Awalbarri’s Blog

Desember 4, 2008

Pengertian Iman

Filed under: Uncategorized — awalbarri @ 8:06 am

Pengertian Iman

Iman itu ialah tasdiq (membenarkan). I’tiqad dengan hati kepada apa yang diketahui yang ianya daripada Deen Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW serta ikrar dengan lidah dan amal.

Tasdiq itu mestilah juga menerima serta ridha dengan semuanya, tidak ada ingkar dan perasaan ragu serta tidak menjuzuk-juzukkan kepercayaannya.

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman (pada hakikatnya) sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka berselisih dikalangan mereka, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keraguan terhadap apa-apa keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (Al-Hujurat: 15)

Iman dan amal merupakan dua perkara yang beriringan dan tidak berpisah walaupun berbeza dari segi takrif kerana amal itu adalah hasil daripada iman dan iman pula tidak sempurna tanpa amal. Lantaran itu Allah SWT menyebut iman beriringan dengan amal.

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah hanya mereka yang apabila disebut Allah terasa gerunlah hati mereka dan apabila dibaca kepada mereka ayat-ayat Allah, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan sahaja mereka bertawakkal. Mereka mendirikan sembahyang, berbelanja daripada apa yang Kami beri rezeki kepada mereka. Mereka itulah orang beriman dengan sebenarnya.” (Al-Anfaal: 2 – 4)

Berdasarkan kepada yang tersebut di atas maka pendapat Muktazilah yang menjadikan amal sebagai syarat iman adalah ditolak. Oleh kerana itu orang yang mengerjakan maksiat masih di anggap beriman selagi hatinya masih percaya dan tidak ada tanda-tanda ingkar.

Sementara itu, pendapat Murji’ah yang mengatakan bahawa iman itu tasdiq dengan hati dan ikrar sahaja dengan tidak payah beramalpun dikira salah kerana Allah SWT menyebut bahawa iman itu beriringan dengan amal.

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal soleh.” (al-Kahfi: 107)

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik).” (Al-An’aam: 82)

Pendapat Karaamiyyah yang mengatakan bahawa iman itu hanyalah ikrar dengan lidah sahaja dikira salah juga kerana firman Allah SWT:

Maksudnya:

“Orang-orang Arab Badwi berkata: ‘Kami telah beriman’, katakanlah kepada mereka. ‘Kamu belum beriman tetapi katakanlah, Kami telah Islam’. Kerana Iman itu belum masuk ke dalam hati mereka.” (Al-Hujurat: 14)

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

“Di antara manusia itu ada yang mengatakan, ‘Kami berimankepada Allah dan hari Kemudian’, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang beriman.” (Al-Baqarah: 8)

Juga, iman itu tidak sah jika apa yang di tasdiqkan itu tidak menepati syara’ seperti orang-orang yang beriman dengan taghut hatta walaupun dia beriman juga dengan Allah SWT.

Maksudnya:

Apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang diberikan bahagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembahselain daripada Allah dan taghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir bahawamereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah. Barangsiapa yang dilaknati oleh Allah nescaya kamu sekali-sekali tidak akanmemperolehi penolong baginya.” (An-Nisa’: 51 –52)

Firman Allah SWT:

Maksudnya:

Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut, pada hal mereka telah diperintah mengingkari taghut. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang jauh.” (An-Nisa’: 60)

RUKUN IMAN SECARA TAUHID dapat diuraikan sebagai berikut :
A. IMAN KEPADA ALLAH SWT.
Rukun iman yang pertama ialah iman kepada Allah SWT. Iman kepada Allah SWT adalah yang paling pokok dan mendasar seluruh ajaran islam, dan ia harus diyakinkan dengan ilmu yang pasti seperti ilmu yang terdapat dalam kalimat Syahadat “ Laa ilaha illallah “ . Ialah yang menjadi awal, inti , dan akhir dari seluruh seruan islam.
Qur’an sebagai sumber pokok ajaran islam telah memberikan pedoman kepada kita dalam mengenal allah SWT. Demikian pula dikemukakannya bukti – bukti yang pasti tentang kekuasaanNya bersama seluruh sifat keagunganNya. Bahwa Allah SWT. adalah zat yang Maha Suci, suci dari sifat yang serupa dengan alam. Ia tidak dapat diserupakan dalam bentuk apapun juga, maka anthropomorphisme tidak dikenal dalam islam. Ia juga tidak bersatu dengan makhlukNya, sebagaimana ia tidak bertempat pada sesuatu benda yangggg dijadikanNya, sebab itu pantheisme bertentangan dengan ajaran islam. Konsep Ketuhanan menurut Qur’an berdasar atas firman Allah SWT. yang terdapat dalam surat Al – Ikhlas ( 112 ) : 1 – 4
Artinya :
“ Katakanlah, Ia Allah Maha Esa. Allah – lah tempat sekalian makhluk bergantung. Tidak Ia beranak. Dan tidak ia peranakkan. Dan tidak ada siapapun yang setara denganNya.”
Untuk membuktikan wujud Allah, Qur’an menunjukkan suatu metode yaitu dengan menyelidiki kepada kejadian manusia dan alam semesta. Alam ini adalah bukti – bukti kebenaran dan wujud Allah SWT.
Filosuf Ibnu Rusyd ( 1126-1198 ) berkata : “ Untuk membuktikan wujud Allah itu ada dua ( 2 ) cara :
1. Dalil al – ‘inayah ( The proof of providence )
Kesimpulan dari dalil pertama ialah bahwa sesungguhNya kesempurnaan struktur susunan alam semesta ini menunjukkan adanya suatu tujuan tertentu pada alam. Dan tidaklah mungkin bahwa valam yang kita lihat itu, sempurna struktur kejadiannya adalah suatu barang yang wujudnya kebetulan, tapi pasti lelah ditentukan tujuannya.
2. Dalil al – ikhtira’ ( The proof of creation 0
Kesimpulan dari dalil kedua ialah bahwa semua yang kita lihat ini adalah makhluk- makhluk hidup, dimana manusia sangat lemah untuk dapat menciptakan walaupun seekor binatang kecil.
Qur’an selalu mendesak kepada manusia untuk memikirkan kejadian alam semesta dengan segala isinya. Betapa langit yang tak terbatas, perjalanan bintang- bintang dan planet yang serba teratur. Perputaran dan pergantian musim, angin yang berhembus dan yang bergerak tiada hentinya. Kemudian manusia disuruh menukikkan pandangannya ke bumi betapa ia telah dihamparkan penuh dengan serba ragam kekayaan, gunung – gunung yang mencakar langit, makhluk nabati dan hewani yang serba macam jenis telah diciptakan berjodoh – jodohan. dan akhirnya kepada diri manusia sendiri, betapa ia telah diciptakan dari setetes air mani, kemudian berbentuk segumpal darah, lalu menjadi sebentuk daging yang kemudian diberi kerangka dari tulang – tulang. Dari proses evolusi yang indah tapi unik itu akhirnya lahirlah menjadi manusia sempurna. tSemuanya adalah bukti tentang eksistensi dan keagungan SWT. Terdapat pada surat Ali Imran 190 – 191 :
Artinya :
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda – tanda bagi orang yang berakal yaitu orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ( seraya berkata : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia – sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari sikasa neraka ).
Menurut ajaran islam wujud itu ada dua ( 2 ), yaitu :
- Allah
Allah ialah Khalik, pencipta alam, dimana Ia sendiri tidak diciptakan. Eksistensi Allah adalah wajib, karena itu Ia adalah Wajibal Wujud, artinya adaNya adalah wajib. Allah bukan maddah dan materi, jadi Allah tidak memiliki persamaan dengan alam “Laisa kamislihi saiyun”.
- Alam
Alam ialah makhluk, diciptakan oleh Allah. Tentang eksistensinya adalah mungkin saja, artinya boleh ada dan boleh tiada sebab itu ia dinamakan Mumkinul Wujud. Nilai guna dari pengetahuan kita tentang keadaan dan sifat – sifat khas alam itu adalah bahwa segala yang berubah tidak kekal, pasti mati dan musnah. Allah SWT. Esa, Dia Esa dalam segala –galanya. Esa dalam zatNya, artinya tidak ada persamaanNya dari segala zat –zat yang kita kenal dalam ilmu fisika, Allah Maha Esa dalam sifat – sifatNya, sebagaimana sifat –sifat Allah yang terkenal dalam istilah “20 sifat” sifat duapuluh ”.
Dia Maha Esa dalam laku perbuatanNya. Dia maha Esa dalam WujudNya, artinya hanya Allah sajalah yang Wajibul Wujud, yang lainnya hanya Mumkinul Wujud. Dia Maha Esa dalam menerima ibadah, dalam manusia berdoa dan memohon menyampaikan maksud dan kehendaknya. Akhirnya Dia maha Esa dalam memberi hukum. Artinya Dialah yang satu- satunya pemberi hukum yang tertinggi, baik kepada alam semesta yang biasa dikenal yang dengan hukum alam ( law of nature ) maupun terhadap hidup dan kehidupan manusia yang disebut Syari’ah. Dia tidak bersyarikat dan tidak disyarikatkan.
Allah sebagai pencipta alam, mutlak sifatNya. Ia mengatasi ruang dan waktu, substansiNya, cara berpikir dan logikaNya bersifat mutlak pula, disebelah sifat keesaan. Oleh sebab itu, kita dilarang memikirkan hakekat zat tuhan seperti dalam sabda Nabi :
“ Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah dan jangan kamu berpikir tentang zatNya, niscaya kamu celaka. ”

B. IMAN KEPADA MALAIKAT
Iman kepada malaikat adalah masalah aqidah yang kedua sesudah iman kepada Allah SWT. malaikat diciptakan oleh allah dari sebuah Nur atau cahaya. Malaikat tidak seperti manusia yang dianugerahkan dengan akal pikiran dan nafsu sedangkan malaikat hanya dianugerahkan dengan akal pikiran. Para malaikat termasuk persoalan alam gaib, tidak bersifat materiil namiun sebagian tabiatnya bahwa ia dapat menjelma kea lam materiil. Kirta wajib beriman kepada para malikat oleh karena Qur’an dan Nabi memerintahkannya, sebagaimana wajibnya beriman kepada Allah dan para NabiNya.
Tegasnya bahwa malaikat adalah makhluk gaib yang tidak dapat manisia mengenal hakekatnya. Hanya iman kita yang menetapkan bahwa Malaikat itu ada, sebab Allah dengan perantaraan Qur’an dan Nabi menerangkan tentang adanya dan tentang sebagian sifat – sifatnya. Tentang sifat – sifat Malaikat, Qur’an menerangkan bahwa mereka adalah hamba Allah yang mulia, tidak pernah durhaka, tidak pernah mas’rat dan tidak pernah menentang perintah Allah. Mereka butuh makan dan minum, selalu taat terhadap segala perintah Allah yang diamanatkan kepadanya. Hal itu dijelaskan Allah SWT. dalam Surat Al – Anbiya’ ( 21 ) : 26 – 27.
Artinya :
“( Malaikat ) adalah hamba – hamba Allah yang terhormat. Tiadalah mereka mendahului dengan sesuatu perkataan pun dan mereka itu mengerjakan perintahNya. ”
Namun apabila didalam Qur’an ada keterangan yang menerangkan bahwa Malaikat itu bersayap, maka hendaklah pemahaman kita itu tidak bersifat materiil, yakni sayap yang dinilikinya tidak menyerupai sayap burung, bukan dari tulang – tulang daging dan bulu. Itu sebab itu adalah suatu kesalahan yang besar bagi mereka yang melukis dan menggambar – gambar Malaikat itu.
Selanjutnya Qur’an menerangkan juga beberapa tugas para malaikat, tugas yang berhubungan dengan jiwa dan roh, yang mana dengan tugas – tugas itu mereka melaksanakan iradat Allah terhadap MakhlukNya. Di antara mereka ada yang bertugas menyampaikan wahyu – wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul, seperti tugas Jibril a.s. kemudian ada yang bertugas mengurusi rezki para makhluk; ada yang bertugas mencatat amal perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk; dan ada yang mengurus pencabutan roh manusia.
Iman kepada malaikat sangat besar nilainya dalam hidup dan kehidupan sebagai manusia, yang selalu penuh dengan berbagai macam persoalan. Maka seorang muslim haruslah selalu optimis, tidak boleh ragu dan gentar dalam menghadapi masalah apa saja, baik di kala seorang diri sebatang kara maupun di waktu bersama – sama karena ada iman bahwa Allah mempunyai petugas-petugas bernama Malaikat yang selalu siap memberikan bantuan dan pertolongannya. Terdapat dalam suratAl – Anfal ( 8 ) : 12.
Artinya :
“ Ingatlah tatkala Tuhanmu mewahyukan kepada Malaikat bahwsanya Aku beserta kamu maka tetapkanlah oleh kamu hati orang – orang mukmin itu. ”
Menurut ilmu pengetahuan manusia kini, bahwa di jagat raya, cahaya adalah ukuran kecepatan mutlak, mempunyai kecepatan 300.000 kilometer per – seconde. Melihat betapa luasnya jagat raya dan tugas –tugas Malaikat antara lain mengurus alam semesta dan menyampaikan perintah tuhan kepada makhluknya, maka pastilah bahwa dengan kudrat dan iradat Allah, Malaikat mempunyai kekuatan dan kecepatan mutlak

C. IMAN KEPADA PARA RASUL
Rasul adalah seorang laki – laki yang menerima wahyu yang selain untuk dirinya sendiri, juga berkewajiban menyampaikan kepada orang lain. Karena itulah iman kepada para Rasul berarti mempercayai bahwa Allah telah memilih diantara manusia menjadi utusan – utusanNya dengan tugas risalah kepada manusia sebagai hamba – hamba Allah dengan wahyu yang diterimanya dari Allah SWT. untuk memimpin manusia ke jalan yang lurus dan untuk keselamatan dunia dan akhirat.
Semua Rasul yang pernah diutus Allah sepanjang sejarah manusia. Sesunguhnya mereka adalah manusia – manusia biasa juga. Selaku manusia, maka mereka memiliki sifat – sifat kemanusiaan yang umum seperti : makan, minum, tidur, berumah – tangga, kawin , hidup dan bergaul dalam masyarakat, kemudian mati. Selanjutnya mereka pum berkata – kata dan berbicara menurut bahasa dari bangsa atau ummat dimana mereka diutus. Artinya, tidak pernah Allah mengutus seorang Rasul kepada manusia dari jenis Malaikat atau dari bangsa jin, bahkan tidak pernah Rasul – rasul dahulu sebelum Muhammad s.a.w. diutus bukan kepada bangsa atau sukunya sendiri. Hanya saja bahwa para Rasul itu diberikan sifat – sifat khas, merupakan keistimewaan mereka melebihi dari pada manusia biasa.
Firman Allah SWT. dalam surat An – Nahl ( 16 ) : 43
Artinya :
“ Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang orang laki – laki yang Kami beri wahyu kepada mereka ; karena itu bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. ”
Firman Allah SWT. dalam surat Al- Anbiya’ ( 21 ) : 8
Artinya :
“ Tidaklah kami jadikan para Rasul itu tubuh –tubuh yang tiada memakan dan bukan pula mereka itu kekal abadi ( tidak mati ). ”
Para Rasul hakekatnya adalah rahmat Ilahy yang dianugerahkan kepada manusia. Maka sepanjang sejarahmanusia dan dari segala bangsa, tuhan telah pernah mengutus Rasul untuk memimpin manusia ke jalan yang benar. Qur’an menegaskan : “ Tudak ada satu ummat pun di bumi ini melainkan telah ada orang – orang yang memberi peringatan kepada mereka.”
Dari satu generasi manusia ke generasi selanjutnya, Tuhan mengirim Rasul – rasul hingga yang terakhir Muhammad s.a.w. Para Rasul itu saling membenarkan satu dengan yang lain, saling hormat – menghormati atas dasar kesamaan risalah. Maka kita tidak boleh mengingkari seorang pun dari Rasul – rasul itu. Pengingkaran kepada seorang Rasul, samna dengan pengingkaran kepada mereka seluruhnya.
Para Rasul memiliki empat sifat keistimewaan yang merupakan kelebihan mereka dari manusi lainnya dikenal dengan istilah : Sifat – sifat wajib.
a. Siddiq ( benar )
Seorang Rasul mustahil khianat, baik mengkhianati manusia lebih – lebih mengkhianati Tuhan. Dia wajib menunaikan amanat yang dibebankan kepadanya, berlaku jujur. Sekalipun harus ditebus dengan jiwa raganya.
b. Amanah ( dapat dipercaya )
Seorang Rasul mustahil khianat, baik mengkhianati manusia lebih – lebih mengkhianati Tuhan. Dia wajib menunaikan amanat yang dibebankan kepada nya, berlaku jujur, sekalipun harus ditebus dengan jiwa raganya.
c. Tablig ( menyampaikan wahyu )
Seorang Rasul mustahil menyembunyikan sesuatu tentang apa yang telah diwahyukan Tuhan kepadanya. Segala perintah atau larangan Tuhan yang diterimanya sebagai wahyu harus disampaikannya kepada manusia, baik itu pahit atau dianggap membahayakan dirinya, yang benar wajib disampaikannya.
d. Fatanah ( kecerdasan )
Seorang Rasul mustahil seorang yang bodoh atau lemah akal, akan tetapi dia wajib memiliki kekuatan berpikir dan kemampuan rasio yangggg tinggi. Sebagai seoranggg utusan Tuhan tentu sifat kecerdasan wajib dia miliki dalam mengemukakan keterangan – keterangan dengan argumentasi yang jitu sehingga manusia dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan dan diajarkannya.
Dari sekian banyak sifat – sifat khas seorang Rasul Allah, yang paling essensil yang menjadi bkti kerasulannya ialah mu’jizat. Mu’jizat adalah keluarbiasaan atau perbuatan ajaib ( miracle ) seorang Rasul, menyalahi kebiasaan. Ia tak dapat ditiru dan ditandingi oleh manusia biasa.
Mu’jizat memiliki dua ( 2 ) fungsi pokok, yaitu :
- Sebagai bukti bahwa orang yang memilikinya adalah benar – benar utusan Allah s.w.t.
- Sebagai senjata untuk menghadapi musuh – musuh yang menentangnya.
Mu,jizat dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu :
1. Mu’jizat Kauniyah adalah mu’jizat yang berkaitan dengan peristiwa alam, seperti dibelahnya bulan menjadi dua oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan dibelahnya Laut Merah oleh Nabi Musa a.s. dengan tongkat.
2. Mu’jizat Syaksiyyah adalah mu’jizat yang keluar dari tubuh seorang nabi atau rasul.
3. Mu’jizat Salbiyah adalah mu’jizat yang membuat sesuatu yang tidak berdaya, seperti ketika Nabi Ibrahim a.s. dibakar oleh Raja Namrud. Akan tetapi, api itu tidak mampu membakarnya.
4. Mu’jizat ‘Aqliyah adalah mu’jizat yang rasional atau masuk akal. Contoh satu – satunya adalah Al – Qur’an.

Kehadiran para Rasul sangat diperlukan umat manusia karena memiliki beberapa fungsi berikut ini :
 Rasul menjelaskan kepada umat manusia tentang cara – cara beribadah kepada Allah SWT.
 Rasul menerangkan kepada umnat manusia tentang benar dan salah serta halal haram agar mereka selamat di dunia dan di akhirat.
 Rasul menjadikan dirinya suci teladan bagi umat manusia, baik sebagai pribadi maupun pemimpin.

D. IMAN KEPADA KITAB KITAB ALLAH SWT.
Iman kepada para Malaikat dan para Rasul merupakan dua unsure iman yang saling berkaitan. Keduanya adalah dua ujung dari jalan risalah Tuhan kepada manusia dan makhlukNya. Malaikat adalah unsur pembawa risalah Tuhan kepada Rasul sebagai penerima itu yang kemudian menjadi hidayah dan rahmat bagi manusia.
Risalah Tuhan itu ialah wahyu – wahyu Allah kepada para rasul yang diutus kepada setiap bangsa dan ummat manusia sepanjang sejarah. Rasul – rasul yang menerima wahyu – wahyu itu adalah manusia – manusia pilihan Tuhan di antar bklompok – kelompok manusia yang memiliki ciri – ciri khas dan karakteristik dalam segi- segi rohaniah dan jasmaniah. Wahyu – wahyu yang diterima oleh para Rasul itulah yang dinamai “ Shuhuf ” atau “ Kitab”. Setiap Rasul yang diutus Tuhan kepada manusia, dipersenjatai dengan kitab. Kitab itulah yang menjadi pedoman memimpin baginya, dan kitab itulah menjadi kamus atau undang – undang buat manusia.
Maka kita wajib beriman kepada kitab – kitab Tuhan, menjadi salah satu dari Rukun Iman. Wajib beriman kepada kitab – kitab Allah yang pernah diturunkan kepada para RasulNya; sebagaimana sistem iman kepada Rasul, maka pengingkaran terhadap salah satu kitab Allah, sama artinya pengingkaran terhadap seluruh kitab Allah. Dan mengingkari Kitab Allah, sama pula artinya mengingkari kepada para Rasul, para Malaikat dan kepada Allah sendiri. Dengan demikian sangat berat akibatnya bagi seseorang atau sesuatu ummat yang mengingkari salah satu dari kitab – kitab Allah itu. Sebab itulah kita wajib beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Nabi. Taurat yang diturunkanNya kepada Nabi Musa, Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud, Injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa dan yang terakhir Kitab AlQur’an yang dinuzulkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Banana Smoothie Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: