai 8,50 ton/ha (pipilan kering, KA. 15 %)
Daerah sebaran/Adaptasi : Dataran rendah sampai 800 m dpl, adaptif tanah-tanah masam.
Ketahanan penyakit : Cukup tahan terhadap penyakit bulai (downy mildew), penyakit bercak daun (H. maydis), dan penyakit karat (Puccinia sp.)

Teknologi Produksi Jagung pada Lahan Sawah Sub-Optimal Melalui Pengelolaan Sumberdaya dan Tanaman Terpadu

Potensi lahan untuk pengembangan jagung tersedia cukup luas utamanya di luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Irian, dan Sulawesi. Sekitar 6,96 juta hektar lahan yang terdapat di 14 provinsi tergolong berpotensi untuk pengembangan jagung. Hasil studi 15 tahun yang lalu menunjukkan bahwa sekitar 79% areal pertanaman jagung terdapat pada lahan kering, sisanya berturut-turut 11% dan 10% terdapat pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Dewasa ini data tersebut telah mengalami pergeseran. Diestimasi bahwa areal pertanaman jagung pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan meningkat masing-masing 10 – 15% dan 20 – 30% terutama pada daerah produksi jagung komersial.

Berdasarkan data yang ada dapat diprediksikan dan disimpulkan bahwa: (a) ke depan areal pertanaman jagung akan bergeser dari Jawa ke luar Jawa utamanya Sumatera; hal ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan areal tanaman jagung yang jauh lebih cepat di Sumatera (11,89%/tahun pada musim hujan dan 12,52%/tahun pada musim kemarau) dibandingkan dengan di Jawa (0,51%/tahun pada musim hujan dan 1,92%/tahun pada musim kemarau), (b) secara nasional, rata-rata laju peningkatan areal jagung pada musim kemarau lebih cepat daripada musim hujan berturut-turut 3,5% dan 1,5%; ini berarti laju peningkatan areal jagung pada lahan sawah lebih cepat daripada lahan kering, dan (c) untuk provinsi Jawa Timur dan Lampung sebagai dua provinsi penghasil utama jagung di Indonesia, pada musim kemaru di lahan sawah tanaman jagung lebih diminati daripada tanaman palawija lain, bahkan sebagian petani padi mulai beralih mengusahakan jagung. Hal yang sama juga mulai terlihat di beberapa provinsi lainnya seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

Tahun 2005 merupakan tahun pertama dalam kegiatan penelitian PTT-jagung ini (sawah tadah hujan) dilakukan di wilayah pantai barat Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan dipilih dengan pertimbangan: (a) sebagai salah satu provinsi penghasil jagung utama, yang dewasa ini menunjukkan pertumbuhan areal/produksi jagung yang relatif cepat, khususnya pada musim kemarau, (b) Sulawesi Selatan akan menjadi provinsi strategis dalam program Celebes Corn Belt (CCB) yakni Sulawesi menuju lima juta ton jagung per tahun, dan (c) di wilayah pantai barat Sulawesi Selatan terdapat lahan sawah tadah hujan yang cukup luas, dan masih banyak yang belum dimanfaatkan pada musim kemarau .

Dalam penelitian PTT-jagung ini ditempuh melalui pendekatan: (a) analisis ex-ante yang dilakukan sebelum penelitian verifikasi, dan (b) verifikasi dan evaluasi teknologi PTT-jagung yang diikuti dengan evaluasi masalah sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang terkait dengan pengembangan jagung, dan c) analisis post-ante yang akan dilakukan setelah selesai penelitian verifikasi. Pelaksanaan penelitian analisis ex-ante dilakukan pada wilayah sasaran pengembangan jagung pada lahan sawah tadah hujan di Kabupaten Pangkep dan Sidrap, Sulawesi Selatan. Kabupaten Pangkep merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang memiliki areal sawah tadah hujan yang cukup luas yaitu 10.772 ha dan potensial untuk pertanaman jagung.
Komponen teknologi pendukung teknologi PTT-jagung yang diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Varietas unggul bersari bebas, yaitu Lamuru, Sukmaraga, dan Srikandi Kuning-1
2. Benih berkualitas, daya kecambah 95 – 97%. Benih diberi saromil 2,5 g/kg benih
3. Penyiapan lahan, olah tanah konservasi
4. Saluran drainase, utamanya bagi petakan-petakan yang datar untuk mengantisipasi pada saat awal pertumbuhan tanaman adanya hujan yang kadang-kadang masih cukup tinggi.
5. Populasi tanaman optimal yaitu sekitar 62.000-66.000 tanaman per hektar, jarak tanam 75-80 cm antar baris dan 40 cm dalam baris, 2 tanaman per rumpun.
6. Penananam dengan tugal, dan sebagian lahan yang petakannya luas penanaman dengan menggunakan alat tanam ATB1-2R-Balitsereal.
7. Pemupukan: hanya pupuk anorganik karena di tingkat petani sulit untuk penyediaan pupuk organik meskipun ada petani yang memelihara sapi; sebab pengandangan sapi hanya dilakukan pada malam hari saja.
8. Jenis dan takaran pupuk anorganik berdasarkan hasil analisis tanah adalah sebagai berikut
1. *) Pupuk (majemuk dan urea) diberikan dalam bentuk larutan (1 gelas plastik kemasan air mineral per rumpun, kurang lebih 200 ml), setiap 1 kg pupuk dilarutkan dalam + 30 liter air.
**) hst = hari setelah tanam
9. Pengairan, dari hujan dan/atau air tanah dengan pompanisasi.
10. Penyiangan, dengan herbisida dan/atau manual.
Pertumbuhan tanaman selama di lapangan pernah tergenang pada saat awal pertumbuhan karena curah hujan masih cukup tinggi. Ketiga varietas (Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning-1) yang ditanam mampu memberikan hasil biji kering (kadar. air 15%) rata-rata 5,7 t/ha dengan kisaran hasil antara 3,0-8,7 t/ha. Hasil rata-rata yang diperoleh ini masih di bawah target yang diharapkan yaitu 6,0 t/ha dengan tambahan hasil biomas pakan 8,0 t/ha. Hasil biomas yang diperoleh masih di bawah 5,0 t/ha karena keterlambatan pemangkasan. Petani masih mampu memperoleh tambahan pendapatan dari usahatani jagungnya selama musim kemarau sebesar Rp 1.675.000 – Rp 4.735.000 atau Rp 560.000 – Rp 1.530.000 per bulan dibandingkan jika bekerja dibidang non-farm hanya sebesar Rp 160.000 – Rp 800.000. Hasil yang dicapai pada tahun pertama ini dinilai masih dapat ditingkatkan lagi, terutama bagi petani yang cara pengelolaannya belum optimal. Analisis usahatani jagung pada kegiatan ini disajikan sebagai berikut

*) Tanpa pengolahan tanah
Pada akhir kegiatan verifikasi dan evaluasi PTT-jagung ini diselenggarakan acara temu lapang dan sekaligus diskusi dengan para petani sekitar lokasi. Pada acara tersebut dihadirikan Bupati Kepala Daerah setempat beserta dinas-dinas terkait untuk berdialog langsung dengan petani mengenai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan jagung. Dalam hal ini petani selain mengutarakan permasalahannya juga menyampaikan keberhasilannya dan kesediaannya untuk memberdayakan lahannya yang selama ini masih bero dengan tanaman jagung. Dalam dialog, disepakati oleh pemerintah daerah untuk memfasilitasi penyediaan air dari sumur bor maupun gali, karena ini merupakan kendala yang selama ini dihadapi petani setempat

I. BIBIT
Ada 4 macam bibit mangga, yaitu :
1. Tanaman dari biji
2. Cangkokan
3. Okulasi
4. Sambungan tunas pucuk (Top Grafting)
Tanaman mangga tumbuh baik di daerah tropis maupun subtropis. Di daerah tropis tumbuh pada ketinggian 0-800 m dpl, tetapi paling baik sampai pada ketinggian 300 m dpl. Tipe tanah yang paling cocok adalah tanah berpasir, lempung atau liat sedang (agak liat), pH optimum 5,5-6,0. Curah hujan yang dibutuhkan sebanyak 1.000 mm pertahun dengan jumlah musim kemarau 4-6 bulan. Pengairan diperlukan terutama pada musim kemarau.
II. PENGOLAHAN TANAH

1. Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 40 cm
2. Ditentukan tempat-tempat pohon dengan ajir
3. Jarak tanam 12×12 m atau maximal 14×14 m
4. Waktu tanam terbaik adalah pada awal musim kemarau
5. Pembuatan lubang tanam dengan ukuran (80x80x80) cm dan dibiarkan terbuka selama beberapa waktu

III. PENANAMAN

1. Sebelum penanaman lubang ditutup dengan tanah yang sudah dicampur pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 2:1:1
2. Bibit mangga dilepas dari keranjangnya tanpa merusak gumpalan tanah pada akarnya
3. Bibit ditanam pada lubang tanam sedalam leher akar
4. Selesai ditanam, segera diberi peneduh dengan bagian yang tinggi menghadap ke timur
5. Kalau bibit baru berumur 1 tahun, sebelum ditanam, lembar daunnya dipotong setengahnya

IV. PEMUPUKAN

Rekomendasi sementara pemupukan tanaman mangga

Umur
(Tahun) Jenis pupuk Keterangan
ZA TSP KCl Kandang
(kg/pohon)
……………. g/pohon …………..
< 1 50 25 25 30 1 bulan setelah tanam, pukan dicampur denga tanah diberikan saat tanam
1 – <2 200 100 100 30 Setengah dosis bulan Desember-Januari, setengah dosis sisa bulan Juni-Juli, pukan bulan Desember-Januari
2 – 3 500-1.000 250-500 250-500 30-45 -sda-
4 – 5 1.000-2.000 500-1.000 500-1.000 30-45 -sda-
6 – 10 2.000-3.000 1.000-1.500 1.000-1.500 30-45 -sda-
10 3.000-4.000 1.500-2.000 1.500-2.000 45-60 -sda-

V. PEMELIHARAAN
1. Penyulaman, penyiraman dan penyiangan
Bibit-bibit yang matu atau kurang normal pertumbuhannya, selekas mungkin diganti yang baru. Pada permulaan bibit memerlukan penyiraman/pengairan yang sempurna, kemudian ke sekitar tanaman-tanaman yang masih muda. Pemberian pupuk hijau dilakukan dengan tujuan untuk memberantas rumput-rumput liar, menyuburkan tanah dan menjaga kelembaban tanah.

Untuk meningkatkan produksi kedele guna mencukupi kebutuhan dalam negeri, beberapa usaha telah dilakukan antara lain dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Dalam program ini kendala yang sering di jumpai adalah kurangnya tenaga kerja sehingga akan menyulitkan dalam pelaksanaannya dan akan menyebabkan meningkatnya biaya produksi.
Penanaman kedele yang dilakukan selama ini umumnya masih menggunakan tugal ssebagai alat tanam; yang mana produktivitas tenaga kerja dan efisiensi pemakaian pupuk masih rendah (30% – 50 %).Penggunaan pupuk ini masih dapat ditingkatkan dengan pemberian dibawah permukaan tanah di daerah perakaran tanaman.
Mesin penanam dan pemupukan (Seed Cum Fertilizer Drill) ini ditarik oleh traktor tangan dan dikemudikan oleh satu orang sebagai operator.
SPESIFIKASI
1. Model : Seed Roller dan Fertilizer Agitor
(dengan roda karet)
2. Dimensi
– Panjang : 1.960mm
– Lebar : 2.150 mm
– Lebar kerja : 175 cm
– Tinggi : 750 cm
– Berat : 217 Kg
3. Jarak tanam : Antar alur 50, 75 dan 100 cm
4. Jarak pupuk : Antar alur 25, 50, 75 dan 100 cm
dalam alur berbentuk garis
5. Kedalaman
– Tanaman : 3 s/d 5 cm
– Pupuk : 3 s/d 7 cm
6. Penarik : traktor tangan Kubota KND 120/10,5 Hp
dengan Steering Clutch

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: