Awalbarri’s Blog

Desember 4, 2008

HADIST

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 7:32 am

HADIST

Hadist adalah sumber hukum Islam yang kedua setelah Al quran. Ini merupakan konsesus yang telah disepakati oleh seluruh umat islam. Selain sebagai sumber, hadist berfungsi untuk merinci dan menginterpretasi ayat-ayat Al quran yang mujmal (global) serta memberikan persyaratan (taqyid)bagi ayat-ayat yang mutlak. Di samping itu, ia pun berfungsi mengkhususkan (takhsis) terhadap ayat-ayat Al quran yang bersifat umum. Fungsi inimerujuk pada bayan al-tafshili versi Imam Malik dan Imam syafi`I serta bayan al-takhsis dan bayan at-tafsir menurut Imam Ahmad juga Imam Syafi`i.
Pada saat Rasulullah SAW masih hidup, beliau memberikan larangan kepada para sahabat untuk mencatat hadist karena dikhawatirkan akan bercampur dengan Al quran. Namun pada masa belakangan karena dikhawatirkan akan hilangnya hadist dan bercampur dengan hadist-hadist palsu, maka ada inisiatif untuk membukukan hadist yang diawali dengan “ dekrit” yang disampaikan oleh Umar bin Abdul Aziz pada abad ke-2 H untuk mengumpulkan dan membukukan hadist. Dari sinilah berawal geliat kegiatan dalam pengumpulan dan pembukuan hadist.
Puncak dari keberhasilan pembukuan dan pengkodifikasian hadist, terjadi pada abad ke-3 H. Terdapat 6 kitab hadist klasik terkenal yang biasa disebut dengan kutub as-sittah yang menjadi referensi utama dalam studi hadist, yaitu:
1. Al-jami` al-shahih karya Imam al-Bukhari (194-252 H),
2. Al-jami` al-shahih karya Imam Muslim (204-261H),
3. Al-Sunnan Abu Dawud karya Abu dawud (202-275),
4. Al-Sunnan karya al-Tirmizi (200-279),
5. Al-Sunnan karya al-Nasai (215-302 H), dan
6. Al-Sunnan karya Ibnu Majah (207-273 H).
Selain keenam kitab hadist di atas ada beberapa kitab hadist yang dianggap mu`tabar seperti sunan Ad-darimy, musnad Ahmad ibn Hanbal, Kitab al-Muwaththa` Imam Malik, Sunan Imam al-Baihaqi, Mu`jam al-Kabir karya al-Thabari, Sunan al- Daruquthni karangan Abd Hasan Ali bin Umar al-Daruquthni, dan Mustadral Al-Hakim, serta lainnya. Kitab-kitab ini menjadi rujukan utama bagi para ulama untuk menyandarkan sebuah hadist sebagai salah satu sumber dari hukum Islam.

Kritik hadist
Sebenarnya kritik hadist telah dilakukan sejak dahulu, yakni dengan menyelidiki otentisitas berita yang bersumber dari Nabi SAW. Hanya saja kritik yang dilakukan hanya terbatas pada kritik mantan saja. Baru pada masa belakangan dibuat satu kajian ilmu jarh wa ta`dil yang memberikan kritikan pada individu jalur sanad dari setiap hadist.
Kriteria otentisitas hadist dirumuskan kemudian dengan menetapkan bahwa hadist dikatakan otentik apabila memenuhi empat syarat, yaitu diriwayatkat dengan sanad yang bersambung (ittishol), sanad dari orang yang takwa (tsikoh) dan kuat ingatannya (dhobit), materi hadist tidak berlawanan dengan Al quran dan hadist lain yang lebih unggul kwalitasnya dsan tidak mengandung unsur-unsur kecacatan. Persyaratan tersebut yang diterapkan ahli hadist sejak abad pertama sampai pada abad ke -3 H.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: