Awalbarri’s Blog

November 29, 2008

puasa

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 4:31 am

PUASA

“Saumu” (puasa), menurut Bahasa Arab adalah “menahan dari segala sesuatu”, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan bicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
Menurut istilah agama Islam yaitu “menahan diri dari sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.”
PUASA ADA EMPAT MACAM
1. Puasa wajib, yaitu puasa bulan Ramadhan, puasa kafarat, dan puasa nazar.
2. Puasa sunat
3. Puasa makruh
4. Puasa haram, yaitu puasa pada Hari Raya Idul Fitri, hari Raya Haji, dan tiga hari sesudah Hari Raya Haji, yaitu tangal 11-12 dan 13.
Puasa bulan Ramadhan itu merupakan salah satu rukun Islam yang lima, diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, yaitu tahun kedua sesudah nabi Muhammad Saw hirah ke Madina. Hukumnya fardhu ain atas tiap-tiap mukallaf.
Rasulullah Saw telah mengerjakan puasa sembilan kali Ramadhan, delapan kali 29 hari, satu kali pas 30 hari. Beliau berkata dalam hadis Bukhari, “Bulan itu kadang-kadang 29 hari kadang 30 hari.Puasa Ramadhan diwajibkan atas tiap-tiap orang mukallaf dengan salah satu dari ketentuan-ketentuan berikut ini :
1. Dengan melihat bulan bagi yang melihatnya sendiri.
2. Dengan mencukupkan bulan sya’ban tiga puluh hari, maksudnya bulan tanggal sya’ban itu dilihat. Tetapi kalau bulan tanggal satu sya’ban tidak terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan htungan sempurnanya tiga puluh hari.
3. Dengan adanya melihat (ru’yat) yang dipersaksikan oleh seorang yang adil di muka Hakim.
4. Dengan kabar mutawatir, yaitu kabar orang banyak, sehingga mustahil mereka akan dapat bermufakat..
5. Percaya kepada orang yang melihat.
6. Tanda-tanda yang biasa dilakukan di kota-kota besar untuk memberitahukan kepada orang banyak seperti lampu, meriam, dan sebagainya.
7. Dengan ilmu Hisab atau kabar dari ahli hisab (ilmu bintang).
Kata beberapa ulama, di antaranya yaitu Ibnu Syuraidi Mutarrif dan Ibnu Qutaibah, yang dimasud dengan kira-kira adalah dihitung menurut hitungan secara ilmu falak (ilmu bintang).
Sesungguhnya kalau kita perhatikan amal ibadah kita sehari-hari di zaman kemajuan sekarang ini, seperti waktu salat yang lima, seluruh umat islam diseluruh dunia sudah sepakat untuk memakai jam yang telah ditetapkan dalam jadwal waktu salat, menurut persesuaian waktu-waktu salat di tempat masing-masing. Jelasnya, agama Islam telah menentukan waktu satu persatunya dari salat lima waktu. Misalnya Lohor, ditentukan dengan condongnya matahari kesebelah barat, Asar ditentukan dengan lebihnya bayang-bayang sepanjang badan, Isya ditentukan dengan hilangnya syafak, dan Shubuh awal waktunya ditentukan dari terbit fajar. Seluruh waktu salat itu ditentukan dengan nas syara’ (agama) dengan ukuran perjalanan Matahari. Maka dengan kemajuan Ilmu Falak (ilmu bintang), dapatlah ulama-ulama falak menyesuaikan ukuran perjalanan matahari tadi dengan jam yang terpakai di tiap-tiap negeri guna mempermudah amal ibadah yang amat penting itu. Sekarang telah diamalkan oleh seluruh umat Islam di dunia ini dengan tidak sedikitpun menaruh syak atau ragu lagi. Dimana-mana jika seseorang ingin mengetahui waktu salat, baik pada waktu matahari tidak kelihatan maupun pada waktu matahari bersinar di depannya, dia tidak perlu memeriksa matahari lagi, hanya dengan mudah saja dia melihat jamnya. Sekiranya waktu telah menunjukkan waktu yang dikehendakinya, dia terus azan dan iqamah, lalu salat.
Bagitulah amal yang telah dilakukan kaum muslimin diselurug dunia Islam. Tetapi sayang, di Indonesia ini kita setiap tahun selalu mendapat perbantahan umat islam dalam hari permulaan puasa dan penghabisannya. Sebagian berpendapat berpuasa itu cukup diketahui dengan hitungan sebagaimana amal yang berlaku pada waktu salat tadi, sedangkan salat ibadah yang terutama sekali diantara beberapa ibadah telah diketahui sahnya dengan menggunakan ilmu falak, karena dalam hadis diterangkan bahwa ketetapan mulai dan habisnya puasa itu adalahdengan melihat bulan. Mereka lupa bahwa waktu salat tadi juga ditetapkan dengan ukuran perjalanan matahari, bukan dengan jam yang senagaimana mereka amalkan dalam tiap-tiap salat mereka. Tetapi karena jam itu telah disesuaikan dengan nash syara’, maka kita tidak perlu lagi melihat matahari.
Beberapa pendapat tentang melihat bulan
Dalam hal ini timbul beberapa paham sebagai berikut :
1. Penduduk negeri yang tidak melihatnya tidaklah wajib puasa. Berarti melihat bulan dinegeri lain tidak mewajibkan puasa atas penduduk negeri yang tidak melihatnya.
2. Penduduk negeri yang tidak melihat bulan itu wajib puasa, apabila melihat bulan ditetapkan oleh imam mempunyai hak terhadap semua negeri yang diperintahnya.
3. Yang wajib puasa hanyalah penduduk negeri yang berdekatan dengan negeri-negeri yang melihat, sedangkan penduduk negeri yang jauh dari negeri tempat melihatnya tidak wajib puasa.
Mengenai ukuran jarak jauh-dekanya ada beberapa pendapat :
a. Yang dinamakan jauh adalah sama dengan perjalanan qasar.
b. Perbedaan hawa, panas, atau dinginnya negeri itu dibandingkan dengan negeri tempat melihat bulan.
c. Perbedaan mtali’ (terbit matahari). Pendapat inilah yang lebih dekat pada pengertian ilmiah.
4. Penduduk negeri yang pada kebiasaannya memungkinkan melihat sama dengan negeri yang melihat itu wajib puasa apabila tidak ada yang menghalanginya.
5. Apabila negeri itu berbeda tinggi atau rendahnya dengan negeri tempat melihat bulan, maka penduduknya tidak wajib puasa.

Syarat wajib puasa
1. Berakal
2. Baligh (umur 15 tahun ke atas)
3. Kuat berpuasa

Syarat sah puasa
1. Islam
2. Mumayiz (dapat membedakan yang baik dan tidak baik)
3. Suci dari darah haid dan nifas, orang yang haid atau nifas tidak wajib berpuasa tetapi wajib mengqada puasa yang tertinggal secukupnya.
4. Dalam waktu yang diperbolehkan berpuasa padanya. Dilarang puasa pada dua Hari Raya dan Hari Tasyriq.

Fardhu (rukun) puasa
1. Niat pada malamnya, yaitu setiap malam pada bulan Ramadhan. Yang dimaksud dengan malam puasa ialah malam sebelumnya. Kecuali puasa sunat, boleh berniat pada siang hari, asal sebelum zawal (matahari condong ke barat).
2. menahan diri dari segala yang mebatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Yang membatalkan puasa
1. Makan dan minum. Makan dan minum yang membatalkan puasa adalah apabila dilakukan dengan sengaja. Kalau tidak sengaja misalnya lupa, tidak membatalkan puasa. Memasukkan sesuatu ke dalam lubang yang ada pada badan, seperti lubang telinga, hidung dan sebagainya, menurut sebagian ulama sama dengan makan dan minum; artinya membatalkan puasa. Mereka mengambil alasan dengan qias, diqiaskan (disamakan) dengan makan dan minum. Ulama yang lain berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan karena tidak dapat diqiaskan dengan makan dan minum. Menurut pendapat yang kedua itu, kemasukan air sewaktu mandi tidak membatalkan puasa, bagitu juga memasukkan obat kedalam lubang badan selain mulut, suntik, dan sebagainya, tidak mematalkan puasa karena yang demikian tidak dinamakan makan dan minum.
2. Muntah yang disengaja, sekalipun tidak ada yng kembali kedalam. Muntah yang tidak disengaja tidaklah membatalkan puasa.
3. Bersetubuh. Laki-laki yang membatalkan puasanya dengan bersetubuh diwaktu siang hari di bulan Ramadhan, sedangkan dia berkewajibn puasa, maka ia wajib membayar kafarat. Kafarat ini ada tiga tingkat : (a) memerdekakan hamba, (b) (kalau tidak sangup memerdekakan hamba ) puasa dua bulan berturut-turut, (c) (kalau tidak kuat puasa) bersedekah dengan makanan yang mengenyangkan kepada enam puluh fakir miskin, tiap-tiap orang ¾ liter.
4. Keluar darah haid (kotoran) atau nifas (darah sehabis melahirkan).
5. Gila. Jika gila itu datang waktu siang hari, batallah puasa.
6. Keluar mani dengan sengaja (karena bersentuhan dengan perempuan atau lainnya). Karena keluar mani itu adalah puncak yang dituju orang pada persetubuhan, maka hukumnya disamakan dengan bersetubuh. Adapun keluar mani karena bermimpi, mengkhayal dan sebagainya, tidak membatalkan puasa.
Boleh berbuka
Orang-orang yang diperbolehkan berbka pada bulan Ramadhan adalah sebagai berikut :
1. Orang yang sakit apabila tidak kuasa berpuasa, atau apabila berpuasa maka sakitnya akan bertambah parah atau akan melambatkan sembuhnya menurut keterangan yang ahli dalam hal itu. Maka orang tersebut boleh berbuka, dan ia wajib mengqada apabila sudah sembuh, sedangkan waktunya adalah sehabis bulan puasa nanti.
2. Orang yang dalam perjalanan jauh (80,640 km) boleh berbuka, tetapi ia wajib mengqada puasa yang ditinggalkannya itu.
3. Orang tua yang sudah lemah, tidak kuat lagi berpuasa karena tuanya, atau karena memang lemah fisiknya, bukan karena tua. Maka ia boleh berbuka, dan ia wajib membayar fidyah (bersedekah) tiap hari ¾ liter beras yang sama dengan itu (makanan yang mengenyangkan) kepada fakir miskin.
4. Orang hamil dan orang yang menyusui anak. Kedua perempuan tersebut, kalau takut akan menjadi mudarat bagi dirinya sendiri atau beserta anaknya, boleh berbuka, dan mereka wajib mengqada sebagaimana orang sakit. Kalau keduanya keduanya hanya takut menimbulkan mudarat kepada anaknya (takut keguguran, atau kurang susu yang menyebabkan si anak kurus), maka keduanya boleh berbuka serta wajib qada dan wajib fidyah (memberi makan fakir miskin, tiap-tiap hari ¾ liter).

Sunat puasa
1. Menyegerakan berbuka apabila telah nyata dan yaki bahwa matahari sudah terbenam.
2. Berbuka dengan kurma, sesuatu yang manis, atau dengan air.
3. Berdoa sewaktu berbuka puasa.
4. Makan sahur sesudah tengah malam, dengan maksud supaya menambah kekuatan ketiks puasa.
5. men-takhirkan makan sahur sampai kira-kira 15 menit sebelum fajar
6.memberikan makanan untuk berbuka puasa kepada orang yangberpuasa,
7. Hendaklah membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya (belajar atau mengajar) karena mengikuti perbuatan Rasulullah Saw.

Puasa sunat
1. Puasa enam hari dalam bulan Syawal.
2. Puasa hari Arafah (tanggal 9 bulan Haji), kecuali orang yang sedang mengerjakan ibadah Haji, maka puasa ini tidak disunatkan baginya.
3. Puasa hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram).
4. Puasa bulan Sya’ban.
5. Puasa hari Senin dan Kamis.
6. Puasa tengah bulan (tanggal 13, 14, dan 15) dari tiap-tiap bulan qamariah (tahun Hijriah).

Hikmah (rahasia) puasa
1. Tanda terima kasih kepada Allah karena semua ibadah mengandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat pemberian-Nya yang tidak terbatas banyaknya, dan tidak ternilai harganya.
2. Didikan kepercayaan. Seseorang yang telah sanggup menahan makan dan minum dari harta yang halal kepunyaannya sendiri, karena ingat perintah Allah, sudah tentu ia tidak akan meninggalkan segala perintah Allah, dan tidak akan berani meninggalkan segala larangan-Nya.
3. Didikan perasaan belas kasihan terhadap fakir-miskin karena seseorang yang telah merasa sakit dan pedihnya perut keroncongan. Hal itu akan dapat mengukur kesedihan dan kesusahan orang yang sepanjang masa merasaka ngilunya perut yang kelaparan karena ketiadaan. Dengan demikian, akan timbul perasaan belas kasihan dan suka menolong fakir miskin.
4. Guna menjaga kesehatan.

DAFAR PUSTAKA
H. Sulaiman Rasjid, fiqih Islam, Bandung, Penerbit : PT. Sinar Baru Algesindo cetakan ke-39, 2006
http://www.google.co.id

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: