Awalbarri’s Blog

Desember 4, 2008

Pengelolaan Status Hara Pada Tanah Subsoil Masam Dalam Peningkatan Produksi Tanaman Pangan

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 7:49 am

Pengelolaan Status Hara Pada Tanah Subsoil Masam Dalam Peningkatan Produksi Tanaman Pangan

Luas tanah masam di dunia 37,774 juta km2, sedangkan yang mempunyai subsoil masam 29,181 juta km2 (Eswaran, et al., 1997). Tanah masam tersebut tersebar luas di daerah bercurah hujan tinggi, termasuk 40% dari tanah di daerah tropik (Sanchez dan Salinas, 1981). Luas tanah masam lahan kering di Indonesia 55,58 juta ha (29,1 % dari luas tanah di Indonesia) yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya (Setijono, 1982)
Kemasaman tanah membatasi produktivitas tanaman dibanyak tempat di duania. Faktor kemasaman tanah yang paling penting kontribusinya terhadap potensial hasil yang rendah adalah defisiensi kalsium (Ca) dan keracunan Aluminium (Al) (Adam dan Moore, 1983). Walaupun demikian keracunan Al dianggap lebih menonjol.
Tingginya Al pada subsoil masam seperti pada Oxisol, Ultisol dan Inceptisol menyebabkan buruknya perkembangan akar (Foy, 1984; McKenzie dan Nyborg, 1984). Dengan demikian sistem perakaran terbatas pada lapisan tanah atas yang dangkal (Arief, 1987 dan Rusman, 1991), sehingga akar tidak dapat memanfaatkan air dan unsur hara yang tersimpan pada subsoil. Akibatnya tanaman mudah mengalami cekaman air, pertumbuhannya terhambat dan biomas serta hasil yang diperoleh rendah (Rusman, 1991).
Kemasaman tanah pada lapisan permukaan mudah diperbaiki dengan amelioran kimia seperti kapur. Namun bila kemasaman terjadi pada subsoil, maka tidak mudah diperbaiki. Secara garis besar terdapat dua metode untuk mengatasi masalah subsoil masam, yaitu dengan menggunakan spesies atau kultivar tanaman yang toleran dan dengan memodifikasi lingkungan pertumbuhan tanaman. Tulisan ini akan mengulas berbagai metode mengatasi masalah subsoil masam tersebut terutama kaitannya dengan hasil tanaman pangan.
II. PENGGUNAAN TANAMAN TOLERAN
Penggunaan spesies atau kultivar tanaman yang toleran terhadap kema-saman tanah yang tinggi merupakan usaha yang paling baik dalam mengatasi masalah subsoil masam. Hal itu bukan saja mengurangi penggunaan input amelioran, yang berarti menekan biaya produksi, tetapi juga tidak mengganggu keseimbangan unsur hara yang ada di dalam tanah. Namun, untuk mendapatkan spesies atau kultivar tanaman yang toleran kemasaman tinggi diperlukan waktu yang lama dan biaya yang tinggi.
Varietas tanaman yang toleran tanah masam terutama berkaitan dengan ketahanannya terhadap Al yang tinggi. Pada saat ini diketahui terdapat dua jenis utama mekanisme toleran cekaman Al, yaitu mekanisme penghindaran dan mekanisme detoksifikasi internal. Strategi utama tanaman menghindari Al di-lakukan melalui : (1) perubahan pH rhizosfir akar, (2) ekskresi asam organik oleh akar, dan (3) perkembangan akar dan infeksi mikoriza (Keltjens, 1997). Selain ke tiga strategi tersebut, Hairiah (2000) menambahkan bahwa toleran Al dari spesies tanaman juga dapat didasarkan pada penahanan Al oleh sistem perakaran (excluded plants) dan toleransi terhadap konsentrasi Al tinggi pada tajuk (includer plants).
A. Perubahan pH Rhizosfir Akar
Akar mengekskresikan proton dan ion hidroksil sehingga merubah pH rhizosfir. Perbedaan pola ekskresi yakni pelepasan H+ atau OH-, berkaitan secara kuantitatif dengan keseimbangan pengambilan ion total, yang bervariasi diantara spesies dan khususnya dengan bentuk dimana tanaman menyerap Nitrogen (NO3-, NH4+ atau N2). Kondisi lingkungan seperti P tanaman dan nutrisi besi dan kehadiran Al dalam medium perakaran mempengaruhi keseimbangan proton akar (Keltjen dan van Ulden, 1987).
Perubahan pH rhizosfir tanah mempunyai konsekuensi langsung terhadap kelarutan Al dalam tanah (Gahoonia, 1993). Nutrisi N-NO3 murni akan mengurangi keracunan Al pada tanaman yang ditanam pada tanah karena ekskresi OH-, setidaknya untuk tanaman dengan sebutan pola pengambilan asidik.
Tanaman yang mengambil N-NO3 meningkatkan pH tanah dengan 0,55–0,89 unit, sedangkan pemupukan dengan N-NH4 murni menurunkan pH antara 0,84–1,48 unit. Pengaruh positif dari N-NO3 adalah terhadap pH tanah dan pertumbuhan tanaman pada pH tanah awal rendah. Hal itu menunjukkan bahwa perbedaan dalam toleransi Al dapat didasarkan pada perbedaan preferensi pengambilan NO3/NH4 antara spesies atau kultivar (Keltjens, 1997).
Menurut Gijsman (1991) nisbah pengambilan NH4/NO3 sangat tergantung pada kadar kelembaban tanah. Pengambilan ammonium sangat berkurang dalam tanah yang relatif kering, sedangkan pengambilan nitrat tidak bervariasi dengan kadar kelembaban tanah.
B. Ekskresi Asam Organik dari Akar
Ekskresi asam organik yang mengkhelat Al dalam rhizosfir akar merupakan mekanisme toleransi spesies atau kultivar tanaman tertentu terhadap kemasaman atanah (Delhaize, et al., 1993 a,b). Asam organik seperti asam sitrat dan asam malat juga polipeptida tertentu dieksudasikan oleh akar tanaman (Basu, et al., 1994) tampaknya mendetoksifikasi Al melalui khelasi dalam apoplasma dan rhizosfir akar. Delhaize, et al (1993 b) mendemonstrasikan laju yang tinggi eksudasi asam malat oleh galur gandum toleran Al yang berbeda dengan gandum yang peka.
Dengan demikian, mekanisme toleran suatu spesies atau kultivar terhadap Al dapat berlangsung bila terjadi ekskresi asam organik oleh akar tanaman, dan pH rhizosfir sesuai yakni optimal pada pH 4 – 4,5 untuk pembentukan kompleks Al-organik (Motekaitis dan Martell, 1984. In Keltjens, 1997).
C. Perkembangan Akar dan Infeksi Mikoriza
Tanaman dapat menggunakan alat yang dimilikinya untuk mengatasi kondisi cekaman kemasaman tanah. Salah satu mekanisme yang dimiliki tanaman (akar) dengan menghindari atau keluar dari tanah masam (Hairiah,2000). Karena kebanyakan tanah menunjukkan keragaman spasial baik secara horisontal maupun dengan kedalaman, akar dari tanaman yang sama dapat secara simultan menemui kondisi tanah yang cukup berbeda, dan oleh karena itu berbeda dalam kemasaman dan/atau ketersediaan unsur hara. Untuk spesies tanaman dengan sistem perakaran yang panjang dan dalam akan lebih mudah memanfaatkan heterogenitas tanah. Oleh karena itu potensial genetik dari suatu spesies atau kultivar untuk menghasilkan akar-akar panjang dapat menjadi indikator berguna yang men-cerminkan kemampuan tanaman untuk menggunakan mekanisme ini (Keltjens, 1997).
Hairiah (2000) meneliti strategi penghindaran dari tanaman Mucuna pruriens pada Al dan regim P berbeda, dengan menggunakan teknik akar terbagi. Dia menemukan bahwa akar yang ditanam dalam kompartemen bebas Al (-Al) dari sistem (-Al/+Al) berkembang jauh lebih baik daripada akar –Al dari sistem (-Al/-Al). Menurut Hairiah (2000) hal itu berdasarkan pada kompetisi antara dua bagian akar untuk sumber internal umum, contohnya asimilat. Penghambatan pertumbuhan yang disebabkan Al dari bagian akar dapat mengarah pada keuntungan kompetitif dari bagian yang tumbuh dalam kompartemen tanah kurang masam. Dia menemukan penghindaran Al menjadi respon akar komplementer dari tanaman tercekam P pada sumber lokal P dalam tanah.
Pada tanah masam, P sering menjadi pembatas pertumbuhan tanaman karena difiksasi oleh Al atau Fe. Tanaman dapat meningkatkan pengambilan P jika akarnya bersimbiosis dengan mikoriza. Oleh karena itu, spesies atau kultivar tanaman yang dengan mudah terinfeksi oleh mikoriza, jika tumbuh di tanah masam dapat di duga kurang peka terhadap kemasaman tanah daripada tanaman yang tidak bersimbiosis dengan mikoriza (Keltjens, 1997). Persyaratannya tentu saja (1) keberadaan strain mikoriza yang cukup toleran terhadap kemasaman tanah (tinggi) atau Al berlebih, dan (2) kehadiran strain seperti itu dalam tanah atau kemungkinan untuk menginokulasi tanah atau biji dengan strain tertentu tersebut.
D. Penahanan Al Oleh Sistem Perakaran
Pada konsentrasi Al yang tinggi, tanaman menahan bagian dari Al yang dibawa dalam aliran air transpirasi (Hairiah, 2000).

E. Toleransi Terhadap Konsentrasi Al Tinggi Dalam Tajuk
Mekanisme ini terdapat terutama pada spesies tanaman toleran Al tinggi dari vegetasi alami (contohnya Melastoma rostrata) dan hanya sedikit dari spesies tanaman yang dibudidayakan merupakan includer Al, seperti dalam teh, rumput Hawaii, pohon pinus, dan mangrove.
III. Modifikasi Lingkungan Pertumbuhan Tanaman
Usaha mengatasi subsoil masam juga dapat dilakukan dengan memodifikasi lingkungan (profil tanah) pertumbuhan tanaman. Hal itu dapat berupa : (1) modifikasi kimia, dan (2) modifikasi fisik dan kimia.

A. Modifikasi kimia.
Modifikasi kimia dimaksudkan modifikasi lingkungan pertumbuhan tanaman (subsoil) dengan menggunakan amelioran yang terdiri dari bahan anorganik dan bahan organik. Bahan organik tersebut dapat berupa kapur dan gipsum, sedangkan bahan organik dapat berupa pupuk kandang, pupuk hijau, kompos atau dalam bentuk asam-asam organik.
1. Ameliorasi Subsoil Masam Menggunakan Kapur
Kapur telah lama diketahui sebagai amelioran yang efektif dalam menurunkan kemasaman tanah yaitu meningkatkan pH tanah, menurunkan Al dapat ditukar (Al-dd) dan kejenuhan Al (Gonzalez-Erico, et al., 1979; Nurhajati Hakim, 1982; dan Leiwakabessy, 2000).Namun, pergerakan vertikal CaCO3 yang diaplikasi pada permukaan sangat lambat, kemungkinan karena kapur melepaskan OH- yang dengan cepat dinetralisasi oleh kemasaman tanah, yang meninggalkan Ca2+ tak berteman. Ion Ca2+ tersebut dapat diserap oleh tapak pertukaran pada permukaan tanah. Dengan demikian inkorporasi permukaan CaCO3 atau Ca(OH)2 mempunyai pengaruh yang kecil terhadap Al subsoil dan / atau Ca. Oleh karena itu, untuk memperbaiki subsoil masam perlu inkorporasi kapur sampai kedalaman itu (deep liming).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa inkorporasi kapur sampai kedalaman subsoil mampu meningkatkan pH, menurunkan Al-dd dan kejenuhan Al pada lapisan tanah tersebut dan meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman (Gonzalez Erico, et al., 1979; Doss, et al., 1979; Sumner, et al., 1986; McKenzie dan Nyborg, 1984; Rusman, 1991 dan Ismanto,1994).
Sehubungan inkorporasi kapur sampai kedalaman subsoil memerlukan energi dan biaya yang besar, para peneliti mencari metode alternatif pemasukan kapur ke subsoil yaitu dengan menggunakan subsoil injector (Anderson dan
Hendrick, 1983), atau dengan teknik lime slotting (Kirchhof, et al., 1995; dan Jayawardane, et al., 1995). Hasil penelitian Anderson dan Hendrick (1983) menunjukkan bahwa subsoil injector yang dicobanya mampu memasukkkan kapur sampai kedalaman 36 cm. Demikian pula teknik lime slotting yang dicoba oleh Kirchhof, et al (1995) berhasil meningkatkan pH tanah sampai kedalaman penuh dari slot (0,8 m), sifat fisik tanah seperti konduktivitas hidrolik, porositas total dan porositas terisi air nyata meningkat di dalam slot.
Walaupun demikian, ditingkat petani hal itu masih dirasakan kurang praktis dan diperlukan peralatan khusus, maka beberapa peneliti mencoba menemukan amelioran yang diberikan pada lapisan permukaan, tetapi dapat bermigrasi dan memperbaiki sifat kimia subsoil masam. Amelioran tersebut antara lain gipsum atau fosfogipsum dan asam organik. Ameliorasi subsoil masam menggunakan gipsum atau fosfogipsum dan menggunakan asam organik akan diuraikan pada paragraf berikut ini.
2. Ameliorasi Subsoil Masam menggunakan Gipsum
Pencampuran gipsum atau fosfogipsum secara langsung dengan subsoil masam dapat meningkatkan pH tanah, dan menurunkan Al-dd (Alva, et al., 1990). Oates dan Caldwell (1985) membandingkan pengaruh gipsum murni dengan gipsum by product dalam mengurangi kemasaman tanah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa gipsum by product menghilangkan lebih banyak Al dari tanah dan dengan laju yang lebih cepat daripada gipsum murni. Hydrofluoro-gypsum merupakan gipsum by product yang paling efektif, yakni mampu menghilangkan Al terekstrak KCl sebesar 81% dan meningkatkan pH tanah dari 4,9 menjadi 5,3. Meningkatnya keefektifan gipsum by product disebabkan ketidakmurnian fluorida. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kedelai yang ditanam pada tanah yang diamandemen dengan gipsum by product dan dilakukan pencucian mempunyai berat tanaman yang lebih tinggi daripada kedelai yang ditanam pada tanah yang beramandemen tidak dilakukan pencucian (Oates dan Caldwell, 1985).
Hasil percobaan dengan menggunakan kolom tanah di laboratorium yang dilakukan Ritchey, et al (1980) menunjukkan bahwa pemberian gipsum pada lapisan 0-15 cm dapat meningkatkan pH dan mengurangi kejenuhan Al sampai kedalaman 75 cm. Sumner, et al (1986) juga melaporkan bahwa aplikasi permukaan gipsum mengurangi aktivitas Al3+ dan meningkatkan Ca2+ secara nyata, dan setelah waktu yang mencukupi untuk menembus subsoil menghasilkan peningkatan hasil 25%.
Toma dan Saigusa (1997) melaporkan bahwa Ca yang berasal dari fosfogipsum yang diberikan pada kedalaman 0-15 cm setelah disiram dengan air 300 mm, dapat bergerak ke lapisan subsoil (15-35 cm) dan terjadi penurunan Al-dd pada lapisan tersebut. Penurunan Al-dd itu menurut mereka disebabkan terjadinya polimerisasi Al-hidroksi oleh fosfogipsum yang diikuti jerapan selektif dan tak balik pada mineral liat. Hasil percobaan jangka panjang inkorporasi gipsum ke dalam topsoil pada 10 dan 35 ton/ha menunjukkan bahwa setelah 16 tahun pengaruh gipsum masih terlihat, dimana Ca dan SO4 dapat ditukar pada subsoil lebih tinggi daripada kontrol. Pengurangan Al-dd teramati pada perlakuan gipsum sampai kedalaman 80 cm. Namun, pH tanah sangat tidak berubah pada subsoil. Ameliorasi subsoil masam dengan gipsum juga tercermin pada peningkatan hasil jagung (29-50%) dan alfalfa ( 50%) (Toma, et al., 1999).
Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa fosfogipsum merupakan amelioran efektif untuk mengatasi subsoil masam seperti dalam Andosol Nonalofanik (Toma dan Saguisa, 1997), dan Latosol Merah Kuning (Carvalho dan Raij, 1997). Gipsum juga merupakan amelioran efektif untuk mengatasi subsoil masam Ultisol (Farina dan Channon, 1988), dan dari hasil percobaan jangka panjang Toma, et al (1999) menyimpulkan bahwa oleh karena pengaruh gipsum berakhir untuk waktu yang lama, maka penggunaannya sebagai amelioran kemasaman subsoil menjadi sangat ekonomis, karena biaya awal yang tinggi dapat tertutupi.
Keefektifan gipsum dalam memperbaiki subsoil masam dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, menurut Ritchey dan Sausa (1997) disebabkan gipsum mempunyai kelarutan yang tinggi, sehingga komponen Ca dan sulfat dari gipsum dapat bermigrasi ke lapisan subsoil. Akibatnya, Ca tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan perakaran melalui penurunan defisiensi Ca. Sedangkan komponen sulfatnya dapat mereduksi keracunan Al.

3. Ameliorasi Subsoil Masam Menggunakan Asam Organik
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos secara langsung pada subsoil masam mampu menekan aktivitas Al (Afdhalina, 1991; Darmawan, 1991; dan Samuel, 1991). Lebih lanjut dilaporkan oleh Samuel (1991) pemberian 50 ton/ha kompos sampah kota pada subsoil Ultisol Sitiung II mampu menurunkan Al-dd lebih dari 78,5%.
Pengaruh bahan organik dalam menurunkan Al-dd tersebut berkaitan dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi bahan organik. Substansi humat seperti asam humat dan asam fulvat menurut Tan (1993) merupakan hasil akhir dari proses dekomposisi bahan organik. Hasil penelitian Jamalus (1989), Yasin (1991), dan Ahmad (1990) menunjukkan bahwa pemberian asam humat pada tanah kaya Al dapat menurunkan Al-dd. Desi Aneri (1996) menyatakan bahwa asam sitrat dan asam oksalat juga dapat menurunkan Al-dd dan meningkatkan hasil kedelai pada tanah kaya Al.
Berkurangnya Al-dd tersebut disebabkan terbentuknya khelat atau komplek Al-organik (Tan, 1993). Mekanisme pembentukan senyawa khelat tersebut dapat berlangsung melalui khelat mono, bi, atau multidentat. Mekanisme tersebut bergantung pada jumlah dan distribusi gugus fungsional yang terdapat pada senyawa organik tersebut.
Ameliorasi subsoil masam menggunakan bahan organik memerlukan bahan organik dalam jumlah besar dan sulit dalam proses inkorporasinya. Oleh karena itu penggunaan asam organik yang diberikan pada permukaan tanah atau pada lapisan olah, tetapi mampu bermigrasi ke subsoil dan dapat memperbaiki sifat subsoil masam merupakan alternatif yang baik.
Dalam rangka mendapatkan asam organik yang mampu bermigrasi dan memperbaiki sifat subsoil masam, Wawan (1998) mencoba asam asetat, asam oksalat, asam sitrat, dan asam humat yang diberikan pada permukaan Ultisol. Dari hasil penelitiannya diperoleh bahwa hanya asam humat yang efektif menurunkan Al-dd dan itupun hanya sampai kedalaman < 20 cm. Terbatasnya pergerakan asam humat tersebut, menurut Stevenson (1982) karena mobilitas asam humat yang memang rendah.
Asam fulvat mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan asam humat. Menurut Schnitzer dan Khan (1978) asam fulvat mempunyai kemasaman total yang lebih besar dan mempunyai berat molekul lebih rendah sehingga lebih mobil. Hasil penelitian Stevenson dan Ardakani (1972) menunjukkan bahwa pemberian asam fulvat pada topsoil dapat menurunkan Al-dd dan meningkatkan P tersedia.
Liu dan Hue (1996) melaporkan bahwa aplikasi permukaan Ca-fulvat yang diturunkan dari bahan organik yang biasa digunakan dapat meningkatkan Ca subsoil dan menurunkan persentase kejenuhan Al. Diantara perlakuan yang dicoba (Ca-fulvat dari pupuk kandang, pupuk hijau dan sewage sludge), ternyata Ca-fulvat dari sewage sludge mampu menurunkan Al sampai kedalaman 45 cm.
B. Modifikasi Fisik dan Kimia
Sering dijumpai subsoil masam yang padat seperti pada Alfisol atau Ultisol karena adanya lapisan tapak bajak atau fragipan. Lapisan tanah tersebut menghambat pergerakan udara dan air, mempunyai bobot isi dan kekuatan tanah yang tinggi dan sangat masam. Sifat-sifat tersebut membatasi perkembangan akar, sehingga akar tanaman tidak mampu memanfaatkan air dan unsur hara yang tersimpan pada subsoil. Hasil tanaman lebih rendah untuk tanah yang mempunyai subsoil padat (berfragipan) daripada tanah yang tidak berfragipan
Usaha untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan modifikasi fisik dan kimia subsoil (profil). Hasil penelitian Bradford dan Blanchar (1977) pada Alfisol Missouri menunjukkan bahwa pemaritan (trenching) dapat meningkatkan simpanan air tersedia dan hasil biji sorgum. Pada tanah yang tidak dimodifikasi, rata-rata hasil sorgum 1.841 kg ha-1, sedangkan perlakuan pemaritan tanpa bahan tambahan kimia meningkatkan hasil menjadi 4.322 kg ha-1. Pencampuran kapur, pupuk dan serbuk gergaji dengan bahan tanah di dalam parit meningkatkan hasil biji sorgum menjadi 5.987 kg ha-1.
Hasil penelitian Hammel, et al (1985) pada Ultisol juga menunjukkan bahwa rata-rata hasil kedelai pada perlakuan pelonggaran yang disertai pencampuran subsoil adalah 1.022 kg ha-1. Pelonggaran dan pencampuran subsoil yang disertai pengapuran dapat meningkatkan rata-rata hasil kedelai menjadi 1.884 kg ha-1.
Peningkatan hasil tersebut berhubungan dengan dampak modifikasi tanah terhadap peningkatan simpanan air tersedia dan proliferasi akar. Pelonggaran subsoil menyebabkan penurunan bobot isi dan kekuatan tanah dari lapisan padat (fragipan), yang memungkinkan akar dan air menembus profil tanah. Modifikasi zone perakaran oleh kapur, pupuk dan serbuk gergaji merangsang perkembangan akar dan meningkatkan hasil sorgum dari 4.322 kg ha-1 ke 5.987 kg ha-1 (Bradford dan Blanchar, 1977).
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Tingginya Al pada subsoil masam menyebabkan buruknya perkembangan akar, sehingga akar tidak dapat memanfaatkan air dan unsur hara yang tersimpan pada subsoil. Akibatnya tanaman mudah mengalami cekaman air, pertum-buhannya terhambat dan hasilnya rendah.
2. Secara garis besar terdapat dua metode untuk mengatasi masalah subsoil masam yaitu : menggunakan spesies atau kultivar tanaman yang toleran dan dengan memodifikasi lingkungan pertumbuhan tanaman.
3. Penggunaan spesies atau kultivar tanaman yang toleran merupakan usaha paling baik untuk mengatasi subsoil masam. Namun untuk mendapatkannya diperlukan waktu yang lama.
4. Aplikasi permukaan gipsum atau fosfogipsum dapat memperbaiki subsoil masam dan meningkatkan hasil tanaman serta praktis dan ekonomis.
5. Aplikasi permukaan Ca-fulvat dapat meningkatkan Ca subsoil dan menurunkan kejenuhan Al. Dengan demikian, hal itu merupakan alternatif yang menjanjikan dalam perbaikan subsoil masam.
6. Pada subsoil masam yang padat, pelonggaran (contohnya : pemaritan dan pengolahan tanah dalam) yang disertai pengapuran dan pemupukan meningkatkan hasil tanaman pangan.

SUMBER
Adam, F. and B.L. Moore. 1983. Chemical factors affecting root growth in subsoil horizons of Coastal Plain Soils. Soil Sci. Soc. Am. J. 47 : 99-102.
Afdhalina. 1991. Pengaruh kompos terhadap beberapa sifat kimia lapisan bawah tanah mineral masam. Tesis sarjana Fak. Pertanian Univ. Andalas, Padang.
Ahmad, F. 1989. Asam humat dan ketersediaan fosfor tanah sawah tanah kering. Puslit. Univ. Andalas, Padang.
Alva, A.K., M.E. Sumner and W.P. Miller. 1990. Reactions of gypsum or phosphogypsum in highly weathered acid subsoil. Soil Sci. Soc. Am. J.54 : 993-998.
Anderson, D.L. and J.G. Hendrick. 1983 Subsoil injector. Soil Sci. Soc. Am. J.47 : 337-339
Arief, A. 1987. Pengaruh pemupukan P terhadap perubahan berbagai bentuk P dalam tanah dan tanggapan tanaman dalam pola tanam pada Podzolik Merah Kuning. Disertasi Doktor Fakultas Pascasarjana IPB, Bogor.
Basu, U., Basu, A and Taylor, G.J. 1994. Differential exudation of polypeptides by roots of aluminum-resistant and aluminum-sensitive cultivar of Triticum aestivum L. response to aluminum stress. Plant Physiol. 106, 151-158.
Bradford, J.M. and R.W. Blanchar. 1977. Profile modification of a Fragiudalf to increase crop production. Soil Sci. Soc. Am. J.41 : 127-131

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: